Pemandangan Bukit Matang Keladan, Aranio, Kab. Banjar, Kalimantan Selatan (Pinterest/Pampes)
KALSEL - Kalimantan Selatan adalah sebuah kanvas yang di atasnya terpapar beragam corak kehidupan, masing-masing dibentuk oleh interaksi unik antara manusia, alam, dan warisan budayanya. Dari rumah-rumah yang menjorok ke sungai hingga etika komunal yang kental, gaya hidup di wilayah ini menceritakan kisah tentang adaptasi dan identitas. Mari menelusuri perbedaan gaya hidup antardaerah di Kalimantan Selatan, mengungkap bagaimana geografi, ekonomi, dan nilai-nilai budaya membentuk keseharian masyarakatnya!
Bagi masyarakat Banjarmasin dan kawasan tepian sungai, sungai bukan sekadar jalur transportasi, melainkan ruang hidup yang menyeluruh. Jiwa kota ini terletak pada pasar terapungnya, seperti Muara Kuin dan Lok Baintan, di mana aktivitas jual-beli, interaksi sosial, dan warisan budaya bertemu di atas air.
Aktivitas dimulai pagi buta, membentuk ritme kerja dan konsumsi yang khas. Masyarakat terbiasa sarapan dengan hidangan tradisional seperti soto Banjar atau ketupat kandangan di sekitar area sungai. Perempuan memainkan peran sentral sebagai pedagang, menunjukkan dinamika ekonomi mikro yang unik. Pola permukiman dengan rumah yang menghadap sungai semakin menegaskan bahwa kehidupan di sini terintegrasi penuh dengan air, sebuah gaya hidup yang jarang ditemui di kota-kota metropolitan modern .
Baca juga: Banjar Core: Menyatukan Warisan Sasirangan dengan Gaya Kekinian Anak Muda
Beralih ke Martapura, gaya hidup masyarakatnya dibentuk oleh spesialisasi ekonomi yang mendunia: perdagangan batu permata dan kerajinan perhiasan. Kota ini tidak hanya menjadi pusat ekonomi, tetapi juga pusat identitas yang khas.
Kehidupan sosial dan ekonominya sangat berorientasi pada pasar dan jaringan perdagangan. Banyak keluarga terlibat dalam usaha mikro dan kecil-menengah, baik sebagai pedagang batu, pengrajin perhiasan, maupun distributor. Gaya hidupnya pun menunjukkan kombinasi antara nilai-nilai religius yang kuat (Martapura dikenal sebagai "Kota Serambi Mekah") dengan dinamika perdagangan yang gesit dan terbuka terhadap jaringan bisnis lintas daerah.
Berbeda dengan kedua wilayah urban tersebut, kawasan pedalaman seperti Hulu Sungai menawarkan gambaran gaya hidup yang lebih komunal dan agraris. Basis ekonomi utamanya adalah pertanian dan hasil pekarangan, yang secara langsung memengaruhi pola konsumsi dan ritme kehidupan sehari-hari.
Baca juga: Barabai, Sang Paris van Borneo yang Memesona Sejak Zaman Kolonial
Masyarakatnya dikenal sangat menjunjung tinggi nilai-nilai kebersamaan dan gotong royong. Interaksi sosial lebih intens dan hubungan kekerabatan sangat kuat. Norma-norma adat berpengaruh besar dalam mengatur berbagai aspek kehidupan, mulai dari ritual bersama hingga tata cara berkeluarga. Gaya hidup di sini berporos pada jaringan keluarga dan komunitas, dengan konsumsi yang sangat bergantung pada hasil bumi lokal .
Di balik keragaman gaya hidup tersebut, terdapat nilai-nilai budaya Banjar yang menjadi fondasi bersama. Nilai-nilai seperti "gawi manuntung" (bekerja hingga tuntas) dan tanggung jawab sosial mengakar kuat dalam praktik keseharian masyarakat . Konstruksi kecantikan, pola pengasuhan, dan estetika juga tak lepas dari nilai-nilai lokal ini.
Kekuatan nilai-nilai ini menjelaskan mengapa banyak tradisi mampu bertahan menghadapi modernisasi. Program-program publik di wilayah ini, agar efektif, perlu diselaraskan dengan nilai-nilai adat setempat. Produk dan jasa lokal yang mampu mengapresiasi dan mengintegrasikan nilai-nilai ini biasanya lebih mudah diterima oleh masyarakat.
Baca juga: Kalimantan Selatan: Pesona Permata dan Warisan Budaya di Atas Sungai
Proses urbanisasi dan migrasi turut membentuk wajah baru gaya hidup di Kalimantan Selatan. Tradisi-tradisi lama tidak serta-merta hilang, tetapi bertransformasi. Pasar terapung, misalnya, kini juga berfungsi sebagai daya tarik wisata yang penting. Pola berpakaian dan berperilaku masyarakat pun menunjukkan hibridisasi yang unik antara unsur modern dan elemen budaya Banjar yang khas.
Dinamika ini menunjukkan bahwa gaya hidup di Kalimantan Selatan bukanlah entitas yang statis. Ia terus bergerak, beradaptasi dengan zaman, namun tetap berusaha mempertahankan jati diri yang dibentuk oleh sungai, permata, dan semangat komunalitasnya yang khas.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: BPS Provinsi Kalimantan Selatan, Kompas, STIKes Husada Borneo