Senin, 08 SEPTEMBER 2025 • 12:00 WIB

Maulid Banjar: Simbol Kemanisan yang Menyatu dalam Budaya dan Kehidupan

Author

Sekumpul Martapura (Pinterest/م)

KALSEL – Di jantung Kalimantan Selatan, ketika bulan Rabiul Awal tiba, sebuah tradisi unik mengiringi perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW. Bukan hanya lantunan syair maulid yang menggema, tetapi juga ritual sosial yang sarat makna—di mana gula menjadi simbol yang menghubungkan manusia dengan rasa syukur, harmoni, dan kebersamaan.

Tradisi ini, terutama di daerah seperti Banua Halat (Tapin) dan Barabai (Hulu Sungai Tengah), menunjukkan bagaimana budaya Banjar mengakulturasikan nilai-nilai Islam dengan kearifan lokal.

Gula sebagai Buah Tangan dalam Saruan Maulid

Setiap tahun, masyarakat Banjar menyambut Maulid Nabi dengan penuh sukacita. Salah satu tradisi yang menonjol adalah “saruan”—kunjungan silaturahmi ke rumah-rumah tetangga yang menggelar perayaan. Dalam kunjungan ini, tamu (biasanya pasangan suami-istri) diharapkan membawa 1 kg gula pasir sebagai buah tangan untuk tuan rumah.

Meskipun bukan kewajiban formal, tradisi ini telah mengakar begitu dalam. Tanpa membawa gula, seorang tamu bisa merasa kurang berarti, bahkan menghadapi cercaan halus dari masyarakat sekitar.

Baca juga: Pengaruh Budaya Jawa dalam Budaya Banjar: Akulturasi yang Membentuk Identitas Kalimantan Selatan

Bagi keluarga kurang mampu, tradisi ini kadang menjadi beban. Mereka kerap memilih untuk tidak menghadiri undangan agar terhindar dari rasa malu.

Namun, di balik tekanan sosial ini, tersimpan nilai kebersamaan dan gotong royong yang kuat. Gula bukan sekadar pemanis, tetapi simbol partisipasi dan kepedulian

 Makna Simbolis Gula dalam Budaya Banjar

Dalam konteks budaya Banjar, gula—terutama gula habang (gula merah)—memiliki makna filosofis yang mendalam. Pada upacara adat seperti pernikahan, gula merah termasuk dalam piduduk (seserahan) yang melambangkan harapan agar kehidupan rumah tangga dipenuhi dengan tutur kata dan perilaku yang manis.

Makna ini tidak jauh berbeda ketika gula hadir dalam perayaan Maulid. Ia menjadi doa agar silaturahmi yang terjalin berlangsung harmonis dan penuh kebaikan.

Tradisi Baayun Maulid, yang merupakan akulturasi antara kepercayaan Kaharingan dan Islam, juga menggunakan gula sebagai bagian dari ritual.

Baca juga: Candi Agung Amuntai: Jejak Hindu-Buddha di Kalimantan yang Menyimpan Misteri dan Spiritualitas

Dalam baayun maulid, gula merah adalah salah satu komponen piduduk yang diletakkan di dekat ayunan, bersama beras, telur, dan kelapa. Ini mempertegas perannya sebagai simbol rasa syukur dan harapan bagi anak yang diayun agar kelak meneladani Nabi Muhammad SAW.

Perayaan sebuah festival (Pinterest/Khmer civilization)Perpaduan Unik Budaya Lokal dan Islam

Tradisi membawa gula dalam perayaan Maulid adalah contoh nyata akulturasi budaya dan agama yang harmonis. Masyarakat Banjar tidak hanya mengadopsi nilai-nilai Islam, tetapi juga mempertahankan kearifan lokal yang telah ada sejak zaman nenek moyang.

Sebelum Islam masuk, masyarakat Dayak Kaharingan telah mengenal ritual baayun anak dalam upacara Aruh Ganal. Setelah Islam datang, ritual ini diisi dengan pembacaan syair maulid dan doa-doa Islami, sementara unsur budaya seperti hiasan janur dan seserahan (termasuk gula) tetap dipertahankan.

Di Barabai (HST), tradisi saruan Maulid bahkan telah menjadi event budaya tahunan yang menarik minat ribuan peserta, baik dari dalam maupun luar provinsi. Gubernur Kalsel, Sahbirin Noor, melalui pernyataan resminya, menyebut baayun maulid sebagai kekayaan budaya islami yang harus dilestarikan.

Baca juga: Mengenal Ragam Tipe Orang yang Hadir dalam Acara Maulid di Langgar: Dari Panitia hingga Filantropis

Dilema Sosial di Balik Kemeriahan

Meski indah secara budaya, tradisi membawa gula tidak selalu ringan secara ekonomi. Bagi keluarga dengan penghasilan terbatas, kewajiban tidak tertulis untuk membawa gula setiap kali menghadiri saruan bisa menjadi beban finansial dan psikologis.

Sebagian memilih untuk tidak hadir demi menghindari rasa malu. Ini menunjukkan bahwa tradisi tidak hanya tentang makna simbolis, tetapi juga tentang tantangan dalam praktiknya.

Gula dalam tradisi Maulid Banjar bukan sekadar komoditas, tetapi simbol hidup yang manis dan penuh harmoni. Ia merepresentasikan harapan, rasa syukur, dan kebersamaan masyarakat Banjar.

Namun, penting untuk memastikan bahwa tradisi ini tidak menjadi beban bagi sebagian orang. Dengan pendekatan yang fleksibel dan empatik, nilai-nilai luhur di baliknya dapat terus hidup tanpa mengorbankan kepentingan sosial.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Koran Banjar, Antara News, Diskominfo Kalsel

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU