Gambar sebuah aliran sungai (Pinterest/borhanudin mansor)
KALSEL ‐ Kalimantan Selatan, sebuah provinsi yang diukir oleh air. Di sini, sungai bukan sekadar aliran, tetapi nadi kehidupan, jalur perdagangan, dan penentu peradaban. Setiap tetes air hujan yang jatuh di Pegunungan Meratus memulai perjalanan panjang, mengikuti gravitasi menuju dua tujuan utama: Delta Barito yang megah di Laut Jawa atau perairan pesisir tenggara yang menghadap Selat Makassar.
Sungai Barito bagaikan aorta raksasa yang menopang kehidupan Kalimantan Selatan. Alirannya yang membentang dari Kalimantan Tengah menjadi jalur utama bagi air dan lalu lintas. Keunikan sistem ini terletak pada kemampuannya menampung begitu banyak "anak sungai" sebelum akhirnya bermuara ke Laut Jawa.
Coba bayangkan Sungai Martapura dan Sungai Negara. Keduanya adalah sungai besar, namun pada akhirnya, mereka menyatu dalam pelukan Sungai Barito di kawasan Banjarmasin dan Marabahan. Konfluensi atau pertemuan air ini menciptakan sebuah delta yang luas dan kompleks di Kabupaten Barito Kuala. Delta inilah yang menjadi gerbang utama Kalsel ke Laut Jawa, sebuah kawasan yang tak hanya kaya sedimentasi tetapi juga menjadi rumah bagi budaya unik seperti Pasar Terapung.
Baca juga: Barabai, Sang Paris van Borneo yang Memesona Sejak Zaman Kolonial
Namun, kemegahan ini diiringi tantangan. Pendangkalan akibat sedimentasi yang tinggi menjadi perhatian serius bagi kelancaran pelayaran dan pengelolaan lingkungan.
Sementara Barito mendominasi bagian barat, wajah lain Kalsel terpancar dari pesisir tenggaranya. Di kabupaten seperti Kotabaru, Tanah Bumbu, dan Batulicin, pola aliran sungai lebih langsung dan mandiri. Pegunungan Meratus di sini membelokkan aliran air langsung ke selatan dan tenggara.
Sungai-sungai seperti Kusan, Satui, dan Batulicin tidak bergabung dengan Barito. Mereka mengalir dengan caranya sendiri, bermuara langsung ke perairan selat yang memisahkan Pulau Laut dari daratan utama, yang terhubung dengan Selat Makassar. Muara-muara ini menjadi saksi bisu denyut ekonomi yang berbeda. Di sini, pelabuhan-pelabuhan batubara beroperasi, menjadikan sungai sebagai jalur logistik komoditas andalan daerah. Sayangnya, aktivitas industri ini kerap menimbulkan tantangan tersendiri, seperti laporan pencemaran di sekitar Sungai Satui yang memerlukan perhatian lebih.
Baca juga: Kalimantan Selatan: Pesona Permata dan Warisan Budaya di Atas Sungai
Pola aliran yang terbagi dua ini bukanlah kebetulan. Ia adalah cerminan langsung dari topografi yang diciptakan oleh bentang Pegunungan Meratus. Bukit-bukit yang membujur di tengah provinsi bertindak sebagai pemisah alami (watershed). Air yang mengalir di lereng barat dan selatan akan tertarik ke dalam Cekungan Barito yang luas. Sebaliknya, air yang berada di lereng selatan-timur akan mengalir langsung menuju pesisir, menciptakan jaringan sungai yang lebih independen.
Dengan memahami jalur-jalur air ini, kita bukan hanya membaca peta geografis, tetapi juga menyelami denyut nadi ekonomi, budaya, dan ekologi Kalimantan Selatan. Sungai-sungai ini adalah warisan yang menghidupi, menggerakkan, dan menantang untuk dikelola dengan bijak.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan III, Kementerian PUPR., Puskominfo-ppdi.or.id