Kenapa Amuntai Disebut Kota Bertakwa? Ini Sejarah dan Karakternya! (Weni Setyomukti)
Bagi masyarakat Kalimantan Selatan, setiap daerah sering kali memiliki julukan unik yang mencerminkan identitasnya. Salah satu yang paling melekat di telinga adalah Kota Amuntai, ibu kota dari Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU). Kota yang terkenal dengan lanskap sungainya yang eksotis dan kerajinan anyamannya ini menyandang julukan sebagai Kota Bertakwa.
Namun, pernahkah Anda bertanya-tanya dari mana asal-usul julukan tersebut? Mengapa kata "Bertakwa" begitu identik dengan kota ini? Jawabannya terletak pada perpaduan antara falsafah tata kota, sejarah penyiaran Islam, dan urat nadi kehidupan masyarakatnya yang sangat agamis.
Falsafah Slogan Daerah yang Sarat Makna
Secara formal, julukan Kota Bertakwa tidak muncul begitu saja. Kata "BERTAKWA" sebenarnya merupakan sebuah akronim atau slogan pembangunan yang digunakan oleh pemerintah daerah setempat. Akronim ini kepanjangan dari Bersih, Tertib, Aman, Koveratif, Berwibawa, dan Agamis.
Slogan ini diciptakan sebagai visi bersama untuk membangun daerah yang tidak hanya maju secara fisik dan infrastruktur, tetapi juga unggul dalam nilai-nilai moral. Dari sekian banyak poin dalam akronim tersebut, unsur "Agamis" dan "Aman" adalah yang paling kuat dirasakan oleh siapa saja yang berkunjung ke Amuntai, sehingga masyarakat luas lebih mengenalnya sebagai kota yang religius atau bertakwa dalam arti yang sesungguhnya.
Jejak Sejarah dan Napas Keislaman yang Kental
Alasan mendalam kenapa Amuntai disebut Kota Bertakwa adalah sejarah panjangnya sebagai salah satu pusat pendidikan Islam di tanah Borneo. Sejak zaman dahulu, wilayah Hulu Sungai merupakan tempat lahir dan berkumpulnya para ulama kharismatik.
Di kota ini, berdiri berbagai pondok pesantren tua yang telah mencetak ribuan santri dari berbagai penjuru Kalimantan. Keberadaan institusi pendidikan Islam tradisional dan modern di Amuntai membentuk karakter masyarakat yang taat beragama. Atmosfer religius ini bisa Anda rasakan langsung melalui lantunan ayat suci Al-Qur'an yang kerap terdengar dari pengeras suara masjid dan langgar (mushola) di setiap sudut kota, terutama menjelang waktu salat.
Budaya Masyarakat yang Berlandaskan Syariat
Julukan Kota Bertakwa juga tercermin jelas dari adat istiadat dan perilaku sosial warganya. Mayoritas suku Banjar yang mendiami Amuntai memegang teguh prinsip hidup yang selaras dengan nilai-nilai Islam. Kegiatan keagamaan seperti majelis taklim, pengajian rutin, peringatan hari besar Islam, hingga tradisi haul para ulama selalu dipadati oleh ribuan jamaah.
Kepatuhan terhadap norma agama ini juga menciptakan lingkungan sosial yang relatif aman, ramah, dan penuh rasa gotong royong. Pedagang di pasar-pasar tradisional Amuntai dikenal menjunjung tinggi kejujuran dalam bertransaksi, sebuah implementasi nyata dari nilai takwa dalam kehidupan sehari-hari.
Menyebut Amuntai sebagai Kota Bertakwa bukan sekadar urusan plang nama di gerbang perbatasan. Julukan ini adalah cerminan dari jiwa masyarakat Hulu Sungai Utara yang menempatkan agama sebagai fondasi utama dalam kehidupan bermasyarakat, berbudaya, dan bernegara. Kombinasi antara visi pemerintah yang bersih dan ketaatan warganya membuat Amuntai tetap berdiri kokoh dengan identitas religiusnya yang khas di tengah arus modernisasi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Berbagai Sumber