Dayak di Kalimantan Selatan: Merentang Identitas dari Pegunungan Meratus hingga Delta Barito
Sekilas tentang Pembagian Sub-Etnis Dayak di Kalsel
Berdasarkan data statistik dan kajian budaya, setidaknya terdapat beberapa kelompok masyarakat Dayak yang signifikan di Kalimantan Selatan. Populasi suku Dayak (non-Banjar) di Kalsel menurut sensus tahun 2000 mencapai 35.838 jiwa, dengan konsentrasi terbesar di Kabupaten Kotabaru (14.508 jiwa).
Dayak Bakumpai banyak mendiami kawasan Barito Kuala dan merupakan contoh menarik dari dinamika identitas "Dayak Muslim". Mayoritas masyarakat Bakumpai telah memeluk Islam, sementara tetap mempertahankan identitas kedayakannya. Bahasa sehari-hari yang digunakan pun mengalami pergeseran, di mana generasi muda lebih sering menggunakan bahasa Banjar dibandingkan bahasa Bakumpai asli.
Baca juga: Dayak dan Banjar: Dua Saudara Kandung dengan Identitas Berbeda di Kalimantan
Sementara itu, Dayak Meratus (atau yang dulunya sering disebut Dayak Bukit) menghuni sepanjang Pegunungan Meratus. Kelompok ini masih memegang teguh kepercayaan tradisional Kaharingan, yang berarti "kehidupan" dan menekankan keharmonisan dengan alam. Sistem kepercayaan ini diwujudkan dalam ritual seperti Aruh Ganal, yang terdiri dari beberapa tahapan terkait siklus pertanian padi.
Dayak Meratus sendiri terbagi lagi menjadi berbagai sub-kelompok seperti Dayak Pitap (di Balangan), Dayak Loksado, Dayak Paramasan, dan lainnya yang tersebar di beberapa kabupaten.
Dayak Meratus: Penjaga Kearifan Pegunungan Meratus
Bagi Dayak Meratus, hutan bukan sekadar sumber ekonomi, tetapi ruang hidup yang menyimpan obat-obatan dan nilai-nilai spiritual. Mereka tinggal dalam unit sosial called umbun, yang biasanya terdiri dari sepasang suami-istri beserta anggota keluarga lainnya. Rumah ritual adat mereka disebut balai, yang berfungsi sebagai tempat pelaksanaan upacara adat.
Baca juga: Mengenal Orang Bukit, Suku Dayak Penjaga Hutan Meratus yang Harmonis dengan Alam
Pengetahuan lokal masyarakat Dayak Meratus dalam mengelola lingkungan terus dipertahankan secara turun-temurun. Namun, kearifan ini menghadapi tantangan serius dari berbagai tekanan, termasuk rencana pembukaan tambang dan konversi hutan yang mengancam kelestarian wilayah adat mereka.
Dinamika Kontemporer dan Tantangan
Isu pengakuan hak atas tanah ulayat menjadi persoalan krusial bagi masyarakat Dayak di Kalsel. Baru-baru ini, masyarakat adat Dayak Meratus menolak rencana pemerintah menjadikan kawasan Pegunungan Meratus sebagai Taman Nasional. Mereka khawatir kebijakan ini akan membatasi akses mereka terhadap sumber daya alam dan mengabaikan sistem pengelolaan hutan adat yang telah berlangsung ratusan tahun.
Radeng Rafiq Wibisono dari Walhi Kalsel menyatakan bahwa lebih dari 52% wilayah yang diusulkan menjadi Taman Nasional Meratus merupakan wilayah adat. Penolakan ini berdasarkan kekhawatiran bahwa penetapan Taman Nasional akan mengakibatkan masyarakat adat terusir dari wilayah leluhurnya.
Baca juga: Beras Adan dari Dataran Tinggi Krayan, Ditanam Turun-temurun Oleh Masyarakat Dayak Lundayeh
Dinamika identitas keagamaan juga menjadi warna tersendiri. Sebagian komunitas Dayak seperti Bakumpai telah mengadopsi Islam, sementara lainnya seperti Dayak Balangan ada yang menganut Buddha atau tetap mempertahankan Kaharingan. Interaksi yang berlangsung lama dengan masyarakat Banjar telah memengaruhi proses asimilasi budaya dan keagamaan ini.
Keberagaman sub-etnis Dayak di Kalimantan Selatan memperkaya khazanah budaya nusantara. Di balik dinamika identitas dan tantangan yang dihadapi, masyarakat Dayak Kalsel terus berjuang mempertahankan kearifan lokal sambil beradaptasi dengan perubahan zaman.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: BPS Provinsi Kalimantan Selatan, AMAN, Jurnal Akademik "Islamika"