Langkah Nyata Disdikbud Kalsel Hidupkan Memori Kolektif Banua di Era Digital
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Provinsi Kalimantan Selatan sukses menggelar perhelatan tahunan Sepekan Cinta Museum 2026. Acara yang berlangsung meriah sejak 28 Juni 2026 ini resmi ditutup pada Sabtu (4/7/2026) di Museum Lambung Mangkurat, Banjarbaru. Penutupan agenda ini dipimpin langsung oleh Kepala Disdikbud Provinsi Kalimantan Selatan, Abdul Rahim, dan dihadiri oleh berbagai elemen masyarakat yang antusias.
Sebagai bentuk apresiasi terhadap pelestarian tradisi, Abdul Rahim menyerahkan piala penghargaan secara langsung kepada para pemenang kompetisi. Ragam perlombaan yang sukses mencuri perhatian masyarakat ini meliputi lomba mewarnai tingkat PAUD, lomba permainan tradisional bagasing, lomba menyanyi lagu Banjar, hingga lomba tari kreasi tradisional. Kehadiran kompetisi ini menjadi bukti nyata bahwa seni dan permainan lokal masih memiliki tempat di hati masyarakat.
Menjadikan Museum sebagai Pusat Edukasi Inovatif dan Inklusif
Dalam pidato penutupannya, Abdul Rahim menggarisbawahi bahwa posisi museum di era modern tidak boleh sekadar menjadi tempat penyimpanan benda kuno yang sunyi. Di tengah gempuran globalisasi dan modernisasi yang begitu deras, museum memegang peran krusial sebagai benteng pertahanan sejarah dan budaya lokal.
Oleh karena itu, transformasi internal mutlak diperlukan agar museum tetap relevan dan memikat. Museum harus berani keluar dari zona nyaman untuk menjelma menjadi ruang belajar yang dinamis, inklusif, dan adaptif terhadap perkembangan zaman.
“Di tengah pesatnya arus globalisasi, museum harus bertransformasi menjadi ruang belajar yang inovatif, inklusif, dan menarik bagi masyarakat, khususnya generasi muda,” tegas Abdul Rahim.
Ia juga menambahkan bahwa inisiasi Sepekan Cinta Museum bukan hanya rutinitas seremonial tahunan demi menggugurkan kewajiban. Agenda ini dirancang sebagai pemantik komitmen jangka panjang dalam memupuk rasa kepemilikan masyarakat terhadap warisan leluhur. Dengan mengenal akar budayanya, karakter dan jati diri masyarakat Banua diharapkan akan semakin kokoh dari generasi ke generasi.
Menanamkan Cinta Budaya Lewat Aktivitas yang Menyenangkan
Sepanjang satu minggu pelaksanaannya, area Museum Lambung Mangkurat dipadati oleh pengunjung dari berbagai kalangan. Respons positif dan antusiasme yang tinggi dari para peserta memperlihatkan sebuah formula baru dalam edukasi publik: merawat tradisi tidak harus kaku. Pendekatan yang menyenangkan, kompetitif, namun tetap edukatif terbukti jauh lebih efektif dalam menyerap perhatian masyarakat luas.
Menurut Abdul Rahim, tingginya partisipasi aktif anak-anak dan remaja dalam lomba tradisional menjadi sinyal positif. Hal ini membuktikan bahwa anak muda sebenarnya tidak acuh terhadap budaya mereka, asalkan media penyampaiannya dikemas secara kreatif dan interaktif. Keterlibatan mereka dalam kompetisi ini dinilai sebagai investasi berharga untuk masa depan kebudayaan Kalimantan Selatan.
Menatap masa depan, Disdikbud Kalimantan Selatan berjanji tidak akan berhenti sampai di sini. Pihaknya siap merancang berbagai terobosan baru demi mendongkrak minat literasi budaya masyarakat. Target utamanya tetap pada penguatan keterlibatan anak-anak usia dini dan remaja agar mereka tidak asing dengan identitas lokal di tengah masifnya tren digitalisasi global.
Sinergi Lintas Sektor dan Rencana Ekspansi Tahun Depan
Keberlanjutan museum sebagai episentrum kebudayaan tentu tidak bisa ditumpang di atas pundak satu instansi saja. Perlu ada kerja sama yang solid antara jajaran pemerintah, lembaga adat dan kebudayaan, institusi pendidikan, hingga masyarakat umum. Sinergi ini krusial untuk menciptakan ekosistem kebudayaan yang hidup dan berdampak nyata bagi pembangunan sumber daya manusia yang berkarakter.
Gayung bersambut, Kepala UPTD Museum Lambung Mangkurat, Ady Surya, menyatakan kesiapannya untuk meningkatkan standar penyelenggaraan Sepekan Cinta Museum pada periode mendatang. Salah satu rencana taktis yang akan diadopsi adalah memperluas segmentasi peserta berdasarkan klasifikasi usia yang lebih spesifik.
Dengan membagi kategori lomba mulai dari usia dini (PAUD), anak-anak, remaja, dewasa, hingga kategori umum, diharapkan jangkauan keterlibatan masyarakat akan jauh lebih masif. Fokus khusus pada usia dini bertujuan agar benih rasa cinta terhadap budaya Banjar sudah tertanam kuat sejak masa keemasan anak-anak, sekaligus memastikan estafet kelestarian budaya Kalimantan Selatan terus berjalan tanpa putus.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Diskominfo Kalsel