Pemandangan titik air hujan ke tanaman (Pinterest/Marie Perkins)
KALSEL - Sebagian wilayah di Kalimantan Selatan perlahan-lahan tenggelam. Fenomena land subsidence atau penurunan muka tanah ini bukan lagi prediksi, melainkan kenyataan yang terukur oleh teknologi satelit. Di titik-titik tertentu seperti Landasan Ulin, Banjarbaru, laju penurunannya bisa mencapai sekitar 5 centimeter per tahun. Angka yang tampaknya kecil ini, ketika terakumulasi selama puluhan tahun, telah mengubah wajah pesisir dan meningkatkan kerentanan terhadap banjir.
Penurunan tanah terjadi melalui mekanisme yang kompleks, dengan aktivitas manusia sebagai pemicu utama.
Eksploitasi Air Tanah dan Sumber Daya: Ketika air tanah, minyak, atau gas diekstraksi secara berlebihan, tekanan air dalam pori-pori batuan dan sedimen di bawah tanah berkurang. Ini menyebabkan butiran tanah semakin tertekan dan memadat, sehingga permukaan tanah di atasnya ambles . Ini adalah penyebab utama penurunan tanah di banyak kota delta dunia seperti Jakarta dan New Orleans.
Baca juga: Kalimantan di Ujung Tanduk: Banjir dan Kebakaran Lahan Mendominasi Ancaman Bencana
Degradasi Lahan Gambut: Kalimantan Selatan memiliki luas gambut yang signifikan. Ketika gambut dikeringkan untuk konversi lahan, material organiknya teroksidasi dan menyusut. Proses ini menyebabkan kompaksi dan penurunan permukaan yang bersifat permanen. Yang mengkhawatirkan, subsidence di lahan gambut juga melepaskan gas rumah kaca, mempercepat perubahan iklim .
Peran Perubahan Iklim: Kenaikan muka air laut secara global tidak secara langsung menyusutkan daratan, tetapi efeknya sangat sinergis. Kombinasi antara daratan yang turun dan permukaan laut yang naik secara drastis mempercepat frekuensi dan perluasan banjir rob.
Dampak fisik dan sosial dari penurunan tanah ini sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Banjir Rob yang Semakin Meluas: Daerah yang dahulu hanya banjir saat badai besar, kini dapat tergenang air laut hanya karena pasang biasa. Banjarmasin, sebagai kota sungai di hilir, telah lama melaporkan masalah rob yang meluas ke banyak kelurahan . Infrastruktur seperti jalan, saluran pembuangan, dan fondasi rumah terancam rusak lebih cepat.
Baca juga: Kalimantan Selatan Siaga Hadapi Musim Hujan yang Datang Lebih Awal
Intrusi Air Laut dan Kerusakan Ekosistem: Air asin masuk ke dalam akuifer air tawar, mengancam sumber air bersih dan irigasi. Ekosistem pesisir seperti mangrove juga terdegradasi, mengurangi perlindungan alami dari gelombang dan badai serta menurunkan hasil perikanan .
Meski kompleks, beberapa langkah mitigasi terbukti efektif.
1. Pengelolaan Air Terpadu: Mengurangi ketergantungan pada air tanah dengan memperbaiki pasokan air permukaan dan mendorong konservasi air adalah kunci .
2. Restorasi Gambut: Rewetting atau pembasahan kembali lahan gambut penting untuk menghentikan oksidasi dan subsidence, sekaligus mencegah kebakaran lahan .
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Global Land Subsidence, Deltares, SOIL SCIENCE ANNUAL, Noorkomala Sari Et Al.