tulisan arab pada sebuah daun (Pinterest/Afira)
Masyarakat Banjar memiliki kekayaan budaya yang terpelihara melalui benda-benda pusaka turun-temurun. Barang-barang ini bukan sekadar peninggalan fisik, melainkan juga menyimpan kisah, kepercayaan, dan nilai-nilai luhur yang diwariskan dari generasi ke generasi. Mari mengenal beberapa benda khas yang sering ditemui di rumah-rumah tua keluarga Banjar.
1. Barajah: Warisan Spiritual Beraksara Suci
Di kalangan masyarakat Banjar, barajah dikenal sebagai benda bertuliskan aksara Arab atau simbol tertentu yang dipercaya memiliki kekuatan khusus. Bentuknya beragam, mulai dari cincin, gelang, hingga lembaran kain. Seorang tetua di Martapura bercerita bahwa barajah biasanya dibuat oleh ulama atau ahli spiritual setelah menjalani ritual tertentu, seperti puasa atau wirid khusus.
Fungsinya pun beragam—ada yang diyakini sebagai pelindung dari marabahaya, penarik rezeki, hingga penguat ikatan keluarga. Sebuah kisah menyebutkan bahwa ada barajah berbentuk cincin yang telah diwariskan selama lima generasi, selalu diberikan kepada anggota keluarga yang akan merantau sebagai bentuk perlindungan.
2. Pancar Merah: Medali Suci Penjaga Rumah Tangga
Pancar Merah merupakan cakram logam berukir kaligrafi Asmaul Husna atau ayat-ayat suci. Benda ini sering diletakkan di tempat-tempat strategis dalam rumah, seperti dekat pintu masuk atau ruang keluarga. Seorang kolektor benda antik dari Banjarmasin menuturkan bahwa Pancar Merah zaman dahulu dibuat dengan teknik khusus, dimana sang pembuat harus berada dalam keadaan suci dan fokus penuh.
Ada kepercayaan bahwa Pancar Merah bisa mendatangkan ketenteraman rumah tangga. Sebuah keluarga di Amuntai bahkan menyimpan Pancar Merah peninggalan leluhur yang konon pernah menyelamatkan rumah mereka dari kebakaran pada masa kolonial.
Baca juga: Situs Bersejarah di Kalimantan Selatan yang Masih Dikunjungi
3. Tajau: Tempayan yang Menyimpan Sejarah
Tajau, atau tempayan tanah liat, adalah salah satu benda multifungsi dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Banjar. Selain untuk menyimpan air dan beras, tajau juga dipakai dalam upacara adat. Seorang ibu rumah tangga di Kandangan mengenang bagaimana tajau di rumahnya selalu digunakan untuk menyimpan air minum saat acara besar keluarga, dan anehnya, air tersebut terasa lebih segar dibanding air biasa.
Beberapa tajau tua bahkan dianggap keramat karena diyakini pernah dipakai dalam ritual penting, seperti penyimpanan air untuk memandikan pengantin atau upacara tolak bala.
4. Perabot Dapur Kuno: Jejak Kehidupan Sehari-hari Masa Lalu
Padu (tungku tradisional): Sebelum kompor modern dikenal, masyarakat Banjar memasak menggunakan padu yang terbuat dari tanah liat. Seorang nenek di Barabai masih menggunakan padu warisan ibunya untuk memasak ketupat saat Lebaran, karena diyakini memberi cita rasa yang lebih autentik.
Cubik (lesung kecil): Alat penumbuk bumbu ini masih digunakan di beberapa desa. Seorang wanita di Pelaihari bercerita bahwa cubik di keluarganya telah berusia lebih dari 80 tahun dan masih berfungsi dengan baik.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Wawancara Dengan Tokoh Adat Banjar, Catatan Sejarah Dari Museum Lambung Mangkurat, Banjarbaru, Dokumentasi Budaya Oleh Komunitas Pelestari Budaya Banjar