Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Rabu, 30 JULI 2025 • 09:00 WIB

Etika Bertamu dalam Adat Banjar yang Tunjukan Harmoni Kesantunan, Budaya, dan Nilai Islami

  Etika Bertamu dalam Adat Banjar yang Tunjukan Harmoni Kesantunan, Budaya, dan Nilai IslamiTarian Tradisional Kalimantan Selatan, Tari Baksa Kembang (Pinterest/Tina Nareswatie)

Masyarakat Banjar dikenal dengan kekayaan budayanya yang memadukan nilai-nilai Islam dan kearifan lokal. Salah satu aspek yang menonjol adalah etika bertamu, yang tidak sekadar formalitas, tetapi mencerminkan penghormatan, solidaritas, dan keramahan. Berdasarkan penelitian dari Kemdikbud, praktik adat pernikahan, dan dokumentasi Dinas Kebudayaan Banjar, tradisi ini memiliki pola unik yang layak dipelajari.  

1. Sambutan Hangat: Dari Bahasa hingga Suguhan
Menurut penelitian "Strategi Kesantunan saat Menerima dan Bertamu dalam Masyarakat Banjar", tuan rumah menggunakan penanda solidaritas seperti sapaan "kawan" atau "sahabat" untuk menciptakan keakraban . Suguhan minuman dan makanan ringan—seperti teh tawar atau kue tradisional—menjadi simbol keramahan. Uniknya, tamu diajak terlibat dalam percakapan dengan pujian dan humor halus, sementara ketidaksesuaian dihindari untuk menjaga harmoni .  

Baca juga: Tarian Baksa Kembang yang Simbolkan Keanggunan Budaya Banjar dari Gerakannya

Dalam acara resmi seperti pernikahan, gotong royong menjadi ciri khas. Keluarga dan tetangga bahu-membahu melayani tamu, sementara tuan rumah fokus pada interaksi langsung. "Tamu adalah prioritas, bahkan disambut dengan tari Baksa Kembang atau musik panting sebagai bentuk penghormatan," seperti dicatat Dinas Kebudayaan Banjar .  

2. Tata Krama Percakapan: Santun dan Penuh Perhatian
Kesantunan berbahasa sangat dijunjung. Tamu diapresiasi melalui pujian—misalnya tentang kebersihan rumah atau keramahan tuan rumah—sementara kritik disampaikan secara tidak langsung. Humor digunakan untuk mencairkan suasana, tetapi tetap menjaga kesopanan .  

Sebelum meninggalkan rumah, tamu biasanya diantar hingga pintu gerbang. Ritual ini menegaskan bahwa penghormatan tetap berlaku hingga akhir kunjungan.  

Baca juga: Mamanda: Seni Teater Tradisional Kalsel

3. Nilai Budaya yang Mendasari  
Etika bertamu Banjar tidak lepas dari nilai Islam dan solidaritas komunal. Misalnya, tradisi madihin (puisi tradisional) atau pertunjukan mamanda sering diselipkan untuk memuliakan tamu . Selain itu, sikap rendah hati tamu—seperti menolak suguhan secara halus dengan kata "mpun"—menunjukkan keseimbangan antara keramahan dan kesopanan .  

Etika bertamu adat Banjar adalah cerminan dari budaya yang menghargai hubungan sosial, seni, dan spiritualitas. Dari sapaan hangat hingga suguhan seni, setiap detail dirancang untuk membuat tamu merasa dihargai. Bagi yang ingin mempelajari lebih dalam, sumber-sumber seperti Kemdikbud, dokumentasi adat pernikahan, dan arsip Dinas Kebudayaan Banjar bisa menjadi rujukan autentik.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Kemdikbud, Dinas Kebudayaan Dan Pariwisata Banjar, IlmuSeni.com

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Etika Bertamu dalam Adat Banjar yang Tunjukan Harmoni Kesantunan, Budaya, dan Nilai Islami

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!