William Kay Blacklock 1872-1924 sedang menatap bayi (Pinterest/Joycemtait)
KALSEL - Baayun Maulid adalah tradisi unik dari Kalimantan Selatan yang mengundang decak kagum. Dalam ritual ini, puluhan ayunan berwarna-warni dihias dengan janur berbentuk burung dan ular, kemudian diisi oleh anak-anak hingga orang tua yang diayun sambil mendengarkan syair-syair Islami. Ini bukan sekedar festival biasa, melainkan sebuah ritual turun temurun yang sarat makna.
Awalnya, tradisi ini berasal dari masyarakat Banjar di Desa Banua Halat, Tapin, dengan nama Aruh Ganal - sebuah prosesi untuk memanggil roh leluhur demi melindungi anak-anak. Namun seiring masuknya Islam, ritual ini mengalami transformasi total.
Kini, setiap tanggal 12 Rabiul Awal, masyarakat berkumpul untuk mengayun anak-anak sambil melantunkan syair pujian untuk Nabi Muhammad seperti Al-Barzanji atau Al-Habsy. Yang menarik, peserta ritual ini tidak terbatas pada anak-anak saja. Pada tahun 2024, tercatat ada kakek berusia 80 tahun yang turut serta dalam ritual ini.
Baca juga: Tahukah Kamu? Ini Dia Julukan Unik Kota Kota di Kalimantan Selatan
Perlengkapan ritual ini sangat khusus. Ayunan menggunakan kain tiga lapis: lapisan atas dari sasirangan (kain khas Banjar), lapisan tengah berwarna kuning, dan lapisan bawah dari kain bahalai yang tanpa jahitan.
Hiasannya pun unik, terbuat dari janur yang dibentuk menjadi ular, burung, hingga ketupat, dilengkapi dengan kue tradisional seperti cucur dan pisang. Ada juga piduduk atau sesaji yang berisi beras, garam, jarum, benang, dan uang receh - semuanya merupakan simbol harapan agar anak tumbuh mandiri dan diberkahi rezeki yang melimpah.
Ritual ini telah berkembang menjadi semacam pesta rakyat. Bayangkan ribuan orang datang, mulai dari bayi yang baru lahir hingga para orang tua, semua antri untuk diayun. Suasana menjadi semakin meriah dengan lantunan shalawat dan aroma wadai khas Banjar. Di sini, budaya dan agama menyatu secara alami tanpa paksaan.
Baca juga: Cerita di Balik Kain Sasirangan Khas Banjar
Keunikan tradisi ini telah diakui secara nasional sebagai Warisan Budaya Tak Benda. Artinya, bukan hanya warga Kalimantan Selatan yang menjaga tradisi ini, tetapi seluruh Indonesia turut melestarikannya.
Bagi masyarakat Banjar, Baayun Maulid lebih dari sekedar ritual. Ini adalah bentuk doa bersama yang diwariskan oleh nenek moyang. Mereka percaya bahwa ayunan ini tidak hanya menenangkan anak, tetapi juga menjadi penghubung antara harapan orang tua dan berkah dari Yang Maha Kuasa.
Bagi para traveler yang berkunjung ke Kalimantan Selatan saat perayaan Maulid Nabi, jangan hanya berfokus berbelanja di Martapura. Sempatkanlah mampir ke Banua Halat untuk menyaksikan langsung keunikan tradisi yang memesona ini.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Media Indoensia, Antara News, PariwisataIndonesia.id