Rumah Adat Banjar, Bubungan Tinggi (Pinterest/arinuno)
KALSEL - Kalimantan Selatan, atau Kalsel, menyimpan kekayaan budaya yang tak ternilai, lahir dari harmoni antara masyarakatnya dengan alam sungai. Tiga warisan budaya—Pasar Terapung, Kain Sasirangan, dan Rumah Bubungan Tinggi—bukan sekadar atraksi, melainkan jiwa yang merepresentasikan kearifan lokal Banjar yang unik dan autentik.
Sebagai "Kota Seribu Sungai", Banjarmasin menghidupkan sebuah fenomena unik: Pasar Terapung. Aktivitas jual-beli ini telah berdenyut sejak era Kesultanan Banjar pada abad ke-16, bahkan mungkin lebih awal, menjadikan sungai sebagai pusat perekonomian . Pasar seperti Lok Baintan di Martapura dan Muara Kuin di Banjarmasin bukanlah destinasi wisata buatan, melainkan tradisi hidup yang berlangsung setiap pagi buta.
Para pedagang, kebanyakan perempuan dengan topi tradisional tanggui, berdayung dengan terampil mengendarai jukung atau klotok (perahu tradisional) . Mereka menjajakan hasil bumi segar, sayuran, dan kuliner khas seperti soto Banjar.
Baca juga: Gimana Kalau Pasar Terapung Buka 24 Jam? Antara Mitos dan Realita
Keunikan yang langka adalah tradisi barter atau bapanduk yang masih bertahan, di mana pedagang saling menukar barang tanpa menggunakan uang . Untuk menyaksikan puncak keramaiannya, pengunjung harus datang selepas salat Subuh hingga pukul 07.00 WITA .
Kain Sasirangan berwarna kuning dengan motif yang beragam (Dok. Ilustrasi AI)Sasirangan adalah kain tradisional khas Banjar yang teknik pembuatannya sangat unik dengan cara dijelujur (dijahit jelujur) dan diikat sebelum dicelup pewarna, menghasilkan motif-motif yang khas . Awalnya, kain ini dipercaya memiliki kekuatan magis untuk pengobatan. Warna kain menentukan khasiatnya; kuning untuk penyakit kuning, merah untuk sakit kepala, dan hijau untuk kelumpuhan .
Seiring waktu, Sasirangan mengalami desakralisasi dan bertransformasi menjadi simbol identitas budaya yang dinamis . Motif-motifnya terinspirasi dari alam dan kehidupan Sungai Barito, seperti Gigi Haruan (gigi ikan gabus), Daun Jaruju, dan Kambang Kacang. Kini, Sasirangan tidak hanya untuk pakaian adat, tetapi juga digunakan dalam produk fashion modern dan bahkan seragam resmi, menunjukkan kelestariannya yang adaptif .
Baca juga: Cerita di Balik Kain Sasirangan Khas Banjar
Melengkapi tritunggal budaya Kalsel adalah Rumah Bubungan Tinggi, arsitektur tradisional yang paling ikonik . Ciri khasnya terletak pada bentuk atapnya yang sangat curam (45 derajat), yang tidak hanya megah secara visual tetapi juga fungsional untuk menyalurkan air hujan tropis dengan cepat .
Pada masa kesultanan, rumah ini merupakan bangunan inti dalam kompleks keraton, tempat tinggal sultan dan keluarganya . Strukturnya yang berbentuk panggung dan memiliki anjung (sayap bangunan) mencerminkan tata sosial masyarakat Banjar.
Meski kini minat membangun rumah ini telah berkurang karena biaya dan modernisasi, nilai budayanya tetap dijunjung tinggi. Rumah Bubungan Tinggi menghiasi lambang daerah dan menginspirasi desain bangunan pemerintah, menjadi pengingat akan warisan arsitektur yang agung.
Baca juga: Rumah Adat Banjar Bubungan Tinggi: Simbol Budaya yang Sarat Makna
Pasar Terapung, Kain Sasirangan, dan Rumah Bubungan Tinggi adalah tiga pilar yang mendefinisikan keunikan Kalimantan Selatan. Mereka adalah bukti nyata dari kearifan lokal masyarakat Banjar yang telah beradaptasi dengan lingkungan sungainya selama ratusan tahun. Melestarikan warisan ini tidak hanya tentang melindungi masa lalu, tetapi juga merangkul nilainya untuk terus hidup dan relevan di masa kini.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Wikipedia, Indonesia Kaya, BorneoHouse.com