Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Kamis, 24 JULI 2025 • 15:00 WIB

Fatimah: Panglima Perang Wanita yang Mengobarkan Semangat Perjuangan di Perang Banjar

Fatimah: Panglima Perang Wanita yang Mengobarkan Semangat Perjuangan di Perang BanjarSuasana bahari dimana semua perempuan berkumpul (Pinterest/potolawas)

KALSEL - Perang Banjar (1859–1905) bukan hanya tentang perlawanan Pangeran Antasari atau Sultan Muhammad Seman. Di balik heroisme laki-laki, ada sosok perempuan tangguh yang memimpin pasukan khusus wanita, Fatimah.

Ia adalah salah satu panglima perang wanita yang berperan krusial di awal konflik, bekerja sama dengan pejuang legendaris bernama Aling, yang bergelar Juntai Langit. Kisahnya menginspirasi sekaligus mengingatkan betapa perempuan Banjar turut andil besar dalam melawan penjajahan Belanda .  

Latar Belakang Fatimah dan Bangkitnya Perlawanan

Fatimah muncul di tengah gejolak Perang Banjar, tepatnya saat perlawanan rakyat dipicu oleh ketidakadilan Belanda dan penguasa lokal yang bekerja sama dengan kolonial. Aling, seorang tokoh spiritual dan pemimpin gerakan petani, menjadi simbol perlawanan di Tapin Hilir.

Fatimah disebut-sebut sebagai keponakan atau kerabat Aling, meski ada versi lain yang menyatakan mereka hanya memiliki hubungan kekerabatan jauh.

Baca juga: Tumenggung Cakrawati (Galuh Sarinah): Srikandi Banjar yang Menggempur Belanda dengan Kuda dan Keberanian

 Ketika Perang Banjar pecah pada 1859, Fatimah mengambil peran sebagai panglima pasukan perempuan. Ia memimpin prajurit wanita yang berani bertarung di medan laga, mendukung Aling yang saat itu bergelar Juntai Langit—sebuah julukan yang mencerminkan kharisma dan pengaruhnya di kalangan pejuang. Pasukannya dikenal gigih, terutama dalam pertempuran di daerah Muning hingga Tanah Laut .  

Strategi dan Peran Fatimah di Medan Pertempuran

Sebagai pemimpin, Fatimah tidak hanya mengandalkan kekuatan fisik. Ia juga memanfaatkan pengetahuan taktik perang dan jaringan dukungan dari masyarakat. Beberapa catatan sejarah menyebutkan bahwa pasukannya terlibat dalam:  

  • Serangan gerilya di wilayah pedalaman, memanfaatkan medan hutan dan sungai yang sulit ditembus Belanda.  
  • Pertahanan benteng di daerah strategis seperti Baras Kuning dan Bamban, tempat Belanda kerap kesulitan menembus pertahanan pejuang Banjar .  

Kemampuan Fatimah memimpin pasukan perempuan menunjukkan bahwa peran wanita dalam perjuangan kemerdekaan tidak sekadar di ranah domestik. Mereka turut mengangkat senjata, menyusun strategi, dan menjadi tulang punggung perlawanan di garis belakang.  

Sayangnya, seperti banyak pejuang wanita lainnya, nama Fatimah perlahan tenggelam dalam narasi besar Perang Banjar.

Sejarawan seperti Mansyur dari Universitas Lambung Mangkurat mencatat bahwa banyak srikandi Banjar yang kontribusinya mulai dilupakan generasi sekarang . Padahal, tanpa peran perempuan seperti Fatimah, perlawanan terhadap Belanda mungkin tak akan sekuat itu.  

Kini, jejak Fatimah bisa dilacak melalui cerita rakyat dan naskah-naskah lokal. Kisahnya mengingatkan kita bahwa perjuangan kemerdekaan adalah hasil kolaborasi semua elemen masyarakat, tanpa memandang gender. Ia adalah bukti bahwa perempuan Banjar tidak hanya kuat di rumah, tetapi juga di medan perang. 

Baca juga: Ratu Zaleha: Kisah Kepahlawanan Perempuan Banjar yang Gigih Melawan Penjajah

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Kumparan, Wikipedia, Alif.id

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Fatimah: Panglima Perang Wanita yang Mengobarkan Semangat Perjuangan di Perang Banjar

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!