KALSEL – Jika Anda berkendara di jalan-jalan lama Kalimantan Selatan, khususnya di sekitar Banjarmasin, Anda mungkin akan mendengar sebutan seperti “Pal 7” untuk menunjuk suatu lokasi. Bagi yang asing, istilah ini terdengar seperti kode rahasia. Namun, bagi warga setempat, ini adalah warisan sejarah yang masih hidup, sebuah penanda lokasi yang akrab dan penuh cerita.
Dari “Paal” ke “Pal”: Sebuah Warisan Kolonial
Kata “pal” sejatinya berasal dari bahasa Belanda, paal, yang berarti tiang, tonggak, atau patok. Pada masa kolonial Hindia Belanda, pemerintah menjadikan paal sebagai penanda jarak resmi di sepanjang jalan. Tonggak-tonggak batu atau kayu ini berfungsi mirip milestone, memberikan informasi jarak tempuh kepada para pelancong, pedagang, dan aparat pemerintah. Seiring waktu, istilah Belanda itu diserap dan disederhanakan menjadi “pal” dalam bahasa Melayu lokal, melekat erat dalam memori kolektif masyarakat.
Berapa Jarak Satu Pal? Konversi yang Melegenda
Pertanyaan yang sering muncul adalah, berapa sebenarnya jarak satu pal? Sumber-sumber populer dan sejarah lokal konsisten menyebutkan angka sekitar 1,5 kilometer. Angka ini merupakan pembulatan dari nilai historis yang lebih persis, yang tercatat dalam berbagai peta kolonial.
Baca juga: Bahasa Banjar: Jejak Akulturasi Dayak, Melayu, dan Jawa di Kalimantan
Meski bisa terdapat variasi kecil tergantung daerah dan periode, angka 1,5 km telah menjadi patokan praktis yang dipegang masyarakat. Jadi, ketika seseorang menyebut “Pal 7”, itu kira-kira menandai area yang berjarak sekitar 10,5 km dari titik nol-nya.
Pal dalam Keseharian Masyarakat Banjar: Lebih dari Sekadar Angka
Keunikan istilah ini terletak pada bagaimana ia diadopsi dan digunakan oleh masyarakat Banjar. “Pal” tidak lagi sekadar penanda jarak pasif, tetapi telah bertransformasi menjadi toponimi—nama tempat yang hidup. Contoh paling nyata adalah “Pal 7” di Kertak Hanyar, yang dikenal sebagai lokasi Pasar Ahad.
Penamaan ini merupakan sisa dari sistem penomoran pal pada rute lama Banjarmasin–Martapura. Istilah ini telah menjadi bagian dari identitas lokasi, mudah diucapkan dan dikenali, menunjukkan bagaimana warisan kolonial diolah menjadi bagian dari kearifan lokal.
Baca juga: 17 Caption Singkat tentang Minuman Cokelat dalam Bahasa Inggris, Bikin Feed Makin Manis
Nuansa Bahasa: Hati-hati dengan Homofon
Sebagai catatan menarik, dalam kosakata Bahasa Banjar, kata “pal” atau “paal” juga memiliki arti lain yang tidak berkaitan dengan penanda jarak. Ini menjadikannya homofon—kata yang bunyinya sama tetapi maknanya berbeda.
Konteks percakapan menjadi kunci untuk membedakan apakah seseorang sedang membicarakan sebuah lokasi (“kita ketemu di Pal 5”) atau menggunakan kata dalam makna lainnya. Nuansa linguistik ini menambah kekayaan sekaligus kerumitan dalam menelusuri makna kata sederhana ini.
"Pal” adalah lebih dari sekadar istilah usang; ia adalah saksi bisu perjalanan sejarah dan adaptasi budaya. Dari tonggak kolonial, ia berevolusi menjadi penuntun arah yang dipahami oleh generasi demi generasi masyarakat Kalimantan Selatan.
Baca juga: 101 Caption Makan Siang Singkat Bahasa Inggris, Lucu Aesthetic!
Keberadaannya mengingatkan kita bahwa sejarah seringkali terpahat bukan hanya dalam buku, tetapi juga dalam nama-nama tempat yang kita sebut sehari-hari. Melestarikan pemahaman tentang asal-usulnya sama dengan menjaga sebuah fragmen memori kolektif yang terus hidup.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Kemendikbud, Wikipedia, Berita Banjarmasin