Teater Tradisional Khas Kalimantan Selatam yaitu Mamanda (Pinterest/jeje)
Mamanda adalah seni teater tradisional yang berasal dari Kalimantan Selatan (Kalsel), khususnya Banjarmasin. Lebih dari sekadar hiburan, Mamanda menjadi media pendidikan karakter dan pelestarian nilai-nilai budaya Banjar. Berikut ulasan lengkap tentang sejarah, karakteristik, dan upaya pelestariannya.
Asal-Usul dan Sejarah Mamanda
Mamanda berakar dari kesenian Badamuluk, yang dibawa oleh rombongan Abdoel Moelock dari Malaka pada tahun 1897. Awalnya dikenal sebagai Komedi Indra Bangsawan, kesenian ini berevolusi seiring waktu. Nama "Mamanda" sendiri muncul karena kebiasaan pemain memperkenalkan diri dengan awalan "Mamanda", yang kemudian melekat di ingatan penonton.
Perkembangan Mamanda tercatat sejak abad ke-11 dengan pengaruh Wayang Urang dari Jawa, lalu semakin berkembang pada abad ke-20. Pada 1937, lahir aliran Tubau di Desa Tubau Rantau, yang dikenal lebih adaptif terhadap modernisasi. Pada 2017/2018, Mamanda resmi didaftarkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB).
Karakteristik Unik Mamanda
1. Interaksi dengan Penonton
Mirip dengan Lenong Betawi, Mamanda melibatkan penonton secara aktif melalui komentar lucu, menciptakan suasana partisipatif.
2. Bahasa Multidialek
Menggunakan Bahasa Banjar Hulu, Banjar Kuala, Melayu Banjar, dan Bahasa Indonesia untuk menjangkau audiens lebih luas. Humor dalam Mamanda sering kali memanfaatkan nuansa dialek ini.
3. Struktur Pertunjukan
4. Musik Pengiring
Mamanda tradisional diiringi alat musik seperti biola, gendang, atau orkes melayu. Aliran Tubau bahkan mengadaptasi musik populer untuk menarik generasi muda.
Nilai Budaya dan Fungsi Edukatif
Mamanda sarat dengan pesan moral, seperti:
Sekarang, Mamanda menghadapi tantangan serius dalam pelestariannya. Krisis regenerasi pelaku seni terjadi karena minimnya pengajar kompeten dan kurangnya insentif ekonomi bagi seniman. Dokumentasi yang terbatas dan tergerusnya popularitas oleh hiburan modern semakin memperparah kondisi.
Berbagai upaya dilakukan untuk menjawab tantangan ini. Pemprov Kalsel menggelar lokakarya dan program regenerasi melibatkan seniman senior dan pelajar. Empat "pakem" inti seperti Tari Ladon sedang didaftarkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda. Adaptasi seperti durasi lebih singkat dan tema kontemporer dilakukan tanpa mengorbankan keaslian. Taman Budaya Kalsel rutin mengadakan pementasan, sementara akademisi didorong meneliti naskah-naskah Mamanda.
Meski masih eksis, Mamanda menghadapi tantangan serius:
Saat ini ada beberapa upaya yang Dilakukan, termasuk
Mamanda adalah warisan budaya yang terus beradaptasi tanpa kehilangan jati diri. Pelestariannya membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, seniman, dan masyarakat. Dengan menjaga "pakem" seperti Ladon sambil berinovasi, Mamanda bisa tetap relevan untuk generasi mendatang.
Tertarik menyaksikan langsung?
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Radar Banjarmasin, Neliti, Ambisius Wiki