Bekantan Jantan di Taman Nasional Kalimantan (Pinterest/Claire Clements)
Bekantan (Nasalis larvatus), primata endemik Kalimantan dengan hidung besar yang ikonis, bukan sekadar maskot provinsi. Satwa ini adalah indikator kesehatan ekosistem mangrove dan riparian yang menyimpan 3,24 miliar ton karbon—sepertiga cadangan karbon dunia! . Tapi populasi mereka merosot 90% dalam 20 tahun terakhir. Bayangkan jika mereka bisa bersuara: apa yang akan mereka katakan pada manusia?
"Honk! Roar!" – Bahasa Rahasia di Balik Hidung Mancung
Bekantan sudah mahir berkomunikasi lewat vokalisasi kompleks
"Jika hidung ini bisa bicara, mungkin ia akan berteriak: ‘Dengar suaraku? Itu tanda hutangmu pada hutan kami!’"
Baca juga: 5 Fakta Menarik Bekantan! Sang Maskot Kalimantan Selatan
Ekspresi Wajah + Gestur: "Bahasa Tubuh" yang Lebih Keras dari Kata-Kata
Selain suara, bekantan mengandalkan komunikasi nonverbal yang kaya
Dalam kelompok berisi 10–30 individu yang dipimpin jantan alfa, gestur ini vital untuk kohesi sosial. Jika bisa berbahasa manusia, mereka mungkin akan memadukan kata dengan ekspresi dramatis: "Lihat perut buncitku? Ini gara-gara daunmu yang penuh pestisida!" .
Surat Hidup-Hidup dari Habitat yang Tergerus
90% habitat bekantan musnah dalam dua dekade terakhir akibat alih fungsi lahan, kebakaran hutan, dan tambang . Kamera jebak di Kalimantan Timur bahkan menangkap perubahan perilaku tragis, bekantan yang biasanya hidup di kanopi (arboreal), kini terpaksa turun ke tanah (terestrial) untuk mencari makanan di perkebunan sawit. Mereka jadi rentan dimangsa ular phyton atau macan dahan .
Bayangkan jika mereka bisa mengadu
“Kami dulu tidur di pohon rambai mangrove. Sekarang, kami harus tidur di tanah bekas tambang yang beracun...”
Suara yang Bisa Mengubah Nasib Konservasi
Apa dampaknya jika bekantan benar-benar "bicara"?
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: WWF Indonesia, KLHK RI, Borneo Nature Foundation