Sastra dan Bahasa pada Zaman Kerajaan Hindu-Buddha di Indonesia (Pinterest/Web Sejarah)
KALSEL - Di tengah riuh rendah bahasa nasional dan global, terdapat bahasa daerah yang menyimpan narasi panjang tentang peleburan budaya: Bahasa Banjar. Dituturkan oleh Suku Banjar (Urang Banjar), bahasa ini bukan sekadar alat komunikasi, melainkan cermin dari proses akulturasi yang membentuk identitas Kalimantan Selatan.
Bahasa Banjar (Basa Banjar) secara linguistik tergabung dalam rumpun Austronesia, tepatnya cabang Malayic, yang menjadikannya bersaudara dekat dengan Bahasa Indonesia dan Melayu. Namun, keunikan Bahas Banjar justru terletak pada lapisan-lapisan sejarah yang membentuknya.
Penutur aslinya, Suku Banjar, merupakan etnis hasil dari percampuran yang harmonis antara kelompok-kelompok Dayak lokal—seperti Ma’anyan, Lawangan, dan Ngaju—dengan pengaruh budaya pendatang, terutama Melayu dan Jawa, sejak era kerajaan seperti Negara Dipa dan Kesultanan Banjar.
Baca juga: Suku Banjar: Menelusuri Jejak Peradaban Sungai di Kalimantan
Proses ini menciptakan sebuah identitas hybrid. Bahasa Banjar menyerap kosakata inti dari bahasa-bahasa Barito (rumpun Dayak) yang menjadi substratnya, sementara lapisan kosakata Melayu dan Jawa—akibat kontak perdagangan, politik, dan penyebaran Islam—menjadi superstrat yang sangat kuat. Pengaruh Islam juga memperkenalkan unsur Arab, khususnya dalam kosakata keagamaan, yang dahulu ditulis menggunakan aksara Jawi.
Bahasa ini hidup dengan dua dialek utama yang mencerminkan geografinya. Dialek Banjar Hulu (atau Bahasa Hulu) dominan di daerah hulu sungai, seperti Amuntai dan Martapura. Sementara Dialek Banjar Kuala digunakan di wilayah pesisir dan kota besar seperti Banjarmasin. Perbedaannya tidak hanya pada pelafalan, tetapi juga pada pilihan kosakata tertentu, menunjukkan variasi internal yang dinamis.
Dengan perkiraan penutur jutaan jiwa, Bahasa Banjar masih sangat vital dalam percakapan sehari-hari. Ia berfungsi sebagai lingua franca di banyak wilayah Kalimantan bagian selatan dan tengah. Kekuatannya terletak pada kemampuannya beradaptasi tanpa kehilangan jati diri. Meski kini menggunakan aksara Latin, warisan sastranya tercatat dalam naskah-naskah kuno seperti Hikayat Banjar yang menggunakan aksara Jawi, menunjukkan tradisi literasi yang kaya.
Baca juga: Dayak di Kalimantan Selatan: Merentang Identitas dari Pegunungan Meratus hingga Delta Barito
Mempelajari Bahasa Banjar seperti mengikuti alur Sungai Barito; hulunya bermula dari masyarakat Dayak pedalaman, kemudian mengalir membawa serta sedimentasi budaya Melayu, Jawa, Bugis, Arab, dan Tionghoa, sebelum sampai ke muara yang luas dan kosmopolitan. Bahasa ini adalah bukti nyata bahwa identitas budaya bukanlah sesuatu yang statis, melainkan suatu proses terus-menerus yang cair dan inklusif. Melestarikannya berarti menjaga ingatan tentang bagaimana Nusantara terbentuk dari pertemuan antarbudaya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Ensiklopedia, Ethnologue (banj1241), Glottolog (banj1239)