kereta cepat Jakarta-Bandung (Pinterest/La Vie Zine)
Bayangkan membuka Google Maps dan mendengar arahan navigasi dalam bahasa Banjar: "Taratak di kiri, hati-hati di tikungan tajam!" atau melihat label "Cari kadiak" alih-alih "Search here". Meski terdengar unik, impian ini belum terwujud—tapi bukan berarti mustahil. Mari telusuri peluang dan tantangannya berdasarkan riset mendalam dari tiga sumber otoritatif: dukungan bahasa Google Maps, daftar kode bahasa resmi, dan karakteristik bahasa Banjar.
Bahasa Banjar dalam Ekosistem Digital
Bahasa Banjar (basa Banjar) adalah bahasa ibu bagi 4,1 juta orang di Kalimantan Selatan, Tengah, dan Timur, serta komunitas diaspora di Brunei dan Malaysia. Dengan dua dialek utama—Hulu (pedalaman) dan Kuala (pesisir)—bahasa ini kaya akan kosakata lokal seperti "gawi" (kerja) atau "handep" (cepat). Namun, di dunia digital, nasibnya mirip bahasa daerah lain: minim dukungan platform besar.
Google Maps sendiri mendukung 74 bahasa, dari Inggris hingga Zulu, tetapi Banjar belum masuk daftar resmi. Padahal, fitur multibahasa Maps memungkinkan pengguna mengganti antarmuka melalui parameter hl (seperti hl=id untuk Bahasa Indonesia). Sayangnya, kode ISO 639-1 untuk Banjar (bjn) tidak tersedia, sehingga tak bisa dipaksakan via URL.
Baca juga: Penggunaan dan Penerimaan AI di Kalangan Masyarakat Kalimantan Selatan dengan Dampak yang Diberikan!
Tantangan Teknis dan Budaya
1. Kode Bahasa yang Tak Terdaftar
Sistem Google Maps hanya menerima kode dua huruf (contoh: pt untuk Portugis), sementara Banjar punya kode tiga huruf (bjn) dalam ISO 639-3. Solusinya? Google perlu menambahkan patch khusus atau bekerja sama dengan badan bahasa lokal.
2. Penerjemahan yang Alami
UI Maps harus diterjemahkan secara kontekstual. Misal:
- "Directions" → "Pituduh" (arah)
- "Save place" → "Simpan tampat"
Perlu konsensus agar terjemahan tidak terlalu bias dialek Hulu atau Kuala.
3. Uji Coba Lapangan
Label seperti "Satellite" ("Satelit") mungkin mudah, tetapi istilah teknis seperti "Live View" perlu adaptasi kreatif (contoh: "Tayangan Langsung"). Uji coba dengan penutur asli wajib dilakukan.
Baca juga: Menyusuri Jarak Teknologi Jakarta-Banjar!
Peluang di Balik Kendala
- Konten Lokal: Jika Google Maps ber-Banjar terwujud, tempat-tempat di Kalimantan bisa dilabeli nama asli (contoh: "Pasar Terapung" alih-alih "Floating Market").
- Preservasi Budaya: Ini jadi langkah maju untuk melestarikan bahasa daerah di era digital.
- Pasar Potensial: Dengan 10 juta penutur, dukungan bahasa Banjar bisa meningkatkan engagement pengguna di Kalimantan.
Bagaimana Caranya?
1. Advokasi ke Google
Komunitas atau pemerintah bisa mengajukan permohonan resmi melalui Google Language Support. Bahasa Basque (eu) dan Cherokee (chr) yang lebih kecil penuturnya pernah berhasil masuk daftar.
2. Kolaborasi dengan Ahli Bahasa
Badan Pengembangan Bahasa Indonesia bisa memfasilitasi penyusunan glosarium teknis Bahasa Banjar untuk digital.
3. Eksperimen Mandiri
Pengembang lokal bisa membuat custom overlay peta berbahasa Banjar menggunakan API Google Maps, meski tidak resmi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Wikipedia, SerpAPI