Pakaian khas suku dayak (Pinterest/Myisha haura Channel)
KALSEL - Masyarakat suku Dayak, penghuni asli Pulau Kalimantan, dikenal dengan kekayaan budaya dan keberagaman fisik yang memesona. Salah satu ciri yang sering menarik perhatian adalah variasi warna kulit, di mana beberapa individu memiliki kulit yang tampak lebih cerah.
Fenomena ini bukanlah keseragaman, tetapi sebuah mozaik rumit yang dirajut oleh sejarah perjalanan manusia, percampuran genetika, dan adaptasi lokal selama ribuan tahun.
Sejarah panjang migrasi manusia membentuk fondasi genetika populasi Dayak. Kajian genetika populasi mengungkapkan bahwa nenek moyang suku-suku di Borneo, termasuk Dayak, merupakan bagian dari gelombang migrasi besar penutur bahasa Austronesia. Kelompok ini membawa serta susunan genetika tertentu yang menjadi dasar keragaman fisik masyarakat lokal.
Baca juga: Mengungkap Asal-usul Nama Borneo: Dari Kesultanan Brunei hingga Peta Dunia
Namun, komposisi genetika ini tidaklah statis. Percampuran (admixture) antar kelompok berbeda dalam lintasan sejarah—baik antara sub-suku Dayak sendiri maupun dengan kelompok dari luar Kalimantan—telah menciptakan variasi yang luas .
Inilah yang menjelaskan mengapa dalam satu suku yang sama, dapat ditemukan spektrum warna kulit yang beragam, karena setiap sub-kelompok atau keluarga mungkin memiliki sejarah percampuran genetik yang unik.
Penampakan kulit yang lebih cerah tidak serta-merta menandakan percampuran dengan populasi dari luar Nusantara. Ilmu genetika modern memperkenalkan konsep evolusi konvergen, di mana populasi yang berbeda secara geografis dapat mengembangkan ciri fisik yang mirip melalui jalur genetik yang berbeda sama sekali.
Artinya, varian gen yang memengaruhi pigmentasi pada populasi Dayak bisa jadi merupakan hasil adaptasi lokal yang unik di Kalimantan, bukan warisan dari nenek moyang yang berjarak ribuan kilometer. Proses ini diperkuat oleh efek fondasi (founder effect) dan isolasi geografis beberapa komunitas Dayak. Ketika sebuah kelompok kecil yang memiliki frekuensi alel (varian gen) tertentu untuk kulit cerah hidup terisolasi, ciri tersebut dapat menjadi lebih menonjol pada keturunan mereka dibandingkan dengan kelompok Dayak lainnya.
Ketika kita menyebut "cerah" dan "mempesona", kita telah memasuki ranah persepsi budaya yang kompleks. Apa yang dianggap menarik sangat dipengaruhi oleh norma sosial dan estetika lokal. Faktor non-genetik seperti perawatan tradisional menggunakan ramuan alamiah hutan Kalimantan, pola hidup, dan cara berpakaian yang tradisional turut berkontribusi menciptakan kesan visual yang kuat dan harmonis dengan alam.
Dengan kata lain, "kecantikan" yang terpancar adalah perpaduan antara warisan biologis yang dalam dan ekspresi budaya yang kental.
Jadi, kulit bercahaya yang terlihat pada beberapa keturunan Dayak adalah hasil interaksi dari beberapa faktor kunci:
Baca juga: Dayak di Kalimantan Selatan: Merentang Identitas dari Pegunungan Meratus hingga Delta Barito
1. Diversitas Genetika: Warisan dari leluhur Austronesia dan sejarah percampuran populasi yang kaya .
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: MRIN Institute, Hoh Et Al. (2022). The Peopling And Migration History Of The Natives In Peninsular Malaysia And Borneo. Frontiers In Genetics, BBC