Peta Indonesia bahari (Pinterest/keajaibandunia.web.id)
KALSEL - Sebelum era satelit dan GPS, peta kuno menjadi saksi bisu evolusi pengetahuan manusia tentang dunia. Untuk Kalimantan Selatan, perjalanan pemetaannya mencerminkan bukan hanya kemajuan teknis kartografi, tetapi juga narasi eksplorasi, perdagangan, dan kolonialisme Eropa di Nusantara. Artikel ini menelusuri transformasi penggambaran Kalimantan Selatan dalam peta-peta dari abad ke-16 hingga ke-19.
Pada abad ke-16, pengetahuan Eropa tentang Asia Tenggara masih diliputi misteri dan legenda. Peta-peta awal masih sangat dipengaruhi warisan Ptolemaeus, di mana pulau-pulau besar seringkali salah diidentifikasi. Taprobana, sebuah nama yang disebut oleh penulis Romawi seperti Plinius, awalnya dikira sebagai Sri Lanka atau Sumatra, tetapi penelitian terbaru oleh Dhani Irwanto (2015) justru menunjukkan bahwa Taprobana mungkin merujuk pada Kalimantan .
Pada 1596, kartografer Belanda Henricus van Langren menerbitkan peta dunia dalam Itinerario-nya. Peta ini, yang berdasarkan pada koleksi Jan Huygen van Linschoten, menampilkan Borneo dengan bentuk yang sudah "cukup dikenali", meskipun Pulau Jawa masih tergambar terlalu besar . Namun, pantai timur Kalimantan masih menjadi terra incognita (daerah yang belum diketahui) karena para pelaut menghindari rute tersebut.
Baca juga: Jejak Lempeng Purba Pontus Ditemukan di Bawah Kalimantan: Membongkar Misteri Bumi yang Hilang
Memasuki abad ke-17 dan ke-18, hegemoni Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) mendorong pemetaan yang lebih detail dan akurat. Peta menjadi alat vital untuk monopoli perdagangan rempah dan kontrol kolonial.
Ekspedisi keliling dunia Olivier van Noort (1602) menghasilkan peta "BORNEO INSULA" yang berorientasi timur (utara di sisi kiri). Peta ini menggabungkan data dari pelayaran Belanda 1595-1597 untuk bagian selatan dan data dari peta Plancius (1592-1594) untuk bagian utara. Titik penting seperti Teluk Brunei dicatat, tetapi pantai timur tetap kosong dan bertanda "belum ditemukan" .
Kemajuan signifikan terlihat pada karya François Valentijn (1724–1726) dalam atlasnya Oud en Nieuw Oost-Indiën. Peta Borneo-nya masih berorientasi timur, tetapi sudah membagi pulau ke dalam kesultanan-kesultanan lokal. Bandarmasih (Banjarmasin) ditandai sebagai pusat penting di selatan. Peta ini tidak hanya berfungsi navigasi tetapi juga sebagai penanda klaim wilayah dan pengaruh VOC.
Baca juga: Rahasia di Balik Bumi Kalimantan: Mengapa Pulau Ini Begitu Kaya Sumber Daya Alam?
Abad ke-19 menandai era kartografi kolonial modern. Peta tidak lagi untuk sekadar navigasi tetapi untuk administrasi dan eksploitasi sumber daya secara sistematis. Bentuk Pulau Kalimantan dalam peta sudah hampir mirip dengan peta modern berkat survei hidrografi dan topografi yang lebih ilmiah.
Kerajaan Banjar telah sepenuhnya menjadi bagian dari Hindia Belanda. Peta-peta era ini mulai memuat detail administrasi kolonial seperti pembagian residensi (e.g., Resort Zuidkali), kota Banjarmasin sebagai pusat pemerintahan, serta informasi topografi seperti kontur Pegunungan Meratus dan aliran Sungai Barito . Pemetaan sungai-sungai besar seperti Barito dan Martapura menjadi crucial untuk transportasi dan penguasaan wilayah.
Peta-peta kuno ini tidak hanya dokumen geografis tetapi juga karya seni dan propaganda. Elemen visual seperti kartouche (bingkai judul hiasan), kompas angin dekoratif, ilustrasi kapal layar, fauna eksotis, bahkan gambar penduduk lokal (seperti dalam peta "Asia à figures" Blaeu 1635) memperkaya visual .
Baca juga: Pesona Geologi Meratus: Mengungkap Misteri Batu Tua di Kalimantan
Transliterasi nama-nama lokal juga beragam, seperti Sungai Barito yang kadang disebut "Baracus" dalam bahasa Latin. Orientasi peta yang tidak selalu utara-atas (seperti pada karya Van Langren dan Valentijn) menunjukkan bahwa standar kartografi masih dalam tahap perkembangan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Atlantis Java Sea Blog, Google Arts & Culture, Library Of Congress Blog