Suku dayak dan Suku Banjar yang sedang menari bersama (Pinterest/Albertus Rico)
KALSEL - Di balik popularitas "Ampar-Ampar Pisang", tersimpan kekayaan musik tradisional Kalimantan Selatan yang mulai jarang terdengar. Lagu-lagu ini merupakan khazanah budaya Banjar yang sarat dengan nilai-nilai kehidupan, namun sayangnya kurang mendapat perhatian di era modern.
Lagu-lagu daerah Kalsel tidak hanya sekadar hiburan, tetapi juga berfungsi sebagai media pendidikan dan penyampai pesan moral. Ciri khasnya terletak pada penggunaan bahasa Banjar, melodi yang repetitif, serta lirik yang sering kali berbentuk pantun
1. Saputangan Babuncu Ampat
Karya Zaini dari Taboneo Group ini adalah lagu yang liriknya menyerupai pantun dan mengandung pesan moral mendalam . Lagu ini mengajarkan tentang pentingnya menjaga hubungan sosial tanpa menyakiti perasaan orang lain.
Baca juga: Sound Lagu Minang Yang Populer di Tahun 2025. Apa Saja Ya?
"Luka nang di tangan, Kawa dibabat. Luka nang di hati, Tabawa mati," begitulah penggalan liriknya yang berarti luka di tangan bisa diobati, tetapi luka di hati dibawa sampai mati . Pesan ini relevan dengan kehidupan sehari-hari tentang pentingnya memelihara keharmonisan hubungan.
2. Ampat Lima
Lagu berbahasa Banjar ini berisi nasihat tentang jodoh dan kehidupan percintaan masyarakat Banjar . Lagu ini menggambarkan tahapan muda-mudi sebelum menikah dan menyiratkan pesan agar percaya pada takdir .
"Banyak urang nang maantar tapih, salambar-lambar kada bakain" yang artinya "Banyak orang yang mengantarkan kain, selembar-lembar tidak jadi kain," melambangkan proses pencarian jodoh yang tidak selalu langsung berhasil
3. Baras Kuning
Baca juga: KAI Daop 3 Cirebon Apresiasi Ahli Waris Pencipta Lagu “Kota Cirebon”
Diciptakan oleh Rasni/Dino, Baras Kuning sering digunakan sebagai pengiring tarian tradisional dalam acara-acara besar . Lagu ini mengisahkan kerinduan kepada orang terkasih yang pergi meninggalkan kampung halaman, sekaligus mengajarkan rasa cinta kepada keluarga dan tanah kelahiran.
4. Japin Rantau
Karya A. Hamid ini biasanya dinyanyikan bersama tarian Japin Rantauan . Berbeda dengan lagu lainnya, Japin Rantau memiliki nuansa religius yang kuat dengan lirik yang mengandung nilai-nilai Islam . Lagu ini membahas tentang para ulama penyebar agama Islam di Kalimantan Selatan.
Minimnya dokumentasi dan jarangnya lagu-lagu ini diajarkan secara formal menjadi faktor utama kelangkaannya . Generasi muda lebih familiar dengan musik modern daripada lagu daerah yang notabene merupakan warisan leluhur mereka.
Baca juga: Kalimantan Bergerak: Mengungkap Perjalanan Tektonik Pulau Borneo
Beberapa upaya pelestarian yang dapat dilakukan antara lain:
- Pendokumentasian secara komprehensif baik audio maupun partitur
- Pengenalan melalui pendidikan formal dan informal
- Modernisasi aransemen tanpa menghilangkan esensi tradisional
Lagu-lagu daerah Kalimantan Selatan yang jarang diketahui ini merupakan cerminan kearifan lokal masyarakat Banjar . Melestarikannya bukan hanya tentang menjaga musik, tetapi juga tentang merawat identitas budaya dan nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya .
Dengan memahami dan melestarikan lagu-lagu ini, kita turut serta menjaga warisan budaya Indonesia yang begitu kaya dan berharga untuk generasi mendatang.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Media Indoensia, Kumparan, Haibunda