Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Minggu, 27 JULI 2025 • 07:26 WIB

Menulis Puisi tentang Sungai Martapura Seperti Menyusun Kata di Atas Riak Kenangan

Menulis Puisi tentang Sungai Martapura Seperti Menyusun Kata di Atas Riak KenanganSiring P. Tendean di Banjarmasin (Pinterest/Aurora)

Sungai Martapura bukan sekadar aliran air—ia adalah cermin sejarah, denyut kehidupan, dan sumber inspirasi bagi penyair. Dari riak senjanya yang memantulkan wajah-wajah masa lalu hingga warnanya yang kian menguning oleh lumpur zaman, sungai ini menyimpan cerita yang layak dituangkan dalam puisi. Bagaimana menulis puisi tentang Sungai Martapura yang autentik, penuh makna, dan menyentuh hati? Mari telusuri langkah-langkahnya.  

Sungai Martapura: Lebih dari Sekadar Air

Membentang sepanjang 36,6 km dari Martapura hingga bermuara di Sungai Barito, Sungai Martapura adalah urat nadi budaya Banjar. Ia dikenal dengan banyak nama seperti Kayutangi River dari masa Kesultanan Banjar, China River karena jejak pedagang Tionghoa di hilirnya, atau Sungai Tatas yang menjadi pusat kota Banjarmasin .  

Baca juga: Estetika Jembatan Barito dari Berbagai Sudut

Bagi masyarakat Banjar, sungai ini adalah tempat mandi, mencuci, berdagang di pasar terapung, hingga mengangkut hasil bumi dengan jukung tambangan. Namun, di balik keindahannya, sungai ini juga menghadapi ancaman pencemaran—mulai dari limbah domestik hingga logam berat seperti besi dan tembaga yang melebihi ambang batas.

Puisi sebagai Refleksi, Belajar dari Jamal T. Suryanata 

Puisi Sungai Martapura karya Jamal T. Suryanata (2004) menjadi contoh sempurna bagaimana sungai bisa dijadikan metafora kehidupan. Dalam bait-baitnya, ia menulis:  

"memandang lama-lama riak sungai di ujung senja 

serasa bersitatap dengan wajah sendiri dalam seribu cermin"  

Sungai di sini bukan hanya pemandangan, melainkan ruang bercermin—tempat manusia berdialog dengan masa lalunya. Ia juga menggambarkan degradasi lingkungan:  

"yang airnya semakin menguning bercampur lumpur jelaga 

adalah sungai kenangan yang terus ditimbun hiruk peradaban"

Puisi ini mengajarkan bahwa menulis tentang sungai harus menggabungkan keindahan alam, kedalaman filosofis, dan kepedulian ekologis.  

Tips Menulis Puisi tentang Sungai Martapura

1. Gunakan Gambaran Sensorik

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Puisi Sungai Martapura – Jamal T. Suryanata (2004), Data Ekologi & Pencemaran Sungai Martapura, Sejarah & Geografi Sungai Martapura

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Menulis Puisi tentang Sungai Martapura Seperti Menyusun Kata di Atas Riak Kenangan

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!