Kepulangan jamaah haji ke Tanah Air selalu menyisakan cerita yang mendalam. Di antara ribuan kisah spiritual yang tercipta di Tanah Suci, ada satu cerita kemanusiaan yang begitu menyentuh hati di Gedung Marwah Debarkasi Haji Banjarmasin. Kisah ini datang dari Nenek Hj. Hayya, seorang jamaah haji lansia berusia 84 tahun asal Desa Kampung Baru, Kecamatan Kusan Hilir, Kabupaten Tanah Bumbu.
Senyum bahagia langsung merekah di wajah senjanya yang mulai berkerut. Mata perempuan lanjut usia itu tampak berkaca-kaca ketika satu per satu boneka unta yang selama ini hanya menjadi angan-angannya diserahkan langsung kepadanya. Tidak tanggung-tanggung, sebanyak 13 boneka unta—sesuai dengan jumlah cucu tercintanya—beserta beberapa bingkisan makanan khas Arab Saudi diberikan langsung oleh Anggota DPR RI Komisi VIII, H. Sudian Noor.
Wujud Penghormatan untuk Jamaah Haji Lansia
Bagi H. Sudian Noor, hadiah tersebut bukan sekadar buah tangan biasa. Pemberian ini merupakan bentuk penghormatan dan apresiasi tertinggi kepada seorang ibu yang telah berjuang luar biasa menunaikan rukun Islam kelima di usia senja, bahkan tanpa pendamping keluarga.
Momen penuh kehangatan itu disaksikan langsung oleh para petugas dan jamaah haji lainnya yang turut merasakan kebahagiaan sang nenek. H. Sudian Noor berharap agar boneka-boneka ini bisa menjadi oleh-oleh yang membahagiakan cucu-cucu Nenek Hayya di kampung halaman. Beliau juga mendoakan agar Nenek Hayya kembali ke Tanah Air dengan selamat dan memperoleh predikat haji yang mabrur.
Nenek Hayya sendiri tidak mampu menyembunyikan rasa harunya. Dengan suara yang bergetar menahan tangis bahagia, ia berkali-kali mengucapkan syukur dan terima kasih atas perhatian spontan yang diterimanya. Menggunakan Bahasa Bugis, ia mengaku sama sekali tidak menyangka ada orang yang begitu peduli dengan keinginan sederhananya untuk membagikan oleh-oleh kepada seluruh cucunya.
Fisik Kuat dan Rajin Beribadah di Tanah Suci
Cerita luar biasa tentang Nenek Hayya tidak berhenti di situ. Hj. Siti Rohani, rekan sekamar Nenek Hayya selama di Tanah Suci yang berasal dari Desa Batuah, Pagatan, mengungkapkan kesaksiannya. Menurut Siti Rohani, selama menjalankan seluruh rangkaian prosesi ibadah haji yang menguras fisik, Nenek Hayya dikenal sebagai sosok yang sangat menjaga kebersihan, rajin beribadah, dan hebatnya tidak pernah mengeluhkan sakit sama sekali.
Siti Rohani yang berangkat bersama putrinya juga mengaku ikut bahagia melihat Nenek Hayya mendapatkan berkah tersebut. Bagi para jamaah lansia, bisa pulang ke Tanah Air dalam kondisi sehat dan selamat sebenarnya sudah menjadi kesyukuran yang luar biasa. Banyak di antara mereka yang terpaksa menahan keinginan membawa banyak oleh-oleh karena keterbatasan fisik untuk membawanya selama perjalanan panjang.
Ketulusan Kasih Sayang Seorang Nenek
Kisah Nenek Hayya menjadi potret nyata tentang ketulusan kasih sayang seorang nenek yang lebih memikirkan kebahagiaan cucunya dibanding dirinya sendiri. Keinginan membawa boneka unta sebenarnya bukan karena kendala biaya, melainkan rasa khawatir fisiknya tidak akan sanggup membawa barang bawaan yang berat.
Perhatian nyata dari H. Sudian Noor ini menjadi pengingat berharga bahwa ibadah haji tidak hanya menghadirkan kedekatan spiritual dengan Sang Pencipta, tetapi juga memicu aksi-aksi kemanusiaan yang melembutkan hati. Di tengah padatnya prosesi pemulangan jamaah, kepedulian seorang wakil rakyat yang mau mendengar dan mewujudkan harapan kecil seorang lansia telah menghadirkan kebahagiaan yang tidak ternilai harganya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Https://kalsel.haji.go.id/