Jembatan Barito membentang di atas Sungai Barito (Pinterest/Si.Beno zhe)
KALSEL – Kalimantan Selatan (Kalsel) dikenal sebagai "Negeri Seribu Sungai," di mana aliran air menjadi urat nadi kehidupan masyarakat. Dari transportasi hingga sumber ekonomi, sungai-sungai di provinsi ini menyimpan keindahan alam, sejarah, dan budaya yang memikat. Berikut lima sungai terpanjang di Kalsel yang wajib diketahui, lengkap dengan pesona uniknya.
1. Sungai Barito (±1.090 km): Si Raksasa yang Menghidupi
Sungai Barito bukan hanya yang terpanjang di Kalsel, tetapi juga terlebar di Indonesia, dengan muara mencapai 1.000 meter. Membentang sejauh 1.090 km dari Pegunungan Müller hingga Laut Jawa, sungai ini menjadi jalur transportasi utama—kapal besar bisa berlayar hingga 700 km ke hulu.
Selain itu, Barito adalah saksi sejarah migrasi suku Dayak Ma’anyan ke Madagaskar pada abad ke-3 hingga ke-10, yang menjadi cikal bakal penduduk Madagaskar saat ini . Di pagi hari, pemandangan kabut tipis di atas air yang tenang menciptakan panorama memesona, cocok untuk fotografi alam.
2. Sungai Martapura (±600 km): Jantung Budaya Banjar
Sebagai anak sungai Barito, Martapura mengalir sepanjang 600 km dari Kabupaten Banjar hingga bermuara di Banjarmasin. Sungai ini adalah pusat aktivitas tradisional, terutama Pasar Terapung Lok Baintan, di mana pedagang menjual sayur, buah, dan kerajinan tangan dari perahu sejak subuh .
Revitalisasi melalui program "Sungaiku Baiman" (Bersih dan Nyaman) berhasil mengembalikan keindahan Martapura setelah sempat tercemar. Kini, wisatawan bisa menyusuri sungai dengan perahu kelotok, mengunjungi Kampung Biru dan Hijau, atau menikmati kuliner khas seperti Soto Banjar di tepiannya.
3. Sungai Negara (±616 km): Lumbung Padi dan Warisan Kerajaan
Sungai terpanjang kedua di Kalsel ini membentang 616 km dari Pegunungan Meratus hingga Barito Kuala. Lembahnya yang subur menjadi penghasil padi utama, sementara bantaran sungai menyimpan peninggalan Kerajaan Negara Daha dan kampung tradisional Margasari .
Keunikan lain adalah sistem pertanian lebak (sawah pasang-surut) yang mengandalkan aliran sungai. Saat musim kemarau, lahan digunakan untuk bertani, sedangkan di musim hujan, air sungai menggenang secara alami—menciptakan lanskap yang berubah seiring musim.
4. Sungai Tabalong (±45 km): Kontras Alam yang Dramatis
Meski lebih pendek, Sungai Tabalong punya keunikan tersendiri. Terbentuk dari pertemuan dua anak sungai, alirannya dikelilingi rawa air tawar yang dimanfaatkan untuk sawah dan tambak. Di musim hujan, pintu air modern mengendalikan banjir, menciptakan pemandangan yang kontras antara daratan dan genangan air .
Baca juga: Menulis Puisi tentang Sungai Martapura Seperti Menyusun Kata di Atas Riak Kenangan
5. Sungai Jaing (±39 km): Surga Biota Air yang Terjaga
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Wikipedia, Traveloka, Goodstats.id