Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Kamis, 24 JULI 2025 • 09:00 WIB

Aluh Idut, Pejuang Wanita dari Kalimantan Selatan yang Pantang Menyerah

Aluh Idut, Pejuang Wanita dari Kalimantan Selatan yang Pantang MenyerahFoto Perayaan Kemerdekaan Indoensia pada 17 Agustus (Pinterest/golgota enterprise)

KALSEL - Di balik nama-nama pahlawan nasional yang terkenal, tersimpan kisah pejuang tak kenal lelah seperti Aluh Idut. Wanita asal Kandangan, Kalimantan Selatan, ini mungkin tak setenar Cut Nyak Dien atau R.A. Kartini, tetapi perannya dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia tak kalah vital. Ia adalah simbol keberanian, kecerdikan, dan keteguhan hati di tengah penjajahan Belanda.  

Masa Kecil yang Membentuk Jiwa Pejuang

Lahir di Parincahan, Kandangan, pada 1905, Aluh Idut—nama aslinya Siti Warkiyah—adalah anak sulung dari Haji Muhammad Hapip dan Siti Murah. Julukan "Idut" melekat karena posturnya yang subur, sementara "Aluh" atau "Galuh" adalah panggilan sayang untuk perempuan dalam budaya Banjar.  

Sejak kecil, Aluh Idut dibesarkan dalam lingkungan yang sarat semangat perjuangan. Ayahnya, seorang anggota Serikat Islam (SI), sering bercerita tentang perlawanan rakyat Banjar terhadap penjajah, termasuk kisah heroik Perang Banjar. Hal ini menanamkan jiwa nasionalisme dalam dirinya.  

Baca juga: Tarian Baksa Kembang yang Simbolkan Keanggunan Budaya Banjar dari Gerakannya

  
Beliau menjadi dalah satu peran krusial dalam perang gerilya ketika Belanda kembali berusaha menguasai Indonesia setelah Proklamasi Kemerdekaan, Aluh Idut tak tinggal diam. Pada 1946, ia bergabung dengan ALRI Divisi IV "A" Pertahanan Kalimantan Selatan di bawah pimpinan Hassan Basry. Tugasnya beragam, yaitu:

  • Penyuplai Senjata dan Intelije. Dengan menyamar sebagai pedagang keliling, ia menyelundupkan senjata dan logistik untuk pejuang di Hutan Meratus. Ia juga mengumpulkan informasi pergerakan musuh, menjadikannya mata-mata yang sangat diandalkan.  
  • Aktivis dan Penggerak Massa. Sebagai anggota Lasykar Wanita Indonesia (LASWI), ia dikenal sebagai orator ulung yang mampu membakar semangat rakyat. Pidatonya yang berapi-api membuat Belanda semakin waspada.  

Aktivitasnya yang tak kenal takut membuat Belanda geram, sehingga pada 1948, Aluh Idut ditangkap dan mengalami penyiksaan brutal. Ia dipukuli, dicambuk, bahkan disetrum listrik untuk memaksanya membocorkan lokasi markas gerilyawan. Namun, ia tak pernah menyerah.  

"Belanda mengira dengan siksaan, ia akan berbicara. Tapi Aluh Idut lebih memilih menderita daripada mengkhianati kawan-kawannya," tutur salah satu kerabatnya, seperti dikutip dari [beritabanjarmasin.com]

Baca juga: Cerita di Balik Kain Sasirangan Khas Banjar

Setelah dibebaskan pada 1949, kondisi fisiknya sudah sangat lemah. Namun, semangatnya tak pernah padam. Ia terus membantu meresmikan markas pejuang di Kalimantan. Atas jasanya, pemerintah menganugerahinya Bintang Gerilya dan pangkat Letnan I (Anumerta) pada 1958.  

Aluh Idut wafat pada 5 Februari 1958. Namanya kini diabadikan sebagai nama jalan dan gedung olahraga di Hulu Sungai Selatan. 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Wikipedia, Prokal.co, Berita Banjarmasin

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Aluh Idut, Pejuang Wanita dari Kalimantan Selatan yang Pantang Menyerah

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!