Keadaan Banjarmasin pada malam hari (Pinterest/hurin'in)
Hidup seperti orang Banjar zaman dulu adalah sebuah perjalanan melintasi waktu—menyusuri sungai-sungai yang menjadi urat nadi kehidupan, merasakan hangatnya kayu ulin di rumah Bubungan Tinggi, dan larut dalam irama pantun serta rebana yang mengiringi hari-hari penuh makna. Masyarakat Banjar, dengan akar budaya yang kaya, menciptakan pola hidup harmonis antara manusia, alam, dan spiritualitas. Mari kita telusuri bagaimana sehari-hari mereka diisi oleh tradisi yang masih lestari hingga kini.
Pagi Hari: Bangun oleh Kokok Ayam dalam Nuansa Rumah Bubungan Tinggi
Sebelum jam tangan menjadi barang lazim, orang Banjar mengandalkan kokok ayam sebagai penanda waktu. Ayam-ayam berkeliaran di bawah kolong rumah panggung, menjadi bagian dari keseharian sekaligus sumber makanan untuk kenduri. Rumah Bubungan Tinggi, dengan atap curamnya yang ikonik, bukan sekadar tempat tinggal—melainkan simbol status, perlindungan, dan keseimbangan hidup. Setiap ukiran di dinding dan tiangnya mengandung makna filosofis, seperti motif flora dan kaligrafi Arab yang mencerminkan akulturasi Islam dengan budaya lokal .
Siang Hari: Aktivitas di Sungai dan Interaksi Sosial
Sungai adalah pusat kehidupan. Warga Banjar mengandalkan jukung tambangan (perahu tradisional) untuk transportasi, baik ke pasar terapung maupun kebun pasang surut. Aktivitas seperti bercocok tanam di lahan rawa atau berdagang hasil bumi menjadi pemandangan biasa. Di sini, interaksi sosial terjalin erat—dari obrolan santai di perahu hingga kerja sama mengolah lahan. Bahkan, kebiasaan memelihara ayam di kolong rumah tidak hanya untuk konsumsi, tetapi juga bagian dari ritual tolak bala .
Baca juga: Tradisi Baayun Maulid Dari Akulturasi Budaya dan Islam dalam Doa untuk Generasi Penerus
Ritual Keluarga: Dari Maayun Anak Hingga Pernikahan Adat
Kehidupan orang Banjar tak lepas dari tradisi turun-temurun. Salah satunya Maayun Anak (Baayun Mulud), ritual mengayun bayi dalam kain kuning (tapih bahalai) yang dihiasi daun jariangau dan katupat guntur. Ritual ini, yang awalnya berasal dari kepercayaan Kaharingan, kemudian diadaptasi dengan nilai-nilai Islam sebagai bentuk syukur dan doa .
Sementara itu, pernikahan adat Banjar adalah puncak dari serangkaian prosesi sakral. Dimulai dari Badudus (mandi bunga), pengantin wanita dikurung selama seminggu (*Bapingit*) sebelum akhirnya diarak ke pelaminan dengan iringan Sinoman Hadrah—tarian masal dengan rebana yang penuh semangat .
Malam Hari: Hiburan dari Madihin hingga Mamanda
Jika siang hari diisi kerja keras, malam adalah waktu untuk bersantai dan menikmati kesenian. *Madihin*, seni pantun berbalas dengan iringan gendang, kerap menghibur dengan syair-syair lucu sekaligus sindiran sosial. Sementara *Mamanda*, teater tradisional yang mirip Lenong, mempertunjukkan kisah-kisah moral dengan tokoh seperti raja dan perdana menteri .
Baca juga: Mamanda: Seni Teater Tradisional Kalsel
Tak ketinggalan, musik Panting dan Hadrah Al-Banjari mengisi acara-acara keagamaan dan perayaan. Alunan gambus kecil berdawai enam ini menjadi pengiring setia dalam berbagai momen penting masyarakat Banjar .
Meski zaman berubah, inti dari kehidupan orang Banjar tradisional masih bisa kita rasakan—baik melalui rumah adat yang tetap berdiri, kesenian yang terus dilestarikan, atau ritual-ritual penuh makna. Tradisi bukan sekadar romantisme masa lalu, melainkan warisan yang mengajarkan harmoni antara manusia, alam, dan spiritualitas.
Dengan memahami keseharian orang Banjar zaman dulu, kita bukan hanya mengenal budaya, tetapi juga belajar menghargai kearifan lokal yang tetap relevan hingga kini.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Dinas Kebudayaan Provinsi Kalimatan Selatan, Kajian Arsitektur & Masyarakat Banjar, Studi Folklor Banjar