Tambang Oranje Nassau pada masa penjajahan Belanda (Pinterest/Billy Macgeorge)
Perang Banjar (1859–1863) bukan sekadar konflik bersenjata, melainkan simbol perlawanan rakyat Kalimantan Selatan terhadap penjajahan Belanda. Kini, jejak pertempuran itu bisa kita telusuri melalui destinasi wisata sejarah yang sarat makna—mulai dari benteng pertahanan, makam pahlawan, hingga museum yang menyimpan artefak perjuangan. Berikut panduan lengkapnya.
Perang ini meletus setelah Belanda ikut campur dalam suksesi Kesultanan Banjar. Pangeran Tamjidillah, yang diangkat Belanda sebagai sultan, ditentang rakyat karena dianggap tidak sah. Pangeran Hidayatullah dan Pangeran Antasari memimpin perlawanan, dimulai dengan serangan ke benteng Belanda di Martapura pada 1859. Perlawanan berlanjut dengan taktik gerilya di hutan dan sungai, melibatkan suku Dayak dan tokoh agama.
1. Benteng Oranje Nassau: Saksi Serangan Pertama
Benteng ini awalnya adalah tambang batu bara Belanda yang dihancurkan pasukan Pangeran Antasari pada 1859. Kini, reruntuhannya menjadi bukti nyata kegigihan rakyat Banjar.
- Lokasi: Desa Benteng, Kec. Pengaron, Martapura (±69 km dari Banjarmasin).
- Akses: Dari Banjarmasin, lewat Jl. Ahmad Yani hingga Simpang Empat Pengaron, lalu belok kanan ke Jl. Jati Negara.
- Fasilitas: Area terbuka tanpa tiket masuk. Disarankan membawa air minum dan topi karena minim naungan.
2. Makam Pangeran Antasari: Ziarah Sang Khalifatul Mukminin
Pangeran Antasari, pahlawan nasional yang gambarnya menghiasi uang Rp2.000, dimakamkan di Banjarmasin Utara. Kompleks makamnya juga menjadi tempat peristirahatan Ratu Zaleha dan Panglima Batur.
- Lokasi: Jl. Malkon Temon, Banjarmasin Utara.
- Daya Tarik: Prasasti sejarah dan suasana religi yang kental. Cocok untuk wisatawan yang ingin memahami sisi spiritual perjuangan.
3. Museum Waja Sampai Kaputing (Wasaka): Menyimpan Senjata Perjuangan
Museum ini menyimpan koleksi senjata tradisional seperti mandau dan senapan lantak, serta dokumen proklamasi lokal. Namanya diambil dari semboyan perjuangan Banjar: "Waja Sampai Kaputing" (Baja Sampai ke Ujung).
- Lokasi: Gang H. Andir, Kampung Kenanga Ulu, dekat Sungai Martapura.
- Jam Buka: Selasa–Minggu, pagi hingga siang. Gratis masuk!
Baca juga: Menyusuri Jejak Perlawanan Rakyat Banjar di Kalimantan Selatan dalam Museum Wasaka
Rute Wisata & Tips Perjalanan
Agar lebih efisien, gabungkan kunjungan ke tiga lokasi utama dalam satu hari:
1. Pagi: Mulai di Museum Wasaka, lanjut ziarah ke Makam Pangeran Antasari.
2. Siang: Berangkat ke Benteng Oranje Nassau di Martapura (1,5 jam perjalanan).
3. Sore: Akhiri dengan eksplorasi Pasar Terapung Lokbaintan untuk pengalaman budaya sungai.
Tips Penting:
- Bawa peta offline, karena sinyal di sekitar benteng kadang terbatas.
- Gunakan jasa pemandu lokal di Martapura untuk cerita detail tentang lorong rahasia benteng.
- Kunjungi saat musim kemarau (Mei–September) agar akses lebih mudah.
Wisata sejarah Perang Banjar menawarkan lebih dari sekadar tur biasa. Setiap benteng, makam, dan museum adalah saksi bisu perlawanan rakyat Banjar yang pantang menyerah. Dengan mengunjunginya, kita tak hanya berwisata, tetapi juga menghargai perjuangan para pendahulu melawan kolonialisme.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Wikipedia, Wisato.id