Seseorang mengambil sebuah buku diantara rak buku (Pinterest/Jenna)
KALSEL - Bahasa Banjar bukan sekadar alat komunikasi—ia adalah living artifact yang menyimpan lapisan sejarah, pertukaran budaya, dan identitas masyarakat Kalimantan Selatan. Bermula dari rumpun Austronesia, bahasa ini berevolusi melalui dinamika sosio-historis yang kompleks, menjadikannya cermin dari interaksi antarperadaban.
Bahasa Banjar merupakan bagian dari rumpun Austronesia dengan cabang Melayik. Awalnya berkembang di Kalimantan Selatan, bahasa ini terbentuk dari interaksi tiga suku utama: Melayu, Jawa, dan Dayak.
Kontak budaya dengan Jawa tercatat sejak abad ke-14, ketika Kerajaan Majapahit menyebut wilayah Kalimantan sebagai Nagara Tanjung dalam Kakawin Nagarakretagama . Pada abad ke-17, pengaruh Kesultanan Demak memperkaya kosakata Banjar dengan gelar-gelar Jawa seperti Panembahan, Pangeran, dan Raden.
Baca juga: Jika Bahasa Banjar Wajib di Sekolah Kalsel: Meningkatkan Literasi atau Membebani Kurikulum?
Studi linguistik menunjukkan kesamaan leksikal bahasa Banjar dengan bahasa Indonesia mencapai 73%, dengan bahasa Melayu 85%, dan bahasa Dayak (seperti Maanyan dan Ngaju) antara 32–39% . Ini mencerminkan akar Austronesia yang kuat sekaligus adaptasi lokal.
Secara fonologis, bahasa Banjar memiliki 5 fonem vokal (/a, i, u, o, è/) dan 18 fonem konsonan . Pola suku katanya sederhana: V, VC, CV, dan CVC. Seperti bahasa Melayu lainnya, bahasa Banjar bersifat analitik—tidak memiliki konjugasi verba atau gender gramatikal, dan struktur kalimatnya mengikuti pola Subjek-Predikat-Objek .
Dua Dialek Utama:
1. Banjar Hulu: Dituturkan di wilayah pedalaman (contoh: Hulu Sungai). Hanya menggunakan 3 vokal (/a, i, u/) dan mengandung banyak kosakata arkais dari masyarakat Dayak Meratus. Ucapannya kaku, pendek, dan cepat.
Baca juga: Bahasa Banjar yang Terbagi Dua Dialek Dengan Kaunikannya, Mari Kenali Lebih Dalam!
2. Banjar Kuala: Dituturkan di daerah pesisir (contoh: Banjarmasin). Menggunakan 6 vokal dengan intonasi lebih melodius dan kosakata yang banyak dipengaruhi Melayu modern.
Bahasa Banjar menyerap unsur dari bahasa Melayu, Jawa, dan Dayak. Hampir 99% penuturnya menyadari pengaruh Melayu yang dominan . Unsur Jawa terlihat dalam kosakata seperti banyu (air), iwak (ikan), dan lawang (pintu) . Sementara itu, dialek Hulu banyak istilah Dayak yang berkaitan dengan lingkungan dan tradisi.
Sebagai lingua franca, bahasa Banjar menyebar jauh beyond Kalimantan Selatan. Ia digunakan di Kalimantan Tengah, Timur, bahkan komunitas perantauan di Malaysia (Sabah/Sarawak) dan Brunei . Bahasa ini memfasilitasi komunikasi antar-suku seperti Dayak, Bugis, dan Kutai, sekaligus menjadi simbol identitas budaya Banjar.
Meski penggunaannya masih luas, bahasa Banjar menghadapi tantangan intervensi bahasa Indonesia dan bahasa asing . Namun, laju penurunannya tidak signifikan berkat perannya yang kuat dalam kehidupan sehari-hari dan upaya pelestarian melalui pengajaran muatan lokal di sekolah.
Bahasa Banjar adalah contoh nyata bagaimana bahasa dapat menjadi jembatan antara masa lalu dan sekarang, menghidupkan warisan budaya dalam setiap ucapannya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Wikipedia, Klausa.co