Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Rabu, 23 JULI 2025 • 19:03 WIB

Tumenggung Cakrawati (Galuh Sarinah): Srikandi Banjar yang Menggempur Belanda dengan Kuda dan Keberanian

Tumenggung Cakrawati (Galuh Sarinah): Srikandi Banjar yang Menggempur Belanda dengan Kuda dan KeberanianPasar Baroe Batavia 1940-1963 (Pinterest/Sugimin Tukijan)

KALSEL - Di tengah gemuruh Perang Banjar (1859–1905), muncul sosok pejuang wanita yang mengukir sejarah dengan kepahlawanannya, Galuh Sarinah, atau lebih dikenal sebagai Tumenggung Cakrawati.

Nama ini diambil dari gelar suaminya yang gugur lebih dulu dalam pertempuran melawan Belanda. Ia bukan sekadar simbol, melainkan panglima perang sejati yang memimpin pasukan di medan laga, termasuk di Gunung Pamaton dan Gunung Halau-halau, bersama rekan seperjuangannya, Tumenggung Antaludin.  

Galuh Sarinah dikenal dengan ciri khasnya yang menunggang kuda dan mengenakan pakaian laki-laki peninggalan suaminya. Penyamaran ini bukan sekadar strategi, melainkan bentuk perlawanan terhadap stereotip gender di era kolonial. Ia membuktikan bahwa perempuan bisa setangguh pria di medan perang.

Baca juga: Tarian Baksa Kembang yang Simbolkan Keanggunan Budaya Banjar dari Gerakannya

Dalam pertempuran di Distrik Riam Kanan, Kabupaten Banjar, ia memimpin serangan dengan taktik gerilya, memanfaatkan medan berbukit untuk mengelabui pasukan Belanda.  

Salah satu momen heroiknya terjadi pada Agustus 1861, ketika ia dan Tumenggung Antaludin menghadapi Belanda di Gunung Pamaton.

Meski kalah persenjataan, mereka menggunakan pengetahuan medan untuk menyerang secara mendadak, membuat pasukan Belanda kocar-kacir. Kisah ini tercatat dalam sejarah lokal sebagai bukti kecerdikan pejuang Banjar.  

Meski jarang disebut dalam buku sejarah nasional, nama Galuh Sarinah masih dihormati di Kalimantan Selatan. Pada peringatan Hari Jadi ke-74 Provinsi Kalsel (2023), sosoknya dihidupkan kembali melalui tarian kolosal bertajuk "Pahlawan Perempuan". Pertunjukan itu menggambarkan keberaniannya bersama pejuang wanita lain seperti Ratu Zaleha dan Bulan Jihad.  

Baca juga: Ratu Zaleha: Kisah Kepahlawanan Perempuan Banjar yang Gigih Melawan Penjajah

Nama Tumenggung Cakrawati juga kerap disejajarkan dengan tokoh emansipasi wanita era kolonial, seperti R.A. Kartini. Bedanya, Galuh Sarinah berjuang bukan dengan pena, melainkan dengan senjata dan kuda. Ia menjadi simbol keteguhan hati perempuan Banjar yang menolak tunduk pada penjajah.  

Tantangan dan Kontroversi  

Sebagian sejarawan menyayangkan minimnya literasi tentang Galuh Sarinah. Mansyur, ahli sejarah dari Universitas Lambung Mangkurat, mencatat bahwa banyak pejuang wanita Banjar seperti dirinya mulai terlupakan. Padahal, perannya tak kalah vital dari tokoh pria seperti Pangeran Antasari atau Demang Lehman.  

Kini, namanya mulai diangkat kembali melalui diskusi sejarah dan seni pertunjukan. Upaya ini penting agar generasi muda mengenal sosoknya bukan sekadar sebagai "istri yang meneruskan perjuangan suami", melainkan sebagai panglima perang mandiri yang pantang menyerah.  

Galuh Sarinah, sang Tumenggung Cakrawati, adalah bukti bahwa heroisme tak mengenal gender. Kisahnya mengajarkan bahwa keberanian dan kecerdikan bisa lahir dari siapa pun—bahkan dari seorang perempuan di atas kuda, dengan senjata di tangan dan tekad membara di hati. 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Wikipedia, Kumparan

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Tumenggung Cakrawati (Galuh Sarinah): Srikandi Banjar yang Menggempur Belanda dengan Kuda dan Keberanian

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!