Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Kamis, 14 AGUSTUS 2025 • 12:00 WIB

Mengenal Orang Bukit, Suku Dayak Penjaga Hutan Meratus yang Harmonis dengan Alam

Mengenal Orang Bukit, Suku Dayak Penjaga Hutan Meratus yang Harmonis dengan AlamPakaian khas suku dayak (Pinterest/Myisha haura Channel)

KALSEL – Di balik lebatnya Pegunungan Meratus, Kalimantan Selatan, hidup sekelompok masyarakat yang menyatu dengan alam: Orang Bukit atau Urang Bukit. Mereka adalah sub-suku Dayak yang telah berabad-abad menjadi penjaga hutan, dengan kearifan lokal yang mengajarkan keseimbangan antara manusia dan lingkungan. Artikel ini mengupas identitas, budaya, dan tantangan yang dihadapi oleh komunitas adat ini.  

Siapa Orang Bukit?  

Orang Bukit adalah sebutan kolektif bagi sub-suku Dayak yang mendiami Pegunungan Meratus. Mereka tersebar dari Kabupaten Tapin hingga Kotabaru, hidup secara semi-nomaden dengan rumah panggung yang berpindah sesuai musim tanam . Nama "Bukit" sendiri berasal dari kosakata lokal yang berarti "bagian bawah pohon," melambangkan mereka sebagai cikal bakal masyarakat di wilayah tersebut.

Asal-Usul dan Populasi  

Baca juga: Keunikan dan Makna Mendalam Pernikahan Adat Banjar

Menurut sejarah lisan, Orang Bukit merupakan keturunan Dayak Ma’anyan dan Lawangan yang bermigrasi ke Meratus ratusan tahun lalu. Saat ini, populasi mereka diperkirakan mencapai puluhan ribu jiwa, terbagi dalam berbagai sub-suku seperti Dayak Pitap, Dayak Loksado, dan Dayak Alai . Interaksi dengan masyarakat dataran rendah, seperti suku Banjar, sering terjadi melalui sistem barter hasil hutan dan tekstil .  

Mata Pencaharian yang Berkelanjutan  

Orang Bukit mengandalkan tiga sumber utama penghidupan:  

1. Ladang Berpindah: Mereka menanam padi gogo, jagung, dan ubi dengan sistem fallow (istirahat lahan) selama 6–8 tahun untuk memulihkan kesuburan tanah.  

2. Hasil Hutan Bukan Kayu: Madu, rotan, dan getah karet menjadi komoditas penting, sementara lebih dari 50 jenis tanaman digunakan untuk pengobatan tradisional .  

3. Berburu dan Memancing: Dilakukan dengan aturan adat ketat, seperti larangan berburu saat musim reproduksi hewan .  

Kepercayaan dan Ritual Sakral  

Mereka menganut Kaharingan, kepercayaan animisme yang menghormati roh leluhur dan alam. Salah satu ritual terpenting adalah Aruh Bawanang (upacara padi), yang dilakukan usai panen sebagai bentuk syukur kepada Baunghar (roh tanah) . Bagi mereka, padi bukan sekadar makanan, melainkan perwujudan nenek moyang yang harus dihormati .  

Orang Bukit menerapkan sasi lokal, larangan mengambil hasil hutan di area tertentu untuk memastikan regenerasi ekosistem. Mereka juga membagi hutan menjadi tiga zona:  

  • Katuan Larangan: Wilayah keramat yang dilarang untuk berladang.  
  • Katuan Karamat: Area pemakaman leluhur.  
  • Bakabun Gatah: Kebun karet untuk kebutuhan ekonomi.

Baca juga: Rumah Adat Banjar Bubungan Tinggi: Simbol Budaya yang Sarat Makna

Meski berperan vital dalam pelestarian alam, Orang Bukit menghadapi ancaman:  

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Wikipedia, Geopark Meratus, Scholar.google.co.id

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Mengenal Orang Bukit, Suku Dayak Penjaga Hutan Meratus yang Harmonis dengan Alam

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!