Selasa, 16 SEPTEMBER 2025 • 07:00 WIB

Mengenang Keceriaan Kalsel 2018: Festival, Sungai, dan Tawa yang Abadi

Author

Pasar Terapung (Pinterest/Beth)

KALSEL – Tahun 2018 di Kalimantan Selatan (Kalsel) menjadi tahun yang penuh warna, tawa, dan kebersamaan. 

Di tengah tantangan lingkungan yang ada, masyarakat Kalsel justru menyuguhkan gelombang kegembiraan melalui berbagai kegiatan budaya dan pariwisata yang meriah. 

Dari festival budaya yang memukau hingga kehidupan sungai yang riuh, suasana keceriaan ini masih dikenang sebagai momen penuh canda tawa yang abadi.

Festival Budaya: Panggung Kolektif yang Merekah

Pada 17-19 Oktober 2018, Festival Budaya Banjar dan Pariwisata Kalsel digelar di kawasan Menara Pandang Banjarmasin. Acara ini menjadi momentum kebanggaan warga Kalsel, terutama karena bersinggungan dengan perhelatan Hari Pangan Sedunia yang dipusatkan di Banjarmasin. 

Baca juga: Kiram Arts Festival Menyatukan Kreativitas Global di Bumi Kalimantan Selatan

Festival ini menampilkan kekayaan seni dan budaya masyarakat Kalsel, dengan stan kuliner khas dari 13 kabupaten/kota, festival kopi Nusantara, lomba masak kreasi daerah, lomba jukung tradisional, serta pagelaran tari dan musik tradisional .

Gubernur Kalsel Sahbirin Noor saat itu menyatakan, "Kalsel adalah provinsi kaya seni dan budaya. Kekayaan itu harus dilestarikan dan dijadikan daya tarik wisata". 

Festival ini bukan sekadar pameran, tetapi ruang di mana warga dari berbagai usia berkumpul, berinteraksi, dan berbagi tawa. Aktivitas seperti lomba jukung tradisional dan pagelaran tari memicu tepuk tangan riuh serta komentar jenaka dari penonton, menciptakan atmosfer yang hangat dan menyenangkan.

Pasar Terapung: Ruang Ekonomi dan Sosial yang Penuh Canda

Pasar Terapung Lok Baintan dan Muara Kuin menjadi simbol kehidupan sungai yang riang dan dinamis. 

Baca juga: 3 Permainan Tradisional Kalsel yang Sudah Jarang Dimainkan

Pada tahun 2018, pasar terapung tidak hanya menjadi pusat ekonomi, tetapi juga ruang sosial yang dipenuhi canda tawa pedagang, wisatawan, dan warga lokal. 

Fahrul Raji, koordinator pedagang Pasar Terapung Lok Baintan, mengungkapkan kegembiraannya atas peningkatan kunjungan wisatawan selama festival berlangsung. "Sudah dua hari ini banyak wisatawan mengunjungi Lok Baintan. Itu sangat menguntungkan," katanya .

Para pedagang dengan perahu jukungnya menawarkan aneka barang, dari hasil pertanian hingga jajanan tradisional, sambil berceloteh dan bercanda dengan pembeli. 

Wisatawan yang mencoba pengalaman baru berbelanja di atas air seringkali terkagum-kagum dan tertawa gembira. Bagi masyarakat Kalsel, pasar terapung adalah lebih dari sekadar destinasi wisata; ia adalah panggung kehidupan sehari-hari yang penuh keakraban.

Kain Sasirangan berwarna kuning dengan motif yang beragam (Dok. Ilustrasi AI)

Sasirangan: Kebanggaan Budaya yang Memersatukan

Baca juga: Cerita di Balik Kain Sasirangan Khas Banjar

Kain sasirangan, sebagai identitas khas Banjar, menjadi pusat perhatian dalam berbagai festival dan kegiatan budaya pada tahun 2018. 

Parade kain sasirangan raksasa serta fashion show yang digelar dalam Banjarmasin Sasirangan Festival (BSF) tidak hanya memamerkan keindahan motif tradisional, tetapi juga menciptakan kebanggaan kolektif bagi warga Kalsel .

Kegiatan ini melibatkan ribuan peserta dari berbagai usia, yang dengan antusias memakai kain sasirangan sambil berpose, bercanda, dan berfoto bersama. 

Bagi pengrajin, momen ini adalah kesempatan untuk memamerkan hasil karya sambil berbagi cerita dan tawa dengan pengunjung. 

Baca juga: Spot Foto Ikonik Di Banjarmasin yang Wajib Dikunjungi!

Festival semacam ini tidak hanya memperkuat identitas budaya, tetapi juga menjadi medium edukasi dan pemasaran produk lokal yang menyenangkan.

Siring P. Tendean di Banjarmasin (Pinterest/Aurora)

Sungai Martapura

Sungai Martapura menjadi latar belakang utama dari segala aktivitas budaya dan pariwisata di Kalsel. Kawasan Siring di tepian Sungai Martapura, misalnya, menjadi destinasi favorit warga lokal maupun wisatawan untuk menikmati suasana sore yang ramai dan menyenangkan. 

Pengunjung bisa menyusuri sungai dengan perahu klotok, menikmati jajanan tradisional, atau sekadar duduk santai sambil menikmati pemandangan .

Lia, seorang pengunjung asal Kalimantan Timur, menggambarkan pengalamannya: "Di sini kalau sore banyak yang jogging, apalagi pas weekend, pagi juga rame banget. Banyak yang datang buat jalan-jalan, lihat pemandangan, atau nyobain susur sungai". 

Baca juga: Generasi Emas Kalsel: Mengenal Para Duta Muda yang Membawa Harum Nama Banua di Kancah Nasional

Kehadiran pedagang UMKM yang menjual makanan tradisional dan oleh-oleh khas seperti kain sasirangan menambah vibrancy kawasan ini, menciptakan atmosfer yang hidup dan penuh tawa.

Tahun 2018 di Kalsel meninggalkan jejak keceriaan yang dalam melalui festival budaya, pasar terapung, dan kehidupan sungai yang dinamis. 

Aktivitas-aktivitas ini bukan hanya sekadar hiburan, tetapi juga menjadi ruang pemersatu yang mempertalikan warga dalam kebahagiaan kolektif. 

Meskipun ada tantangan seperti banjir lokal di beberapa kabupaten, semangat masyarakat untuk bangkit dan bersukacita melalui kegiatan bersama justru menguatkan ketahanan sosial mereka.

Baca juga: Danau-danau Estetik di Kalimantan Selatan: Surga Tersembunyi untuk Spot Foto Ikonik

Mengenang Kalsel 2018 adalah mengenang momen-momen penuh tawa yang tercipta dari kebersamaan, kegembiraan, dan kebanggaan akan budaya lokal. Ini adalah bukti bahwa di balik tantangan, selalu ada ruang untuk canda dan senyuman.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Kompas, Liputan6.com, Jurnalboerneo.com

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU