Pesantren Darussalam Martapura (Pinterest/ParkFadil)
Di antara hutan dan sungai Kalimantan Selatan, berdiri sebuah pusat keilmuan Islam yang telah mengakar lebih dari seabad: Pondok Pesantren Darussalam Martapura. Sebagai pesantren tertua di Kalsel, lembaga ini bukan hanya menyimpan kisah perjuangan dakwah, tetapi juga menjadi saksi integrasi budaya Banjar dengan nilai-nilai Islam.
Berdiri sejak 14 Juli 1914 oleh KH. Jamaluddin, pesantren ini awalnya berupa halaqah sederhana di Pasayangan, Martapura, sebelum berkembang menjadi kompleks pendidikan modern yang tetap mempertahankan tradisi salaf.
Dari Halaqah ke Lembaga Multidimensi
Awalnya, Darussalam mengadopsi sistem pengajian kitab kuning secara mufassal (mendalam) tanpa tingkatan. Metode ini berubah ketika KH. Muhammad Kasyful Anwar, salah satu tokoh kunci, pulang dari Makkah dan memperkenalkan jenjang formal seperti tsanawiyah dan aliyah.
Uniknya, pembaruan ini tidak menghapus tradisi tarekat atau kajian klasik, melainkan memperkaya kurikulum dengan madrasah dan perguruan tinggi (STAI Darussalam)
Baca juga: Masjid Sultan Suriansyah: Jejak Islamisasi dan Arsitektur Tradisional Banjar di Kalimantan Selatan
Kini, Darussalam menawarkan program beragam: dari tahfizh Al-Quran hingga laboratorium bahasa Arab. Namun, bangunan tua di kompleks pesantren tetap dipertahankan sebagai pengingat akar sejarahnya. "Modernisasi fasilitas harus sejalan dengan pelestarian warisan," tulis laporan P3M (2025) tentang renovasi yang dilakukan tanpa mengikis nilai tradisi
Penyebar Islam dan Ulama Banjar
Pesantren ini disebut sebagai "mercusuar keilmuan" karena perannya melahirkan ulama-ulama berpengaruh. Guru Sekumpul (KH. Muhammad Zaini Abdul Ghani) dan Guru Bakrie Gambut (KH. Ahmad Bakrie) adalah sedikit dari nama besar yang pernah menimba ilmu di sini.
Mereka kemudian mendirikan majelis taklim dan pesantren baru, memperluas jaringan dakwah hingga pedalaman Kalimantan.
Tak hanya itu, Darussalam aktif dalam kegiatan sosial seperti bakti kesehatan gratis dan bantuan banjir tahunan—sebuah tradisi yang mencerminkan kepedulian terhadap masyarakat sekitar.
Kegiatan budaya seperti tari Banjar dan puji-pujian dalam haul juga menjadi ciri khas, menunjukkan harmoni antara Islam dan lokalitas.
Warisan untuk Generasi Mendatang
Baca juga: 3 Rekomendasi Buku Sastra Banjar yang Inspiratif untuk Generasi Muda
Di usianya yang ke-111 tahun, Darussalam Martapura tetap relevan. Pesantren ini berhasil menjembatani tradisi dengan tuntutan zaman, seperti integrasi teknologi dalam pembelajaran tanpa meninggalkan kitab kuning. "Ini adalah contoh bagaimana pesantren bisa beradaptasi tanpa kehilangan identitas," tulis Radar Banjarmasin (2024).
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Wikipedia, Radar Banjarmasin, P3M.OR.ID