Rumah Adat Banjar, Bubungan Tinggi (Pinterest/arinuno)
Kerajaan Banjar, atau lebih dikenal sebagai Kesultanan Banjar, bukan sekadar catatan sejarah di buku teks. Jejaknya masih hidup dalam budaya, arsitektur, dan tradisi masyarakat Kalimantan Selatan. Untuk memahami bagaimana kerajaan ini berkembang menjadi pusat perdagangan dan penyebaran Islam di Nusantara, kita perlu menelusuri asal-usulnya—mulai dari era pra-Islamik hingga peninggalan yang masih bertahan hingga kini.
Dari Nan Sarunai ke Kesultanan Banjar: Sebuah Transformasi
Sebelum Islam masuk, wilayah Kalimantan Selatan dikuasai oleh Kerajaan Nan Sarunai (1309–1389), sebuah kerajaan kuno yang didirikan oleh suku Dayak Maanyan. Kerajaan ini dikenal sebagai pelaut ulung dan memiliki jaringan perdagangan hingga ke Madagaskar. Namun, invasi Majapahit pada 1354 mengakhiri kekuasaan Nan Sarunai dan memunculkan kerajaan penerus seperti Negara Dipa dan Negara Daha.
Pergolakan politik di Negara Daha akhirnya melahirkan Kesultanan Banjar pada 1526, ketika Pangeran Samudera—yang kemudian bergelar Sultan Suriansyah—berhasil mempersatukan wilayah tersebut dengan bantuan Kesultanan Demak. Peristiwa ini menandai awal era Islam di Kalimantan Selatan sekaligus menggeser pusat kekuasaan dari pedalaman ke pesisir Sungai Barito dan Martapura.
Baca juga: Wisata Sejarah Perang Banjar yang Merekam Jejak Perlawanan Rakyat Melawan Kolonial Belanda
Pusat Pemerintahan yang Berpindah: Dari Kuin Hingga Martapura
Kuin, yang kini menjadi bagian dari Banjarmasin, merupakan lokasi pertama keraton Kesultanan Banjar. Sayangnya, benteng ini dihancurkan oleh VOC pada 1612 dalam upaya menguasai perdagangan lada. Sisa-sisa pondasinya masih bisa ditemukan di tepi Sungai Martapura, meski sebagian besar telah tertimbun perkembangan kota.
Setelah Kuin, pusat pemerintahan berpindah ke Kayutangi (Martapura), di mana Sultan Suriansyah dimakamkan. Kompleks makamnya kini menjadi situs ziarah sekaligus bukti arsitektur Banjar yang khas, dengan ornamen ukiran kayu dan kaligrafi Islam. Selain itu, beberapa lokasi seperti Cempaka dan Karang Intan diduga menjadi tempat istana berpindah saat terjadi konflik internal atau serangan luar.
Hikayat Banjar: Sumber Primer yang Mengungkap Masa Lalu
Salah satu sumber tertulis paling berharga tentang Kesultanan Banjar adalah Hikayat Banjar, sebuah kronik Melayu abad ke-17 yang mencatat silsilah raja, ritual istana, dan perpindahan pusat kekuasaan. Naskah ini, yang diterbitkan ulang oleh Hans Ras (1968), memberikan gambaran lengkap tentang transisi dari kerajaan Hindu-Buddha ke kesultanan Islam.
Warisan yang Masih Hidup: Dari Makam Hingga Tradisi
Baca juga: Situs Bersejarah di Kalimantan Selatan yang Masih Dikunjungi
Peninggalan Kesultanan Banjar tidak hanya berupa reruntuhan. Di Museum Wasaka, Banjarmasin, pengunjung dapat melihat artefak seperti keramik Dinasti Ming, senjata tradisional, dan naskah lontar—bukti kuat bahwa Banjar pernah menjadi pusat perdagangan maritim yang ramai.
Budaya Banjar juga tetap hidup dalam bahasa, sastra, dan upacara adat. Hikayat Banjar masih sering dibacakan dalam acara tradisional, sementara festival seperti Tabuik dan Hajat Sapei Sapaq menjadi penghubung antara masa lalu dan masa kini.
Menelusuri jejak Kesultanan Banjar bukan sekadar mengunjungi situs bersejarah, tetapi juga memahami bagaimana warisannya masih memengaruhi identitas masyarakat Banjar saat ini. Dari Nan Sarunai hingga peninggalan arkeologis di Martapura, setiap lapisan sejarah memperkaya narasi tentang salah satu kerajaan terpenting di Kalimantan.
Dengan menggali sumber-sumber ini, kita tidak hanya menghidupkan kembali sejarah Banjar, tetapi juga menjaga agar warisannya tetap relevan bagi generasi mendatang.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Wikipedia, Hikayat Banjar (edisi Hans Ras, 1968), Stikeshb.ac.id