Pasar Terapung (Pinterest/Beth)
KALSEL - Kalimantan Selatan seringkali hanya dikenali melalui kota Banjarmasin dan sungai-sungainya yang legendaris. Namun, di balik itu, provinsi ini menyimpan catatan-catatan unik yang membentuk identitasnya sebagai wilayah yang kaya akan sejarah, budaya, dan sumber daya alam. Berikut adalah lima fakta istimewa yang mungkin belum banyak terekspos.
Martapura di Kabupaten Banjar bukan sekadar nama biasa. Kota ini telah lama menjadi pusat penambangan, pengasahan, dan perdagangan intan di Indonesia. Keahlian masyarakat dalam mendulang dan menggosok intan telah mengukir reputasi Martapura yang berkilau, menjadikannya destinasi wajib bagi para pencinta batu mulia. Aktivitas pendulangan dan penggosokan intan masih dapat disaksikan langsung di kota ini, yang terus menjadi jantung industri permata nasional .
Pasar Terapung di aliran Sungai Barito dan Sungai Martapura, seperti Pasar Muara Kuin dan Pasar Lok Baintan, adalah warisan budaya yang masih hidup . Lebih dari sekadar atraksi wisata, pasar ini mencerminkan sistem perdagangan sungai yang telah menjadi urat nadi perekonomian lokal sejak era Kesultanan Banjar.
Baca juga: Bahasa Banjar: Jejak Akulturasi Dayak, Melayu, dan Jawa di Kalimantan
Aktivitas jual-beli hasil bumi dan kue tradisional langsung dari perahu-perahu ini berlangsung dari subuh hingga pukul sembilan pagi, menggambarkan harmoni antara kehidupan masyarakat dan sungai .
Sebelum Kesultanan Banjar berdiri, wilayah ini telah diperintah oleh kerajaan-kerajaan Hindu, yaitu Negara Dipa dan Negara Daha. Peninggalan sejarah ini, seperti Candi Agung di Amuntai, memberikan narasi yang lebih dalam tentang akar budaya Kalimantan Selatan, melampaui cerita yang umumnya diketahui dari panduan wisata .
Banjarmasin, ibu kota provinsi, adalah contoh nyata kota yang beradaptasi dengan alam. Kondisi topografinya yang rendah membentuk budaya urban yang unik, di mana rumah panggung, transportasi perahu, dan pasar terapung bukanlah sekadar pajangan, melainkan bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari.
Baca juga: Suku Banjar: Menelusuri Jejak Peradaban Sungai di Kalimantan
Arsitektur adaptif ini, termasuk Rumah Lanting (rumah terapung), awalnya dibangun untuk mendukung kegiatan ekonomi masyarakat, seperti memelihara ikan dalam kotak kayu, dan kini telah dijadikan objek wisata .
Keistimewaan Martapura tidak hanya terletak pada intan mentahnya. Di sini, telah tumbuh ekosistem permata yang lengkap, melibatkan para penambang, pemotong batu, pengrajin perhiasan, dan penjual cenderamata . Keberadaan ekosistem inilah yang mengukuhkan Martapura bukan hanya sebagai sumber bahan baku, tetapi juga sebagai pusat kerajinan dan perdagangan permata yang penting di Indonesia.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Palpos.id, Times Indonesia, Pilar Kalimantan