Rumah Adat Banjar, Bubungan Tinggi (Pinterest/arinuno)
Rumah Adat Banjar Bubungan Tinggi bukan sekadar bangunan tempat tinggal, melainkan mahakarya arsitektur yang menyimpan filosofi mendalam tentang kehidupan, kosmologi, dan hierarki sosial masyarakat Banjar. Sebagai ikon budaya Kalimantan Selatan, rumah ini menjadi cerminan nilai-nilai luhur yang diwariskan sejak era Kesultanan Banjar.
Atap yang Menjulang: Martabat dan Kosmologi
Salah satu ciri khas Bubungan Tinggi adalah atapnya yang curam, dengan kemiringan sekitar 45 derajat. Dalam budaya Banjar, atap ini bukan hanya solusi teknis untuk menyalurkan air hujan, melainkan juga simbol status sosial dan spiritual. Atap yang menjulang tinggi melambangkan martabat pemiliknya—biasanya kalangan bangsawan atau kerabat kerajaan—sekaligus merepresentasikan Pohon Hayat, lambang kosmis yang menghubungkan dunia atas dan dunia bawah.
Baca juga: Tari Radap Rahayu Jadi Simbol Keselamatan dan Keindahan Budaya Banjar
Selain itu, bentuk atap ini juga dianggap sebagai payung kebangsawanan, mengingat payung kuning kerap digunakan sebagai atribut kerajaan. Dalam filosofi Banjar, atap yang tinggi mencerminkan orientasi kekuasaan ke atas, sekaligus perlindungan dari Yang Maha Kuasa.
Dwitunggal Semesta: Harmoni Alam Atas dan Bawah
Rumah Bubungan Tinggi sarat dengan simbol-simbol yang menggambarkan kepercayaan kosmologi Banjar. Ukiran naga dan burung enggang yang menghiasi dinding dan tiang rumah bukan sekadar hiasan, melainkan representasi Dwitunggal Semesta—persatuan antara alam bawah (dunia materi) dan alam atas (dunia spiritual).
Konsep ini juga terlihat dalam pembagian ruang vertikal:
Simetri dan Keseimbangan: Refleksi Sistem Pemerintahan
Baca juga: Cerita di Balik Kain Sasirangan Khas Banjar
Struktur rumah ini didesain dengan simetri sempurna, mencerminkan keseimbangan dalam tata pemerintahan Kesultanan Banjar. Anjung kanan dan kiri ibarat dua tangan yang seimbang, sementara delapan tiang utama (Tihang Pitugur) melambangkan delapan menteri dalam sistem kerajaan—empat di kanan (Mantri Panganan) dan empat di kiri (Mantri Pangiwa).
Pembagian ruang yang hierarkis juga menunjukkan tata nilai sosial:
Setiap ukiran di Rumah Bubungan Tinggi memiliki makna tersendiri. Motif daun jaruju, kambang goyang, dan sisik naga melambangkan kesuburan, perlindungan, dan keseimbangan alam. Sementara itu, kaligrafi "Laa ilaaha illallaah" yang kerap ditemukan di Tawing Halat (dinding pemisah) menegaskan pengaruh Islam dalam budaya Banjar.
Baca juga: Lagu Tradisional Kalimantan Selatan Warisan Budaya Banjar Penuh Makna
Sayangnya, rumah adat ini semakin langka akibat arus modernisasi. Namun, upaya pelestarian terus dilakukan, seperti pembangunan replika di kawasan budaya dan integrasi motif Banjar dalam arsitektur kontemporer. Melestarikan Bubungan Tinggi bukan hanya tentang mempertahankan bangunan, tapi juga merawat identitas budaya yang terkandung di dalamnya.
Rumah Bubungan Tinggi adalah mahakarya yang mengabadikan nilai-nilai luhur Banjar—dari kosmologi, hierarki sosial, hingga kearifan lokal. Setiap sudutnya bercerita, setiap ukiran menyimpan doa. Melalui pemahaman akan simbol-simbol ini, kita tidak hanya mengenal arsitektur, tapi juga menghargai warisan budaya yang tak ternilai.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Direktorat Jenderal Kebudayaan, Wikipedia, Suara Milenial, Koropak.co.id