Suku dayak dan Suku Banjar yang sedang menari bersama (Pinterest/Albertus Rico)
KALSEL - Di tengah peta dunia, Kalimantan Selatan (Kalsel) menorehkan narasinya sendiri. Provinsi ini tidak hanya dilihat sebagai bagian dari Indonesia, tetapi juga sebagai entitas dengan identitas unik yang menarik perhatian global. Melalui lensa internasional, Kalsel muncul dengan wajah ganda: sebuah permata budaya yang memesona sekaligus wilayah yang menghadapi ujian lingkungan yang kompleks.
Banjarmasin, ibu kota Kalsel, kerap dijuluki "Kota Seribu Sungai". Julukan ini bukan sekadar kiasan, melainkan realitas hidup yang menjadi daya pikat utama. Di antara banyaknya sungai, Pasar Apung Lok Baintan telah menjadi ikon yang mendominasi citra positif Kalsel. Liputan media internasional dan domestik kerap menyorotinya sebagai contoh hidup dari pariwisata budaya yang otentik.
Pemandangan ratusan perahu berjejal di pagi buta, menjadi panggung bagi transaksi jual-beli hasil bumi dan kebutuhan sehari-hari, menciptakan visual yang powerful dan mudah diingat. Aktivitas ini sering dipromosikan sebagai "authentic river market" yang menawarkan pengalaman Borneo yang lebih genuin dibanding destinasi sejenis di tempat lain.
Baca juga: Jejak Lempeng Purba Pontus Ditemukan di Bawah Kalimantan: Membongkar Misteri Bumi yang Hilang
Melangkah lebih jauh, dunia juga mengenal Kalsel melalui Kota Martapura. Sejak zaman kolonial, kota ini telah dikenal sebagai pusat perdagangan dan pengolahan berlian aluvial. Kajian geologi internasional yang diterbitkan di jurnal-jurnal terkemuka telah mengungkap signifikansi geologis Borneo sebagai sumber berlian sejak masa kuno.
Martapura bukan hanya pasar; ia adalah living museum yang merepresentasikan warisan ekonomi kreatif yang berharga. Reputasinya menarik minat kolektor, pedagang permata, dan wisatawan khusus yang ingin menyelami langsung warisan "kota intan" ini, memberikan citra heritage dan kelangkaan pada Kalsel.
Namun, lensa global tidak selamanya berwarna mawar. Kalsel, bersama provinsi lain di Kalimantan, kerap menjadi berita internasional akibat krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kabut asap (haze) yang dihasilkan tidak hanya mencemari udara lokal tetapi juga melintas batas negara, mengganggu kesehatan masyarakat di Malaysia dan Singapura.
Baca juga: Rahasia di Balik Bumi Kalimantan: Mengapa Pulau Ini Begitu Kaya Sumber Daya Alam?
Peristiwa besar karhutla menempatkan Kalsel dalam pemberitaan global yang kritis, menyoroti praktik pembukaan lahan untuk perkebunan skala besar dan pertambangan. Isu degradasi lahan gambut dan dampak industri ekstraktif, seperti batubara, turut membentuk persepsi dunia yang menuntut tanggung jawab dan keberlanjutan.
Dunia memandang Kalsel dengan kacamata yang kompleks. Di satu sisi, terdapat kekaguman pada warisan budaya sungai dan permata yang tak ternilai. Di sisi lain, terdapat keprihatinan mendalam terhadap kelestarian lingkungannya. Masa depan citra Kalsel di mata internasional sangat bergantung pada kemampuannya menavigasi dua kutub ini.
Penguatan pariwisata budaya yang berkelanjutan, transparansi dan pemberdayaan dalam rantai nilai berlian, serta komitmen nyata dalam restorasi lingkungan dan pencegahan karhutla adalah kunci untuk membentuk narasi yang lebih seimbang dan membangun reputasi yang positif dan berkelanjutan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: ScienceDirect, Reuters, ANTARA