Pahlawan asal Kalsel, Pangeran Antasari (Pinterest/Marnos Comics)
Sosok Pejuang yang Tak Kenal Menyerah
Pangeran Antasari (1809–1862) adalah salah satu pahlawan nasional Indonesia yang namanya abadi dalam sejarah perlawanan terhadap penjajahan Belanda. Lahir di Kayu Tangi, Kesultanan Banjar (sekarang Kalimantan Selatan), ia memimpin Perang Banjar (1859–1865), salah satu perlawanan terpanjang di Nusantara.
Gelarnya, Panembahan Amiruddin Khalifatul Mukminin, mencerminkan perannya bukan hanya sebagai pemimpin politik, tetapi juga pemersatu spiritual bagi rakyat Banjar dan Dayak.
Latar Belakang dan Awal Perlawanan
Nama kecil Antasari adalah Gusti Inu Kartapati, putra Pangeran Mas’ud dan Ratu Khadijah. Sejak kecil, ia tumbuh di tengah konflik keluarga kerajaan akibat campur tangan Belanda dalam suksesi Kesultanan Banjar.
Baca juga: Pendiri Negara Dipa yang Melegenda, Pangeran Suryanata
Ketika Belanda mengangkat Pangeran Tamjidillah II—yang didukung kolonial—sebagai sultan, rakyat Banjar marah. Pangeran Hidayatullah II, pewaris sah menurut wasiat Sultan Adam, justru disingkirkan. Situasi ini memicu pemberontakan, dan Antasari muncul sebagai pemimpin utama.
Pada 28 April 1859, Antasari memimpin 300 pasukan menyerang tambang batu bara Belanda di Pengaron. Serangan ini menjadi awal Perang Banjar. Dengan dukungan panglima Dayak, ulama, dan bangsawan, ia memperluas perlawanan ke Martapura, Hulu Sungai, hingga sepanjang Sungai Barito.
Strategi gerilyanya membuat Belanda kewalahan, bahkan mereka pernah menawarkan 10.000 gulden bagi siapa pun yang bisa menangkap Antasari—namun tak seorang pun mau berkhianat.
Puncak Kepemimpinan dan Akhir Hayat
Pada 14 Maret 1862, Antasari dinobatkan sebagai Sultan Banjar dengan gelar Panembahan Amiruddin Khalifatul Mukminin. Pengangkatan ini memperkuat posisinya sebagai pemimpin agama, politik, dan militer. Ia menolak semua tawaran damai Belanda kecuali dengan syarat: pengakuan kemerdekaan Banjar.
Sayangnya, perjuangannya harus terhenti ketika ia wafat pada 11 Oktober 1862 akibat wabah cacar di Bayan Begok, Kalimantan Tengah. Perlawanan kemudian dilanjutkan oleh putranya, Muhammad Seman, hingga akhirnya Kesultanan Banjar dihapus Belanda pada 1905.
Baca juga: Ratu Zaleha: Kisah Kepahlawanan Perempuan Banjar yang Gigih Melawan Penjajah
Warisan yang Abadi
Pangeran Antasari tidak hanya dikenang sebagai pejuang, tetapi juga simbol persatuan antar-suku. Ia berhasil menyatukan Banjar, Dayak, dan kelompok lainnya melawan penjajah. Pada 1968, pemerintah Indonesia menganugerahinya gelar Pahlawan Nasional melalui SK Presiden No. 06/TK/1968. Namanya diabadikan dalam berbagai bentuk:
Pelajaran dari Perjuangan Antasari
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Wikipedia, Kompas.com, Detik.com