Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Selasa, 29 JULI 2025 • 20:10 WIB

Peluang dan Tantangan Jika Seluruh Reporter Gunakan Bahasa Banjar

Peluang dan Tantangan Jika Seluruh Reporter Gunakan Bahasa BanjarSeseorang sedang melihat ponselnya (Pinterest/Freepik)

Di era digital yang serba cepat, bahasa daerah seringkali terpinggirkan oleh dominasi bahasa nasional dan global. Namun, bagaimana jika seluruh reporter di Indonesia—mulai dari televisi hingga media daring—menggunakan Bahasa Banjar dalam setiap laporannya? Bukan sekadar wacana, gagasan ini justru membuka peluang unik bagi pelestarian budaya sekaligus penguatan identitas lokal di tengah arus globalisasi.  

Bahasa Banjar, dengan dua dialek utama (Kuala dan Hulu), telah lama menjadi bagian tak terpisahkan dari masyarakat Kalimantan Selatan. Dahulu, bahasa ini ditulis menggunakan aksara Arab gundul, terutama dalam naskah-naskah keagamaan dan sastra lisan yang sarat makna.

Baca juga: Bahasa Banjar yang Terbagi Dua Dialek Dengan Kaunikannya, Mari Kenali Lebih Dalam!

Kini, meski penggunaannya di media arus utama masih terbatas, Bahasa Banjar tetap hidup di ruang digital—mulai dari komentar di media sosial hingga konten kreatif di YouTube.  

Peluang di Media Digital  
Analisis menunjukkan bahwa Bahasa Banjar memiliki kehadiran yang stabil di dunia maya, meski dalam skala kecil. Partikel khas seperti "kan", "lah", atau "ma" sering muncul di platform seperti Instagram dan YouTube, menunjukkan bahwa generasi muda tetap menggunakan bahasa ini dalam interaksi sehari-hari.

Bahkan, beberapa kanal lokal seperti "Banjarmasin Kini" berhasil meningkatkan watch-time hingga 25% dengan menyajikan konten berbahasa Banjar dilengkapi subtitle Bahasa Indonesia.  

Ini membuktikan bahwa audiens lokal merespons positif konten berbahasa daerah. Jika media massa mau mengadopsi pendekatan serupa—misalnya dengan menyajikan berita dalam Bahasa Banjar disertai terjemahan—bukan tidak mungkin engagement pemirsa akan semakin menguat.  

Tantangan yang Perlu Diantisipasi  
Meski menjanjikan, penerapan Bahasa Banjar secara luas dalam jurnalistik tidak lepas dari kendala. Salah satunya adalah belum adanya standar ejaan resmi untuk media massa, yang berpotensi menimbulkan kebingungan. Selain itu, jangkauan pemirsa non-Banjar juga perlu dipertimbangkan—solusi seperti glosarium atau subtitle dwibahasa bisa menjadi jawaban.  

Langkah Nyata untuk Media yang Mau Mencoba  
Bagi redaksi yang tertarik mengimplementasikan ide ini, beberapa rekomendasi praktis dapat dijalankan:  

  1. Membuat pedoman ejaan dan glosarium bersama pakar bahasa dan jurnalis lokal.  
  2. Menyelenggarakan pelatihan untuk reporter, termasuk teknik penulisan naskah dan voice-over dalam dialek Banjar yang berbeda.  
  3. Memanfaatkan teknologi, seperti plugin CMS yang menyediakan terjemahan otomatis atau fitur subtitle generatif.  

Baca juga: Mengenal Bahasa Banjar Dengan Kosakata Sehari-hari dan Keunikannya

Contoh Penerapan dalam Berita  
Bayangkan sebuah laporan tentang Pasar Terapung Banjarmasin yang disampaikan sepenuhnya dalam Bahasa Banjar:  

"Pasar terapang barantai dimulai jam tujuh pagi, maih ramai ikan, sayur, jua kerajinan lokal..."  
Dengan sentuhan lokal yang kental, berita seperti ini tidak hanya informatif tetapi juga lebih relatable bagi masyarakat setempat.  

Jika dijalankan dengan serius, penggunaan Bahasa Banjar dalam jurnalistik bukan sekadar upaya pelestarian, melainkan juga strategi untuk memperkuat ikatan emosional dengan audiens. Lebih dari itu, kesuksesan model ini bisa menginspirasi bahasa daerah lain di Indonesia untuk mengikuti jejak serupa—menjadikan khazanah linguistik Nusantara semakin hidup di ruang publik.  

Dengan pendekatan yang tepat, impian melihat Bahasa Banjar mendominasi pemberitaan mungkin bukan lagi sekadar khayalan, melainkan sebuah realitas yang bisa diwujudkan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Wikipedia, Research Gate, Jurnal Distribusi Partikel Bahasa Banjar Di Media Digital

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Peluang dan Tantangan Jika Seluruh Reporter Gunakan Bahasa Banjar

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!