Taman Hutan Raya Sultan Adam (Pinterest/Sheila Landus)
Sebagai paru-paru dunia, Pulau Kalimantan menyimpan kekayaan alam yang luar biasa. Namun, di balik pesonanya, pulau terbesar di Indonesia ini menghadapi ancaman bencana alam yang kian meningkat intensitasnya. Berbeda dengan wilayah Indonesia lainnya yang rawan gempa, ancaman utama di Kalimantan justru berasal dari fenomena hidrometeorologi.
Berdasarkan data terkini, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta banjir menjadi dua bencana yang paling sering terjadi dan paling berdampak signifikan terhadap masyarakat. Memahami mekanisme dan wilayah rawan menjadi kunci utama dalam membangun ketangguhan menghadapi bencana.
Sepanjang tahun 2025, Kalimantan Tengah saja telah mencatat 543 kejadian bencana. Rinciannya jelas menunjukkan tren yang mengkhawatirkan: karhutla mendominasi dengan 487 kejadian, disusul banjir sebanyak 43 kejadian . Pola serupa terlihat dalam laporan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), di mana bencana hidrometeorologi basah seperti banjir dan tanah longsor, serta bencana kekeringan dan karhutla, mendominasi laporan mingguan .
Baca juga: Kalimantan Bergerak: Mengungkap Perjalanan Tektonik Pulau Borneo
Berikut adalah data sebaran bencana di Kalimantan Tengah per Juni 2025:
Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla): 84 kejadian
Kerentanan Kalimantan terhadap bencana ini dipicu oleh faktor alam dan aktivitas manusia. Secara geografis, Indonesia memiliki iklim tropis dengan perubahan cuaca, suhu, dan angin yang cukup ekstrem . Curah hujan tinggi yang berpotensi meningkat akibat perubahan iklim menjadi pemicu utama banjir dan tanah longsor.
Di sisi lain, kerusakan lingkungan memperparah situasi. Aliht fungsi hutan secara masif, seperti untuk perkebunan, mengurangi kemampuan tanah menyerap air. Pakar lingkungan menyoroti bahwa deforestasi memiliki dampak jangka panjang yang serius, termasuk meningkatnya risiko bencana alam. Untuk karhutla, musim kemarau panjang membuat lahan, terutama gambut yang sudah dikeringkan, menjadi sangat rentan terbakar, baik secara alami maupun akibat pembakaran ilegal .
Baca juga: Kalimantan Selatan Siaga Hadapi Musim Hujan yang Datang Lebih Awal
Di tengah ancaman hidrometeorologi, terdapat kabar baik. Berdasarkan data BMKG, Pulau Kalimantan merupakan wilayah dengan tingkat aktivitas gempa bumi terendah di Indonesia. Hal ini disebabkan oleh jumlah struktur sesar aktif yang lebih sedikit dan lokasinya yang cukup jauh dari zona tumbukan lempeng tektonik. Meski demikian, langkah mitigasi tetap diperlukan, khususnya untuk masyarakat di wilayah pesisir yang berhadapan dengan sumber gempa dari laut.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: BNPB, BMKG, BNPD