Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Selasa, 29 JULI 2025 • 19:56 WIB

Melintasi Nadi Kehidupan: Perjalanan Imajinatif dari Hulu ke Pesisir

Melintasi Nadi Kehidupan: Perjalanan Imajinatif dari Hulu ke PesisirGambar sebuah aliran sungai (Pinterest/borhanudin mansor)

Air adalah penjelajah ulung. Ia memulai petualangannya di puncak-puncak sunyi, menyusuri lembah-lembah manusia, dan beristirahat di pangkuan laut. Mengikuti alirannya berarti menyelami denyut nadi kehidupan yang menghubungkan gunung, sungai, dan laut dalam satu kesatuan utuh: Daerah Aliran Sungai (DAS).  

Apa Itu DAS: Supermarket Air yang Menghidupi
DAS bukan sekadar kumpulan sungai. Ia adalah wilayah daratan yang dibatasi punggung bukit, di mana air hujan ditampung, disimpan, dan dialirkan melalui anak-anak sungai menuju laut. Setiap tetes air yang jatuh di dalamnya akan berakhir di titik yang sama—seperti darah yang mengalir dalam pembuluh. Batas daratnya ditentukan oleh topografi, sementara batas lautnya mencakup zona perairan yang masih dipengaruhi aliran sungai.  

Zona Hulu: Benteng Konservasi di Puncak Dunia
Perjalanan dimulai di ketinggian lebih dari 500 mdpl, di mana udara sejuk dan lereng terjal (lebih dari 15%) menjadi penjaga pertama. Di sini, hutan hujan tropis merajalela: meranti dan keruing menjulang seperti pilar katedral alam, sementara semak bawah menahan gempuran hujan.  

Baca juga: Tidak Bisa Ditemui di Tempat Lain! Inilah 9 Hewan Endemik Pulau Kalimantan

Satwa endemik seperti berang-berang cakar kecil (Aonyx cinereus) atau buaya sinyulong (Tomistoma schlegelii) hidup dalam kesunyian. Mereka adalah penjaga keseimbangan—pemangsa yang mengontrol populasi ikan dan menjaga rantai makanan tetap utuh. Fungsi ekologisnya vital: akarnya menyerap air seperti spons, mencegah erosi, dan menjamin kualitas air untuk wilayah hilir.  

Zona Tengah: Lembah Kehidupan Manusia
Aliran sungai melambat saat memasuki lereng landai (8-15%). Meander mulai terbentuk, batu-batuan kasar berganti sedimen halus. Manusia hadir dengan sawah, irigasi, dan permukiman. Suara becak air dan perahu nelayan menggantikan kicau burung.  

Vegetasi riparian—trembesi, andong (Cordyline fruticosa)—berjajar di tepian, menahan banjir sekaligus menyediakan naungan. Di Sungai Mahakam, zona ini menjadi surga biodiversitas: 298 jenis burung, 24 mamalia, dan Pesut Mahakam (Orcaella brevirostris) yang langka. Danau Semayang, Melintang, dan Jempang berperan sebagai penyangga banjir alami, mengatur debit air saat hujan lebat.  

Zona Hilir & Pesisir: Pertemuan Air Tawar dan Laut 
Medan semakin datar (kurang dari 8%). Sedimen menumpuk membentuk delta dan dataran banjir. Air tawar bercampur air laut menciptakan ekosistem estuaria yang unik. Hutan mangrove (Rhizophora, Avicennia) menjadi benteng terakhir—akarnya yang kokoh menahan abrasi, sementara daunnya menjadi nursery ground bagi udang dan ikan.  

Nelayan tradisional menggarap tambak, industri garam berjejer di pesisir, dan deburan ombak menemani aktivitas pariwisata. Namun, zona ini juga paling rentan: banjir rob, sedimentasi berlebihan, dan intrusi air laut mengancam keberlanjutannya.  

Skema Perjalanan Imajinatif: Menyusuri Sungai Seperti Darah dalam Nadi 

1. Mata Air di Puncak (Hulu):  
Bayangkan diri Anda sebagai setetes air yang terlepas dari mata sungai. Suhu dingin menyentuh kulit. Di sekeliling, kabut menyelimuti kanopi hutan. Suara owa jawa bergema—pertanda alam masih perawan.  

2. Jeram di Lereng Terjal (Hulu-Tengah):  
Aliran deras membawa Anda melewati batu granit. Pohon rasamala (Altingia excelsa) menggapai dari tebing. Jejak macan dahan terlihat di lumpur—pengingat bahwa manusia bukan penguasa tunggal.  

3. Meander di Lembah Subur (Tengah):  
Sungai melebar. Sawah hijau terbentang di kiri-kanan. Seorang petani sedang membenahi pematik. Di kedalaman, sekawanan pesut muncul sesaat—paru-paru abu-abunya menyemburkan kabar optimisme.  

Baca juga: Mengenal Flora dan Fauna Sungai Barito yang Jadi Surga Keanekaragaman Hayati di Kalimantan

4. Tarian Mangrove (Hilir):  
Air mulai payau. Akar tunjang mangrove mencuat seperti patung alam. Kepiting bakau berlarian di lumpur. Bau garam mulai kuat—laut sudah dekat.  

5. Muara: Persembahan untuk Laut (Pesisir):  
Perahu nelayan mengapung di kejauhan. Delta sungai bercabang-cabang seperti urat nadi. Debur ombak menyambut. Perjalanan berakhir, tetapi siklus baru akan dimulai: air menguap, menjadi awan, dan kembali ke gunung.  

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Dinas Lingkungan Hidup Kab. Buleleng, Jurnal Biodiversity Sungai Mahakam, Kompas Lestari

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Melintasi Nadi Kehidupan: Perjalanan Imajinatif dari Hulu ke Pesisir

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!