Ilustrasi Kerajaan Negara Dipa bahari (Dok. Ilustrasi AI)
KALSEL - Kalimantan sering kali hanya dilihat sebagai paru-paru dunia dengan hutan hujan tropisnya yang lebat. Namun, di balik rimbunnya hijau vegetasi, pulau terbesar ketiga di dunia ini menyimpan narasi peradaban manusia yang begitu panjang dan kompleks, yang bermula puluhan ribu tahun silam.
Jauh sebelum kemegahan kerajaan-kerajaan berdiri, manusia prasejarah telah menjadikan Kalimantan sebagai rumah. Di gugusan karst Sangkulirang-Mangkalihat, Kutai Timur, para arkeolog menemukan kejutan yang mengguncang dunia: lukisan cadas berusia setidaknya 40.000 hingga 52.000 tahun. Gambar banteng liar dan tapak tangan di dinding Gua Lubang Jeriji Saleh ini merupakan salah satu seni figuratif tertua yang pernah ditemukan di muka bumi, menunjukkan bahwa masyarakat awal Kalimantan sudah memiliki ekspresi artistik yang tinggi.
Yang lebih menakjubkan lagi, sebuah penemuan di Gua Liang Tebo tidak jauh dari sana mengungkap kecanggihan lain. Kerangka seorang pemburu-pengumpul muda berusia 31.000 tahun menunjukkan bukti amputasi bedah yang berhasil. Analisis tulang membuktikan bahwa individu tersebut bertahan hidup bertahun-tahun setelah operasi rumit itu, menunjukkan adanya pengetahuan anatomi dan perawatan komunitas yang sangat maju pada zaman es.
Baca juga: Rahasia di Balik Kulit Bercahaya Suku Dayak: Menelusuri Jejak Genetika dan Sejarah
Sementara itu, di bagian utara pulau, tepatnya di Gua Niah, Sarawak, penelitian mengungkap jejak berkelanjutan kehidupan manusia selama puluhan ribu tahun.
Temuan "Tengkorak Dalam" yang berusia sekitar 35.000 tahun menjadi mata rantai penting pemahaman kita tentang migrasi manusia purba dari Afrika menuju Australasia. Gua-gua ini menjadi saksi bisu bagaimana para penghuninya berburu, mengumpulkan makanan, dan mengembangkan teknologi alat batu dari masa ke masa.
Lompatan besar peradaban terjadi sekitar abad ke-5 Masehi. Di Muara Kaman, Kalimantan Timur, sejarah mencatat sebuah tonggak penting: kemunculan Kerajaan Kutai Martapura. Bukti keberadaannya terpahat pada tujuh buah Prasasti Yupa—tugu batu yang ditulis menggunakan Aksara Pallawa dan Bahasa Sanskerta.
Baca juga: Menguak Misteri Kerajaan Negara Dipa, Inilah 5 Fakta Menarik yang Jarang Diketahui
Prasasti-prasasti ini tidak hanya menjadi prasasti tertua di seluruh Nusantara, tetapi juga menandai berakhirnya zaman prasejarah. Mereka mengisahkan kemashyuran Raja Mulawarman, cucu dari Kundungga, yang dikenal akan kedermawanannya dengan menyedekahkan 20.000 ekor sapi kepada kaum Brahmana.
Keberadaan Yupa menunjukkan bahwa pada abad kelima, masyarakat di pedalaman Kalimantan telah memiliki sistem pemerintahan kerajaan yang terstruktur dengan raja, kabinet menteri, dan aturan hukum.
Pulau Kalimantan adalah sebuah lembaran sejarah yang tak ternilai. Dari seni purba di dinding gua hingga kemunculan aksara pertama, setiap penemuan arkeologisnya membuka jendela baru untuk memahami kompleksitas perjalanan manusia.
Baca juga: Mengungkap Asal-usul Nama Borneo: Dari Kesultanan Brunei hingga Peta Dunia
eskipun banyak misteri yang masih tersembunyi di balik hutan dan aliran sungainya, satu hal yang pasti: Kalimantan telah lama menjadi pusat peradaban yang hidup dan dinamis, jauh sebelum banyak wilayah lain di Nusantara mencatatkan sejarahnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: The Conversation, Wikipedia, Kaltimkece.id