Siring P. Tendean di Banjarmasin (Pinterest/Aurora)
INDOZONE.ID - Bahasa Banjar merupakan salah satu kekayaan linguistik Indonesia yang dituturkan oleh Suku Banjar di Kalimantan Selatan serta komunitas perantauannya di Sumatra dan Malaysia. Sebagai bagian dari rumpun bahasa Melayu dalam keluarga Austronesia, bahasa ini memiliki dua dialek utama yang menarik untuk dikaji, Banjar Hulu dan Banjar Kuala. Perbedaan keduanya tidak hanya terletak pada pengucapan, tetapi juga dalam kosakata, sejarah, dan identitas budaya penuturnya.
Bahasa Banjar berkembang dari Melayu Kuno yang dipengaruhi oleh interaksi dengan budaya Dayak dan Jawa. Menurut catatan sejarah, dialek Hulu terkait dengan Kerajaan Negara Daha, sebuah kerajaan Hindu di pedalaman Kalimantan Selatan. Sementara itu, dialek Kuala muncul seiring berdirinya Kesultanan Banjar pada abad ke-16, yang berpusat di Banjarmasin dan lebih terbuka terhadap pengaruh Melayu serta Islam .
Perbedaan geografis turut membentuk kedua dialek ini. Komunitas Banjar Hulu, yang tinggal di daerah hulu sungai (seperti Hulu Sungai Selatan, Tapin, dan Tabalong), cenderung mempertahankan kosakata arkais dan pengaruh bahasa Dayak. Sementara itu, penutur Banjar Kuala—yang bermukim di pesisir seperti Banjarmasin dan Barito Kuala—lebih banyak menyerap kosakata Melayu akibat intensitas perdagangan dan interaksi budaya .
Salah satu perbedaan paling mencolok antara kedua dialek terletak pada sistem vokal:
- Banjar Hulu hanya mengenal tiga vokal dasar: /a/, /i/, /u/.
- Banjar Kuala memiliki lima vokal: /a/, /i/, /u/, /e/, /o/.
Akibatnya, kata seperti "orang" dalam dialek Hulu diucapkan "urang", sementara di Kuala tetap mendekati pengucapan Melayu standar. Selain itu, intonasi Banjar Hulu cenderung lebih tegas dan pendek, sedangkan Banjar Kuala lebih datar dan lembut .
Perbedaan kosakata juga cukup signifikan. Misalnya:
Baca juga: Mengenal Nama Suku di Kalimantan Selatan: Pesona Budaya Banjar dan Dayak
Meski berbeda, penutur kedua dialek masih dapat saling memahami karena struktur kalimatnya serupa (S-P-O) .
Dimensi Sosiolinguistik dan Pelestarian
Secara sosiolinguistik, dialek Banjar Hulu sering dikaitkan dengan masyarakat agraris pedalaman, sementara Banjar Kuala identik dengan budaya urban pesisir. Meski demikian, kedua varian ini tetap menjadi penanda identitas budaya yang kuat bagi Suku Banjar.
Upaya pelestarian bahasa Banjar terus dilakukan, salah satunya melalui kamus dan program revitalisasi bahasa daerah oleh Badan Bahasa. Selain itu, bahasa ini juga digunakan dalam media lokal, sastra, dan bahkan aplikasi digital untuk memastikan keberlangsungannya di era modern.
Bahasa Banjar dengan dua dialek utamanya—Hulu dan Kuala—merupakan cerminan keragaman budaya dan sejarah Kalimantan Selatan. Perbedaan fonologi, kosakata, dan latar belakang historisnya justru memperkaya khazanah linguistik Indonesia. Dengan memahami keunikan ini, kita turut berkontribusi dalam melestarikan warisan bahasa yang tak ternilai.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Wikipedia, Webonary, Omniglot