Ilustrasi Kerajaan Negara Dipa bahari (Dok. Ilustrasi AI)
Kerajaan Negara Dipa, yang berdiri di pedalaman Kalimantan Selatan pada abad ke-14, menjadi salah satu kerajaan penting dalam sejarah Nusantara. Salah satu tokoh utamanya adalah seorang raja yang kisahnya memadukan mitologi, sejaran, dan pengaruh budaya Majapahit, Pangeran Suryanata. Bagaimana peran Pangeran Suryanata dalam membentuk Kerajaan Negara Dipa? Simak ulasan lengkapnya berikut ini.
Asal-Usul Pangeran Suryanata
Menurut Hikayat Banjar, Pangeran Suryanata—yang juga disebut Raden Putra—adalah bangsawan Majapahit yang dikirim ke Kalimantan sekitar tahun 1437–1438 M. Ia disebut sebagai putra Brawijaya V, penguasa Majapahit, meskipun beberapa sejarawan memperdebatkan akurasi silsilah ini.
Kedatangannya ke Kalimantan tidak lepas dari peranLambung Mangkurat, patih Kerajaan Negara Dipa yang melakukan perjalanan ke Jawa untuk mencari pasangan bagi Putri Junjung Buih, ratu yang dianggap sebagai penjelmaan dewi air dalam kepercayaan Kaharingan. Pernikahan antara Suryanata (yang melambangkan matahari/langit) dan Junjung Buih (simbol bumi/air) menjadi simbol penyatuan kekuatan kosmis dalam tradisi lokal .
Pemerintahan dan Ekspansi Kerajaan Negara Dipa
Setelah dinobatkan sebagai Maharaja Suryanata, ia memimpin Negara Dipa dalam masa kejayaannya. Di bawah pemerintahannya, kerajaan ini berkembang pesat dengan menguasai wilayah dari Tanjung Puting hingga Tanjung Silat, mencakup daerah-daerah seperti Sambas, Sukadana (Tanjungpura), Kotawaringin, Pasir, Kutai, Berau, dan Karasikan.
Baca juga: Cerita di Balik Kain Sasirangan Khas Banjar
Sistem pemerintahan Negara Dipa terstruktur dengan pembagian wilayah Sakai (daerah otonom) yang dipimpin oleh Mantri Sakai. Struktur ini mirip dengan sistem distrik di Kesultanan Banjar kelak. Selain itu, kerajaan ini dikenal sebagai penghasil intan berkualitas tinggi, yang menjadi komoditas penting dalam perdagangan dengan Majapahit dan kerajaan lain di Nusantara.
Warisan Budaya dan Legenda Rakyat
Kisah Pangeran Suryanata tidak hanya tercatat dalam naskah kuno seperti Hikayat Banjar dan Pararaton, tetapi juga hidup dalam tradisi lisan masyarakat Banjar. Salah satu legenda yang paling terkenal adalah munculnya Putri Junjung Buih dari buih sungai, yang kemudian dinikahkan dengan Suryanata. Mitos ini mencerminkan kepercayaan lokal tentang keseimbangan alam antara langit dan bumi .
Peninggalan fisik Kerajaan Negara Dipa dapat dilihat di Candi Agung Amuntai, sebuah situs arkeologi yang dibangun oleh pendiri kerajaan, Empu Jatmika. Candi ini menjadi bukti pengaruh Hindu-Buddha di Kalimantan Selatan sebelum Islamisasi pada era Kesultanan Banjar .
Akhir Pemerintahan dan Transisi ke Negara Daha
Baca juga: Aluh Idut, Pejuang Wanita dari Kalimantan Selatan yang Pantang Menyerah
Pada sekitar 1464 M, Pangeran Suryanata dan Putri Junjung Buih memutuskan untuk "kembali ke kahyangan"—sebuah metafora dalam tradisi lisan yang mungkin menandakan akhir kekuasaan mereka. Kekuasaan kemudian diteruskan oleh ketiga putra mereka, yaitu Pangeran Suryaganggawangsa, Pangeran Suryawangsa, dan Pangeran Aria Dewangsa.
Kerajaan Negara Dipa akhirnya berubah menjadi Kerajaan Negara Daha, yang kelak menjadi cikal bakal Kesultanan Banjar pada abad ke-16. Warisan Suryanata tetap hidup dalam budaya Banjar, baik melalui legenda, sistem pemerintahan, maupun tradisi yang masih bertahan hingga kini .
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Wikipedia, Kompas.com, Legenda Nusantara