Suasana bahari dimana semua perempuan berkumpul (Pinterest/potolawas)
KALSEL - Di jantung Kalimantan Selatan, tersembunyi sebuah kota yang pernah dijuluki "Paris van Borneo" oleh pemerintahan kolonial Belanda. Barabai, ibu kota Kabupaten Hulu Sungai Tengah ini, menyimpan warisan sejarah dan pesona alam yang membuatnya layak disandingkan dengan kota mode dunia tersebut.
Barabai bukan sekadar kota biasa di Kalimantan Selatan. Sejak era kolonial, kota ini telah menjadi pusat permukiman elit dan wahana rekreasi Belanda yang penting di Borneo. Gelar "Paris van Borneo" atau "Bandoeng van Borneo" consistently dilekatkan para penulis sejarah berkebangsaan Belanda untuk menggambarkan keindahan ibukota Kabupaten Hulu Sungai Tengah ini .
Berdasarkan Staatblaad Tahun 1898 Nomor 178, Barabai yang saat itu bernama Onderafdeeling Batang Alai en Labooan Amas dipimpin seorang Controller setingkat bupati di era sekarang . Status administratif ini menunjukkan betapa pentingnya kedudukan Barabai dalam struktur pemerintahan kolonial Hindia Belanda.
Baca juga: Kalimantan Selatan: Pesona Permata dan Warisan Budaya di Atas Sungai
1. Lanskap Alam yang Memukau
Barabai dikelilingi perbukitan Pegunungan Meratus yang berbaris rapi dengan udara sejuk yang tak biasa untuk wilayah Kalimantan . Kondisi geografis inilah yang pertama kali menarik perhatian Belanda untuk mengembangkan Barabai sebagai kawasan permukiman dan rekreasi mereka.
2. Pembangunan Bergaya Eropa
Di bawah kepemimpinan Gerard Louwrens Tichelman, Controleur Belanda di Barabai pada 1926-1929, pembangunan ala Eropa merasuki "Kota Apam" - julukan lain Barabai . Tichelman mendesain kota ini menuju kota modern ala Paris, Perancis dengan berbagai fasilitas canggih pada masanya.
3. Fasilitas Modern di Era Kolonial
Barabai dilengkapi berbagai fasilitas modern yang langka untuk zamannya, antara lain:
Baca juga: Bahasa Banjar: Jejak Akulturasi Dayak, Melayu, dan Jawa di Kalimantan
Meskipun banyak bangunan kolonial yang telah berubah fungsi, jejak-jejak kejayaan Barabai sebagai Paris van Borneo masih dapat ditelusuri. Taman Dwi Warna yang dahulu merupakan alun-alun peninggalan Belanda dengan pohon-pohon besar yang ditanam sejak zaman kolonial, menjadi salah satu bukti peninggalan yang masih tersisa .
Pada tahun 1930-an, Barabai digambarkan sebagai satu-satunya tempat di Hulu Sungai yang dialiri listrik, tempat seseorang menikmati kemewahan kehidupan metropolitan dengan klub malam, lapangan tenis bercahaya listrik, dan klub sepak bola . Bahkan komunikasi pos dengan Belanda hanya memakan waktu 7 hari berkat pesawat Knilm yang membawa surat secara rutin .
Meski waktu telah berlalu, julukan Paris van Borneo tetap melekat pada Barabai sebagai bukti sejarah kejayaannya di masa lampau. Kombinasi antara pesona alam Pegunungan Meratus, udara sejuk, dan warisan sejarah menjadikan Barabai sebagai destinasi yang unik di Kalimantan Selatan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Wikipedia, Meratus Geopark, ANTARA