Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Rabu, 23 JULI 2025 • 18:49 WIB

Ratu Zaleha: Kisah Kepahlawanan Perempuan Banjar yang Gigih Melawan Penjajah

 Ratu Zaleha: Kisah Kepahlawanan Perempuan Banjar yang Gigih Melawan PenjajahGambar Ratu Zaleha (Pinterest/Gusti Citra) 

KALSEL - Kalimantan Selatan memiliki banyak tokoh pejuang yang menginspirasi, salah satunya adalah Ratu Zaleha.

Sosok perempuan tangguh ini tidak hanya mewarisi semangat perlawanan dari kakeknya, Pangeran Antasari, tetapi juga memimpin pasukan gerilya melawan Belanda dengan keberanian luar biasa. Kisah hidupnya penuh dengan perjuangan, pengorbanan, dan keteguhan hati yang patut dikenang.  

Masa Kecil dan Latar Belakang Keluarga

Ratu Zaleha, bernama asli Gusti Zaleha, lahir sekitar 1880 di Muara Lawung (sekarang wilayah Kalimantan Tengah). Ia adalah putri dari Sultan Muhammad Seman, penerus perjuangan Pangeran Antasari, dan Nyai Salmah.

Sejak kecil, ia sudah terbiasa dengan kehidupan peperangan karena dibesarkan di tengah Perang Banjar (1859-1905). Berbeda dengan anak bangsawan lainnya, Zaleha tumbuh sebagai pribadi yang tangguh dan pantang menyerah, mengikuti semboyan keluarga, yaitu "Waja Sampai Kaputing" (Kokoh sampai akhir).  

 
Setelah ayahnya gugur pada 1905, Ratu Zaleha mengambil alih kepemimpinan perjuangan. Ia tidak hanya memimpin pasukan pria tetapi juga membentuk kelompok pejuang perempuan dari suku Banjar dan Dayak.

Salah satu rekan setianya adalah Bulan Jihad (Wulan Djihad), seorang pejuang perempuan Dayak yang turut berperang melawan Belanda.  

Pasukan Ratu Zaleha dikenal sangat merepotkan Belanda karena taktik gerilya mereka yang sulit diprediksi. Meski Belanda berulang kali menawarkan iming-iming agar ia menyerah, Ratu Zaleha tetap teguh pada prinsipnya.

Namun, pada awal 1906, kondisi fisiknya yang semakin lemah membuatnya memutuskan untuk menyerah. Ia kemudian diasingkan ke Bogor (Buitenzorg) bersama ibunya, menyusul suaminya, Gusti Muhammad Arsyad, yang telah lebih dulu dibuang pada 1904.  

Hidup di Pengasingan dan Warisan Sejarah

Ratu Zaleha menghabiskan 31 tahun dalam pengasingan di Bogor, tepatnya di Gang Banjar, yang kini menjadi salah satu jejak sejarah perjuangannya. Di masa tuanya, ia kembali ke Banjarmasin dan wafat pada 24 September 1953. Makamnya berada di Kompleks Makam Pangeran Antasari, Banjarmasin.  

Untuk mengenang jasanya, pemerintah mengabadikan namanya sebagai RSUD Ratu Zalecha di Martapura. Kisah hidupnya menjadi bukti bahwa perempuan juga bisa menjadi pemimpin perang dan berjuang demi kemerdekaan.  

Kisah Ratu Zaleha mengajarkan kita tentang keteguhan, keberanian, dan semangat pantang menyerah. Ia adalah bukti nyata bahwa sejarah perjuangan Indonesia tidak hanya dimonopoli oleh kaum laki-laki, tetapi juga diisi oleh pahlawan perempuan yang tak kalah hebat.  

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Jurnal Muadalah, UIN Antasari Banjarmasin, Kompasiana.com, Osf.io

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Ratu Zaleha: Kisah Kepahlawanan Perempuan Banjar yang Gigih Melawan Penjajah

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!