Banjar di 2100 tahun jadi sebuah kota cryberpunk (Dok. Ilustrasi AI)
Di abad ke-22, wajah Banjar telah berubah total dari kota yang pernah dihuni nenek moyang kita. Kini, kanal-kanal raksasa telah menggantikan jalan raya, sementara permukiman terapung menjadi pemandangan biasa.
Air bukan lagi ancaman musiman, melainkan realitas permanen yang mengatur setiap aspek kehidupan. Inilah potret suram sebuah peradaban yang harus bernegosiasi dengan alam yang berubah drastis.
Transformasi Paksa dari Daratan ke Permukiman Air
Malapetaka ini berakar dari abad-abad sebelumnya. Letak Banjarmasin - yang menjadi cikal bakal Banjar - di delta Sungai Barito dan Martapura dengan kontur tanah hampir datar (0,13% kemiringan) membuatnya ibarat mangkuk yang siap menampung air laut. Dua faktor memperparah keadaan: naiknya permukaan laut global akibat emisi tak terkendali dan penurunan tanah akibat eksploitasi air bawah tanah berlebihan.
Baca juga: Bayangkan Jika Banjar Jadi Kota Cyberpunk dalam 2100 Nanti: Teknologi Tinggi, Budaya Tetap Menyala
Penelitian Yuliastuti (2023) sudah mengingatkan betapa rapuhnya kawasan ini. Di tahun 2200, prediksi terburuk menjadi kenyataan: air laut naik 5-8 meter, mengubah bekas kota menjadi lautan dangkal dengan pulau-pulau buatan.
Solusi Hidup di Tengah Genangan
Warga Banjar 2200 mengembangkan sistem kehidupan unik:
Masyarakat yang Beradaptasi Dengan Paksa
Baca juga: Gaya Hidup Anak Muda Banjar: Harmoni Budaya, Hemat, dan Kreativitas Digital
Perubahan ekstrem ini melahirkan tatanan sosial baru:
Banjar 2200 adalah cermin masa lalu yang kelam - tentang bagaimana kelalaian manusia menghadapi perubahan iklim berujung pada transformasi permanen. Kota ini bertahan dengan segala keterbatasannya, menjadi bukti ketangguhan sekaligus peringatan keras. Di balik gemerlap lampu-lampu terapung di malam hari, tersimpan pelajaran berharga: alam selalu punya cara untuk menuntut keseimbangan, dan manusia hanya bisa menyesuaikan diri - bukan melawan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: IPCC Special Report On The Ocean And Cryosphere In A Changing Climate (SROCC), Yuliastuti, N. (2023). Social Vulnerability Level Appraisal At Tidal Flood Areas. Studi Kerentanan Sosial Di Permukiman Pasang Surut Banjarmasin., Wikipedia