Bersepeda bersama teman teman di pagi hari yang asri (Pinterest/kamalieditor)
Di tengah hiruk-pikuk modernisasi, masyarakat Banjar di Kalimantan Selatan masih menyimpan sistem norma tidak tertulis yang menjadi panduan hidup turun-temurun.
Budaya bertaku, atau lebih dikenal sebagai pamali, bukan sekadar larangan usang, melainkan jantung kearifan lokal yang mengatur tata krama, hubungan sosial, hingga siklus hidup manusia. Seperti diungkap dalam penelitian, pamali merupakan "local genius" yang membentuk karakter dan identitas kolektif masyarakat Banjar.
Akar Filosofis Pamali: Lebih dari Sekadar Mitos
Pamali tumbuh dari pengalaman kolektif masyarakat Banjar yang diwariskan secara lisan jauh sebelum literasi menyebar. Ia berakar pada sistem kepercayaan tradisional yang memadukan nilai agama, etika, dan relasi manusia dengan alam.
Dalam struktur masyarakat Banjar, pamali berfungsi sebagai mekanisme kontrol sosial tanpa perlu aparat. Pelanggaran diyakini membawa konsekuensi, baik secara sosial seperti celaan dan pengucilan, maupun non-fisik berupa "kualat" (kemurkaan alam semesta).
"Pamali menjadi tameng nilai luhur tradisi lisan dalam menangkal pengaruh budaya luar yang merusak sikap hidup masyarakat"
— Hatmiati, Akademisi dan Peneliti Budaya Banjar
Fungsi Multidimensional Pamali
1. Pendidikan Karakter
Pamali menjadi instruktur tak bersuara yang mengajarkan kesopanan, respek pada orang tua, dan kehati-hatian bertindak. Misalnya, larangan memanggil orang dengan sebutan kasar melatih kesantunan berbahasa sejak kecil.
Baca juga: Gaya Hidup Anak Muda Banjar: Harmoni Budaya, Hemat, dan Kreativitas Digital
2. Pelindung Keseimbangan Sosial
Dalam konteks kehamilan, pamali seperti "dilarang merunduk terlalu rendah" bagi ibu hamil bukan tanpa dasar. Larangan ini mengandung prinsip kesehatan preventif untuk mencegah tekanan berlebihan pada janin, sekaligus menjaga martabat perempuan.
3. Penjaga Kohesi Komunal
Ritual perkawinan adat Banjar dipenuhi pamali yang memperkuat ikatan keluarga. Misalnya, "kawin gantung" (pernikahan dimana pengantin belum boleh tinggal bersama karena usia istri yang belum cukup) mencerminkan perlindungan terhadap anak perempuan.
Pamali dalam Ritual Hidup Masyarakat Banjar
Balai Bahasa Banjarmasin mencatat pamali menyentuh 12 aspek hidup manusia. Beberapa contoh krusial:
- Perkawinan: Calon pengantin dilarang saling melihat di bawah tangga karena dipercaya mengundang sial. Ada pula tradisi "baantaran jujuran" (pemberian maskawin) yang diatur ketat untuk menghindari konflik.
- Kelahiran: Bayi tidak boleh dibawa keluar saat senja, didasari kekhawatiran paparan udara malam dan roh jahat.
- Mata Pencaharian: Nelayan tradisional memiliki pamali melaut hari tertentu, yang secara ekologis memberi waktu regenerasi ikan.
Gempuran globalisasi mengubah relasi generasi muda dengan pamali. Studi menunjukkan 85% generasi tua masih memegang teguh pamali, sementara generasi Z menganggapnya mitos ketinggalan zaman. Fenomena ini terlihat nyata saat senja; gadis-gadis remaja tak lagi terhalang pamali "bibinian bujang ka luar hari sanja" (larangan perempuan keluar saat senja).
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Detik News, FS UIN Antasari, RRI Pro 4 Banjarmasin