Peta Indonesia bahari (Pinterest/keajaibandunia.web.id)
KALSEL - Pulau Kalimantan, atau Borneo, menyimpan sebuah narasi yang menggelitik dalam celah-celah sejarahnya: sebuah mitos bahwa pada masa penjajahan, pulau ini "disembunyikan oleh leluhur". Daripada sekadar dongeng, kisah ini mungkin berakar dari strategi bertahan hidup yang cerdas dan direkam dalam memori kolektif masyarakatnya.
Bukti-bukti arkeologis memberikan petunjuk pertama. Kalimantan memiliki jaringan gua dengan lukisan dinding yang tidak hanya berusia puluhan ribu tahun tetapi juga mengandung panel yang relatif muda, sekitar 400 tahun. Periode ini bertepatan dengan meningkatnya kontak dengan kekuatan kolonial Eropa.
Adegan-adegan dalam lukisan gua tersebut sering ditafsirkan sebagai penggambaran konflik atau perjumpaan dengan "orang asing". Ini merupakan bukti visual bahwa masyarakat lokal aktif merekam pengalaman mereka, termasuk kemungkinan upaya perlawanan atau penyembunyian, jauh sebelum catatan sejarah tertulis mendominasi.
Baca juga: Mengungkap Lagu Daerah Kalimantan Selatan yang Hampir Terlupakan
Gua-gua ini sendiri berfungsi lebih dari sekadar kanvas. Dengan rentang penggunaan yang sangat panjang, gua merupakan bagian dari tradisi ruang ritual dan penyimpanan memori. Dalam konteks ancaman, tempat-tempat seperti ini dengan mudah berubah fungsi menjadi tempat perlindungan sementara yang tersembunyi, menjauh dari jalur sungai yang mudah diakses para penjelajah asing.
Dukungan lebih lanjut datang dari arsip-arsip kolonial dan studi etnohistoris. Catatan Belanda dari abad ke-19 dan awal abad ke-20 banyak menceritakan "ekspedisi pemaksaan" (punitive expeditions) ke pedalaman Borneo . Ekspedisi ini bertujuan menundukkan kelompok-kelompok yang menolak kekuasaan kolonial, seringkali dengan cara membakar permukiman dan memaksa perpindahan penduduk.
Namun, di sisi lain, cerita lisan masyarakat Dayak dan Banjar menuturkan kisah yang berbeda. Mereka mengingatnya sebagai masa penggerebekan, pelarian, dan upaya mempertahankan diri. Perbedaan narasi inilah yang melatari mengapa banyak komunitas memilih untuk "menghilang" — mundur lebih dalam ke hutan, berpindah ke daerah yang sulit dijangkau, atau menyembunyikan permukiman mereka . Tindakan praktis inilah yang kemungkinan menjadi benih mitos "penyembunyian pulau" tersebut. Bagi masyarakat setempat, strategi menghindar ini bukanlah bentuk kekalahan, melainkan sebuah perlawanan pasif yang cerdas.
Baca juga: Jejak Sang Naga: Menelusuri Ribuan Tahun Peradaban Kalimantan yang Tersembunyi
Lalu, bagaimana dari strategi praktis ini lahir sebuah mitos yang begitu kuat? Para antropolog menjelaskan bahwa pengalaman kolektif menyembunyikan diri dan barang-barang berharga dari penjajah lambat laun bertransformasi menjadi narasi simbolis. Kisah nyata tentang pengosongan desa dan persembunyian di gua-gua dibingkai ulang menjadi legenda tentang leluhur yang memiliki kekuatan mistis untuk "menyembunyikan" tanah mereka dari musuh.
Beberapa varian lokal mitos ini masih hidup, seperti cerita tentang Kerajaan Nan Sarunai yang disebut-sebut dalam tradisi lisan Dayak Maanyan , atau legenda kota gaib Serandjana. Mitos-mitos semacam ini berfungsi ganda: sebagai mekanisme memori kolektif yang menguatkan identitas kelompok dan sebagai pesan moral tentang ketahanan dan perlawanan. Dalam konteks ini, "disembunyikan oleh leluhur" dapat dimaknai sebagai upaya pelestarian kedaulatan budaya dan fisik dari ancaman luar.
Baca juga: Peta Lapangan Kerja Kalsel: Dari Pertanian hingga Tambang, Di Mana Posisi Anda?
Mitos Kalimantan yang "disembunyikan" leluhur bukanlah sekadar khayalan. Ia adalah echo atau gema dari sebuah strategi perlawanan historis. Mitos ini berakar pada tindakan nyata masyarakatnya yang memilih untuk mundur dan melindungi diri, yang kemudian diabadikan dalam lukisan gua, cerita lisan, dan akhirnya, menjadi bagian dari identitas budaya yang membanggakan.
Dengan demikian, mitos ini adalah bukti nyata dari semangat menjaga kedaulatan yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Wikipedia, Suarakalbar.id, Victor T. King, "The Dayaks: Peoples Of The Borneo Rainforest"