Kalimantan Selatan (Kalsel) sedang menghadapi dilema pendidikan yang pelik: membangun hanya satu SMA negeri pada tahun 2025 . Kebijakan ini menuai pro-kontra, terutama dalam hal aksesibilitas, pemerataan kualitas, dan dampak sosio-ekonomi. Bagaimana dampak nyata kebijakan ini terhadap masa depan pendidikan di Kalsel?
Aksesibilitas Siswa: Jarak dan Medan yang Memberatkan
Kondisi geografis Kalsel yang luas dan terjal menjadi tantangan terbesar. Jarak tempuh antar-kabupaten bisa sangat jauh, dengan beberapa rute hanya dapat dilewati perahu. Siswa dari pelosok—seperti wilayah bukit, sungai, atau pulau kecil—harus menempuh perjalanan berjam-jam setiap hari untuk mencapai sekolah pusat.
Keterbatasan infrastruktur jalan dan transportasi di pedalaman menjadi hambatan serius. Tanpa alternatif lokal, banyak siswa rawan putus sekolah atau terpaksa tinggal di asrama, menambah beban biaya dan tekanan psikososial.
Baca juga: Menguak Pola Asuh Khas Kalimantan Selatan: Harmoni Tradisi Banjar, Agama, dan Modernitas
Pemerataan Kualitas: Kota vs. Daerah 3T
Konsentrasi satu SMA berisiko memperlebar ketidaksetaraan. Wilayah kota seperti Banjarmasin dan Banjarbaru lebih mudah mendapatkan guru berkualitas, fasilitas lab, dan program ekstrakurikuler, sementara daerah 3T (tertinggal, terdepan, terluar) makin terpinggirkan.
Studi menunjukkan guru cenderung memilih mengajar di perkotaan, sehingga pedalaman kekurangan tenaga pendidik terampil. Keluarga mampu di kota lebih mudah mengakses pendidikan unggul, sedangkan keluarga di daerah terpencil harus menanggung biaya transportasi atau pindah domisili. Kebijakan ini berpotensi meruntuhkan rasa keadilan pendidikan, di mana modal sosial dan ekonomi menentukan akses pendidikan layak.
Dampak Sosial-Ekonomi: Urbanisasi Paksa dan Kesenjangan Digital
Pemusatan SMA di satu lokasi memicu urbanisasi pendidikan. Keluarga atau remaja terpaksa pindah ke kota demi sekolah, mempercepat migrasi desa-ke-kota dan melemahkan komunitas pedesaan. Fenomena "berdesak ke kota karena sekolah" menambah beban pemukiman kota dan melebarkan kesenjangan kota-desa. Dari sisi teknologi, ketergantungan pada satu sekolah besar mengintensifkan kesenjangan digital. Daerah terpencil Kalsel masih minim koneksi internet dan listrik stabil.
Baca juga: Jika Bahasa Banjar Wajib di Sekolah Kalsel: Meningkatkan Literasi atau Membebani Kurikulum?
Siswa yang tidak tinggal di asrama kesulitan mengikuti pembelajaran digital/hybrid, sementara sekolah induk mengandalkan jaringan kuat. Hal ini memperbesar disparitas pemanfaatan Kurikulum Merdeka berbasis IT .
Efisiensi vs. Beban Fasilitas
Dari sisi efisiensi, satu sekolah besar bisa menampung banyak murid dengan fasilitas terpusat, sehingga ada potensi ekonomi skala. Guru spesialis untuk mata pelajaran jarang dapat ditempatkan, memperluas variasi kurikulum. Namun, beban fasilitas sangat berat: satu gedung menampung puluhan ribu siswa memerlukan guru, ruang kelas, laboratorium, dan fasilitas pendukung yang jauh melebihi kapasitas normal.
Ketiadaan sekolah alternatif berpotensi membuat kapasitas jebol, menurunkan kualitas pengajaran (rasio guru-murid memburuk) dan mengakibatkan kelelahan tenaga pendidik. Pembangunan satu pusat mungkin menghemat pengadaan infrastruktur ganda, tetapi menaikkan biaya transportasi untuk siswa dari ujung provinsi.
Baca juga: Masa Depan Ketenagakerjaan Kalsel: Dari Sektor Tradisional Menuju Era Digital dan Ekonomi Hijau
Dampak pada Kualitas Lulusan
Sekolah besar memungkinkan ketersediaan fasilitas lengkap dan guru ahli, sehingga lulusan berpotensi mendapat pendidikan variatif dan mutakhir. Namun, siswa dari pelosok harus belajar dalam kondisi stres fisik/emosional (tinggal di asrama jauh dari keluarga, menempuh perjalanan panjang), yang bisa menurunkan motivasi dan tingkat kelulusan. Penelitian internasional menunjukkan sekolah kecil memiliki keunggulan tertentu, seperti perhatian personal lebih intens dan kohesi sosial yang kuat. Satu sekolah raksasa berpotensi mengerdilkan aspek-aspek ini, meski meningkatkan sumber daya akademik secara kuantitas.
Studi Pembanding: Pelajaran dari Konsolidasi Sekolah
Dalam studi kasus terpencil, seperti pulau Irlandia, konsolidasi sekolah menyimpan trade-off. Gill & Kelly mencatat bahwa sekolah kecil dianggap tidak bisa memberi kurikulum lengkap, tetapi ukuran kecil memberi keuntungan komunitas.
Konsolidasi seringkali menghasilkan efisiensi biaya dan sumber daya lebih besar, tetapi biaya transportasi naik dan aspek pendidikan mikro (hubungan guru-murid, dukungan lokal) terkurangi.
Baca juga: Mengungkap Pesona Arsitektur Kalsel: Dari Rumah Bubungan Tinggi hingga Adaptasi Modern yang Memukau
Pengalaman ini mengingatkan bahwa memusatkan satu sekolah besar untuk seluruh provinsi dapat memperbaiki beberapa aspek akademis, namun berisiko melemahkan keadilan sosial dan kualitas hidup siswa di daerah terpencil.
Langkah Strategis Pemprov Kalsel
Pemprov Kalsel telah mengambil langkah strategis untuk mengatasi tantangan pendidikan, termasuk revitalisasi pendidikan vokasi dan program Sekolah Rakyat bagi keluarga tidak mampu . Namun, kebijakan satu SMA besar perlu dikaji ulang dengan mempertimbangkan dampak jangka panjang pada aksesibilitas, pemerataan, dan kualitas hidup siswa.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Diskominfo Kalsel, Antara News, Bappeda