KALSEL - Jika kita bisa mengintip daftar belanja harian keluarga di Kalimantan Selatan (Kalsel), apa yang akan paling sering kita temui? Jawabannya tidak hanya sekadar sembako, tetapi juga cerminan dari budaya, geografi, dan pola konsumsi masyarakat Banjar yang khas.
Berdasarkan analisis data resmi dan tren terkini, barang-barang sederhana yang paling sering dibeli di Bumi Lambung Mangkurat didominasi oleh bahan pangan pokok dan hasil alam setempat.
Beras, sebagai penyangga utama pangan, tentu menempati urutan teratas. Namun, yang menarik adalah preferensi kuat warga Kalsel terhadap beras varietas lokal. Data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kalsel secara konsisten mencatat beras sebagai komoditas penyumbang inflasi, yang menandakan tingginya frekuensi dan volume pembelian. Beras bukan sekadar komoditas, tetapi bagian dari identitas kuliner yang tak tergantikan.
Baca juga: Evolusi Pemetaan Kalimantan Selatan: Dari Taprobana hingga Kartografi Kolonial
Uniknya, protein utama yang mendominasi meja makan warga Kalsel bukanlah daging sapi atau ikan laut, melainkan ikan air tawar. Ikan gabus atau yang akrab disapa haruan, nila, dan patin adalah primadona. Dalam laporan Indeks Harga Konsumen (IHK) BPS Kalsel, nama ikan-ikan ini kerap muncul sebagai pendorong inflasi.
Hal ini mengonfirmasi bahwa ikan air tawar adalah lauk sehari-hari yang paling sering dicari. Ikan haruan, selain lezat, juga memiliki nilai kultural dan dipercaya memiliki khasiat bagi kesehatan, membuatnya menjadi pilihan utama.
Selain duo pangan utama tersebut, pola belanja warga Kalsel juga diisi oleh kebutuhan dapur praktis seperti minyak goreng dan gula pasir, serta protein unggas seperti daging ayam dan telur. Komoditas-komoditas ini menjadi barometer stabilitas harga di tingkat rumah tangga.
Baca juga: Bagaimana Jika Danau Seran: Dari Bekas Tambang Intan ke Portal Misterius Alam Lain?
Fenomena lain yang mencolok adalah posisi rokok kretek (SKT/SKM) dalam daftar belanja. Rokok secara rutin tercatat dalam daftar komoditas penyumbang inflasi BPS. Ini menunjukkan bahwa rokok dianggap sebagai bagian dari pengeluaran rutin sebagian masyarakat, sehingga fluktuasi harganya langsung berpengaruh pada indeks harga konsumen.
Perpaduan Tradisional dan Digital
Tidak hanya di pasar tradisional, geliat belanja barang sederhana juga bergeser ke dunia digital. Data dari platform e-commerce seperti Tokopedia menunjukkan tren peningkatan signifikan transaksi online di wilayah Indonesia Timur, termasuk Kalsel.
Kategori yang banyak dibeli adalah barang-barang rumah tangga sederhana seperti peralatan kamar mandi, fashion muslimah, dan produk kecantikan. Hal ini menunjukkan adaptasi masyarakat yang menggabungkan pola belanja konvensional untuk kebutuhan pangan segar dengan belanja online untuk kebutuhan non-makanan yang praktis.
Apa Arti Semua Ini?
Dominasi ikan air tawar seperti haruan dalam daftar belanja adalah kekhasan Kalsel. Ini adalah cerminan langsung dari kondisi geografisnya yang kaya dengan sungai dan rawa, serta budaya kulinernya yang kuat. Kombinasi antara ketergantungan pada pasar tradisional untuk sembako segar dan adoptasi e-commerce untuk kebutuhan lainnya menggambarkan wajah ekonomi Kalsel yang dinamis.
Dengan memahami pola ini, pelaku usaha, pemangku kebijakan, dan masyarakat dapat lebih memahami alur ekonomi lokal. Bagi para pedagang, ini adalah insight berharga tentang komoditas yang selalu laku. Bagi pemerintah, ini adalah peta untuk menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok. Dan bagi kita semua, ini adalah potret nyata dari kehidupan sehari-hari warga Kalimantan Selatan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: BPS Provinsi Kalimantan Selatan, ANTARA, Tokopedia Blog