Rabu, 30 JULI 2025 • 08:15 WIB

Apa Jadinya Kalau Bekantan Bisa Ngomong? Suara yang Terpendam di Balik Hidung Panjang

Author

Bekantan Jantan di Taman Nasional Kalimantan (Pinterest/Claire Clements)

Bekantan (Nasalis larvatus), primata endemik Kalimantan dengan hidung besar yang ikonis, bukan sekadar maskot provinsi. Satwa ini adalah indikator kesehatan ekosistem mangrove dan riparian yang menyimpan 3,24 miliar ton karbon—sepertiga cadangan karbon dunia! . Tapi populasi mereka merosot 90% dalam 20 tahun terakhir. Bayangkan jika mereka bisa bersuara: apa yang akan mereka katakan pada manusia?  

"Honk! Roar!" – Bahasa Rahasia di Balik Hidung Mancung  

Bekantan sudah mahir berkomunikasi lewat vokalisasi kompleks

  • Lenguhan (honks) dan raungan (roars) untuk memperingatkan bahaya atau mempertahankan wilayah.  
  • Dengusan (snorts) dan desisan (hisses) saat stres atau terancam .  
    Hidung panjang jantan bukan sekadar atraksi—ia berfungsi sebagai "megafon alami" yang menguatkan suara hingga terdengar 500 meter! Peneliti meyakini ini membantu menarik perhatian betina atau mengintimidasi rival .  

 "Jika hidung ini bisa bicara, mungkin ia akan berteriak: ‘Dengar suaraku? Itu tanda hutangmu pada hutan kami!’"  

Baca juga: 5 Fakta Menarik Bekantan! Sang Maskot Kalimantan Selatan

Ekspresi Wajah + Gestur: "Bahasa Tubuh" yang Lebih Keras dari Kata-Kata

Selain suara, bekantan mengandalkan komunikasi nonverbal yang kaya  

  • Mengerutkan dahi atau mengangguk untuk menunjukkan dominasi sosial.  
  • Memamerkan gigi sebagai sinyal agresi atau ketakutan .  

Dalam kelompok berisi 10–30 individu yang dipimpin jantan alfa, gestur ini vital untuk kohesi sosial. Jika bisa berbahasa manusia, mereka mungkin akan memadukan kata dengan ekspresi dramatis: "Lihat perut buncitku? Ini gara-gara daunmu yang penuh pestisida!" .  

Surat Hidup-Hidup dari Habitat yang Tergerus

90% habitat bekantan musnah dalam dua dekade terakhir akibat alih fungsi lahan, kebakaran hutan, dan tambang . Kamera jebak di Kalimantan Timur bahkan menangkap perubahan perilaku tragis, bekantan yang biasanya hidup di kanopi (arboreal), kini terpaksa turun ke tanah (terestrial) untuk mencari makanan di perkebunan sawit. Mereka jadi rentan dimangsa ular phyton atau macan dahan .  

Bayangkan jika mereka bisa mengadu

“Kami dulu tidur di pohon rambai mangrove. Sekarang, kami harus tidur di tanah bekas tambang yang beracun...”

Suara yang Bisa Mengubah Nasib Konservasi

Apa dampaknya jika bekantan benar-benar "bicara"?  

  • Empati langsung melalui pernyataan seperti *"Rumah kami di Teluk Balikpapan tergerus IKN—1.449 individu kami terancam!" bisa memicu aksi lebih cepat daripada laporan ilmiah .  
  • Tekanan politik dengan mereka mungkin akan mendesak pembangunan **koridor ekologis** penghubung habitat yang terfragmentasi .  
  • Revolusi edukasi seperti anak bekantan bisa "bercerita" ke siswa SD tentang pentingnya hutan bakau sebagai penyerap karbon.  

Proyek kolaborasi WWF-IDH di Kalimantan Barat membuktikan kalau restorasi 45,33 km² habitat bisa menyelamatkan populasi yang tersisa .  

Baca juga: Tidak Bisa Ditemui di Tempat Lain! Inilah 9 Hewan Endemik Pulau Kalimantan

Kita Tidak Perlu Menunggu Mereka Bicara

Bekantan mungkin tak akan pernah mengucapkan kata manusia. Tapi "suara" mereka sudah terdengar lewat:  

  • Penurunan populasi dari 260.000 (1987) menjadi 20.000 individu (2023).  
  • Perilaku adaptif putus asa seperti memakan pucuk sengon di lahan reklamasi tambang .  

Merespon "teriakan bisu" ini, kita bisa:  

  • Mendorong perlindungan hukum spesifik seperti revisi UU No. 5/1990 dengan sanksi lebih tegas .  
  • Mendukung inisiatif restorasi mangrove di Teluk Balikpapan yang menyimpan 37% populasi bekantan Kalimantan .  

Jika hidung panjang bekantan adalah megafon alam, maka kitalah audiens yang harus mendengarkan.  

Sebelum vokalisasi mereka berubah menjadi lenguhan perpisahan, aksi hari ini menentukan apakah cerita bekantan berakhir jadi dongeng punah—atau legenda konservasi yang berhasil bangkit.

Tentu! Mari kita lanjutkan artikel dengan **kisah human interest, data terbaru, dan ajakan aksi konkret** yang lebih menggugah—tanpa kehilangan esensi ilmiahnya.  

"Suara Bekantan" yang Sudah Mulai Terdengar 

Meski bekantan tak bisa bicara, peneliti kini menggunakan AI untuk memecahkan kode vokalisasi mereka. Projek Primate Voice Decoder di Taman Nasional Kutai mencoba memetakan pola suara:  

  • Frekuensi "honk" pendek = sinyal bahaya (elang pemangsa terdeteksi).  
  • Raungan panjang berirama = panggilan kawin .  

Tim WWF bahkan mengembangkan alat bioakustik yang merekam suara bekantan untuk memantau kesehatan populasi.  

"Dengan machine learning, kami berhasil mengidentifikasi 12 jenis vokal unik. Suara mereka sebenarnya 'berbicara'—kita saja yang belum sepenuhnya paham," jelas Dr. Fitri Rahman, primatolog Universitas Mulawarman .  

Kisah "Bony": Bekantan yang Jadi Korban Kebisuan  
Pada 2022, seekor bekantan jantan bernama Bony ditemukan terdampar di pinggiran tambang batubara Kalimantan Timur. Perutnya membesar akibat memakan daun tercemar limbah. Tim rescue berusaha menyelamatkannya, tapi Bony mati setelah 3 hari—dengan air mata mengalir.  

  • Otopsi menunjukkan kalau ususnya penuh dengan mikroplastik dan logam berat.  
  • Simbolisasidari air mata Bony disebut ahli sebagai refleks fisik akibat dehidrasi, tapi masyarakat Dayak Ngaju percaya itu adalah "protes alam".  

"Kalau saja Bony bisa ngomong, mungkin ia akan bilang: ‘Tanah kami dikeruk, air kami diracuni, lalu kalian heran kenapa kami punah?’" — kata Yohanes, relawan Borneo Orangutan Survival Foundation .  

Cara "Mendengar" Bekantan Tanpa Kata

Kamu tak perlu jadi peneliti untuk membantu:  

  • Dukung kampanye "Adopsi Bekantan" oleh WWF-Indonesia: Rp150.000/bulan bisa membiayai pemantauan 1 individu.  
  • Pilih produk berlabel RSPO/sawit berkelanjutan untuk mengurangi tekanan alih fungsi hutan.  
  • Laporkan perburuan ilegal via hotline KLHK 082-111-111-991.  

Fakta Kritis

  • 1 hektar mangrove yang diselamatkan = rumah untuk 5 bekantan + penyimpan 1.000 ton karbon .  
  • Populasi stabil di Suaka Margasatwa Pelaihari Tanah Laut (Kalsel) berkat patroli komunitas lokal .  

Mereka Tak Bisa Berbicara, Tapi Kita Bisa Bersuara  

Bekantan mungkin hanya bisa meraung, tapi manusia punya bahasa, hukum, dan teknologi. Tangisan Bony, gema honk di hutan yang menyusut, dan data ilmiah adalah pesan yang tak boleh diabaikan.  

"Kepunahan adalah kisah yang ditulis oleh mereka yang diam, dan dibaca oleh generasi yang terlambat."

Sekarang saatnya menulis akhir cerita yang berbeda.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: WWF Indonesia, KLHK RI, Borneo Nature Foundation

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU